Berita Belitung Timur

Tanaman Porang Potensial di Belitung Timur, Kadis Pertanian Bilang Ini

Tanaman porang saat ini tengah ramai jadi perbincangan. Bukan tanpa sebab, nilai jual di pasaran terutama ekspor sangat menjanjikan.

Penulis: Bryan Bimantoro | Editor: Khamelia
Andri M Dani/Tribun Jabar
Petani menunjukkan umbi-umbian porang (Amorphophalus muelleri) yang dipanen di Blok Purut, Dusun Cikatomas, Desa Handapherang, Cijeungjing, Ciamis, Sabtu (30/5). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Tanaman porang saat ini tengah ramai jadi perbincangan. Bukan tanpa sebab, nilai jual di pasaran terutama ekspor sangat menjanjikan. Peluang ini diyakini bisa ditangkap dan dimanfaatkan untuk mengembangkannya di Belitung Timur.

Plt Kepala Dinas Pertanian Belitung Timur Trijaka Priono mengatakan pengembangan porang di Belitung Timur cukup potensial. Dia bilang animo masyarakat biasanya dengan ada komoditas baru dan harga yang tinggi akan langsung berbondong-bondong.

"Tapi hambatan pasti ada, salah satu hambatannya adalah ketersediaan lahan yang cocok untuk budidaya porang. Apalagi sampai saat ini, penataan ruang dan wilayah belum sepenuhnya selesai. Setelah selesai baru nanti bisa dihitung potensi lahannya," kata Trijaka Priono, Jumat (20/8/2021).

Sama dengan budidaya tanaman lainnya, porang yang berkualitas tentu harus dikelola oleh SDM yang baik pula. Pengolahan lahan, bibit, dan perawatan sampai proses panen menjadi kunci keberhasilan budidaya porang.

"Porang dikatakan mudah ya mudah, dikatakan sulit kalau belum pernah ya sulit," ujar Jaka.

Jaka menuturkan tanaman porang dapat diolah menjadi makanan pokok seperti beras. Harganya bisa mencapai Rp60 ribu-Rp80 ribu per kilogram di pasaran lokal. Sedangkan di pasar ekspor, Jaka bilang per kilonya dihargai sekitar Rp 240 ribu - Rp 260 ribu.

Dengan harga itu, dikatakannya para petani porang bisa meningkatkan ekonominya. Namun demikian, Jaka mengingatkan bahwa kualitas dan standar harus diperhatikan. Karena untuk bisa masuk pasar ekspor harus ada standar yang dipenuhi, misalnya tidak mengandung pestisida alias harus organik.

Jaka bilang tanaman porang sama dengan tanaman lokal di hutan wilayah Belitung Timur yaitu iles. Namun, ia tetap menyarankan budidaya porang menggunakan bibit unggul yang sudah terbukti.

"Dengan unggul, umbi pasti cepat besar. Kalau tidak unggul, masyarakat akan rugi waktu, belum lagi hasilnya belum tentu bagus," sebut Jaka.

Jaka menambahkan, tugas Pemerintah daerah adalah mempersiapkan sarana prasarana hingga pemasaran jika budidaya porang semakin meluas dan diminati masyarakat. 

"Kita siapkan tekonologinya dan kebijakan ini harus didorong pemda. Kebijakan pemda untuk menghasilkan produk pertanian harus dipikirkan, terutama pemasarannya. Jangan sampai produksi melimpah, harga malah turun," tutup Jaka. (Posbelitung.co/BryanBimantoro)

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved