Profil Tokoh

Sosok Jack Ma, Orang Terkaya di Dunia Asal China, Sekolah Gagal Ini Kisah Suksesnya Dalam Bisnis

Kata kunci yang membuat Jack Ma sukses dalam bisnis hanya kata Jangan Menyerah. Tak terhitung kegagalan yang dialaminya termasuk soal pendidikan

Editor: Hendra
Terkini.id
Jack Ma, Chairman Alibaba Group 

Saat kembali dari perjalanannya ke AS, Ma berhenti menjadi guru dan meluncurkan Chinapages.com, sebuah perusahaan yang membantu membuatkan situs web untuk perusahaan China.

Namun umur China Pages tak berlangsung lama karena ketika itu internet memang masih berupa barang baru di China.

Pendirian Alibaba dan asal namanya

Tak menyerah, Ma bertekad untuk mencoba membuat bisnis internet lainnya. Pada 1999, demam internet mulai melanda pusat bursa Wall Street di AS.

Di sini Ma melihat adanya peluang dan masa depan bagi bisnis internet. Akhirnya ia memanggil 17 orang teman ke apartemennya untuk mendirikan situs jual-beli online yang kemudian ia namai sebagai Alibaba.com ini.

Seluruh temannya yang hadir ketika itu "dipalak" untuk membantu dirinya mendanai situs tersebut.

“Hari itu saya berbicara seperti orang gila,” kenang Ma bercanda.

"Lalu aku berkata, 'Taruh uangmu di atas meja'. Kami mendapatkan 60.000 dollar AS ketika itu. Itu adalah putaran pendanaan kami yang pertama," kata Ma, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari CNBC, Senin (19/4/2021).

Ma menggunakan nama Alibaba karena terinspirasi dari kisah Ali Baba and the Forty Thieves yang mendunia.

Hal ini karena ketika Ma pergi ke AS, setiap orang yang ia tanya tahu tentang kisah Ali Baba ini.

"Apa yang kamu ketahui tentang Alibaba?" tanya Ma kepada sekitar 30 orang.

"Open Sesame" menjadi jawaban yang paling banyak didapatkan Ma.

Di kisah tersebut, "open sesame" jadi kata-kata ajaib yang membawa Ali Baba -sang tokoh utama dalam cerita- akhirnya bisa masuk ke gua yang penuh dengan harta karun.

Agaknya Ma juga ingin situs marketplace yang ia luncurkan bisa mendunia dan membuat siapapun di dalamnya menemukan harta karun.

"Nama Alibaba juga mudah dieja dan terkenal secara global. Jadilah nama, Alibaba - pembuka akses tanpa batas ("open sesame") untuk perusahaan kecil dan menengah," pungkas Ma.

Pada Februari 1999, Ma akhirnya meluncurkan situs marketplace Alibaba.com. Situs ini khusus melayani transaksi jual-beli antar satu perusahaan dengan perusahaan lainnya (business-to-business/B2B).

Untuk bisa menggunakan domain Alibaba.com, Ma harus merogoh kocek hingga 4.000 dollar AS. Visi utama Ma saat itu ialah dirinya ingin membangun ekosistem e-commerce yag memungkinkan pelanggannya bisa melakukan semua aspek bisnis secara online.

"Saya ingin menciptakan satu juta pekerjaan, mengubah lingkungan sosial dan ekonomi China, dan menjadikannya sebagai pasar Internet terbesar di dunia," ungkap Ma.

Jadi miliarder

Setelah enam bulan diluncurkan, Alibaba berhasil menerima investasi senilai 25 juta dollar dari bank investasi AS Goldman Sachs dan perusahaan telekomunikasi Jepang, SoftBank. Pada 2005, Yahoo juga ikut menginvestasikan dana senilai 1 miliar dollar AS ke Alibaba.

Seiring berjalannya waktu, bisnis Alibaba tumbuh besar dan semakin menggurita. Pada 2001, Alibaba meluncurkan situs belanja online, Taobao, hingga situs retail T-mall.

Bisnis Alibaba Group juga akhirnya merambah ke luar platform jual-beli online dengan masuk ke bisnis komputasi awan ( Alibaba Cloud), ekspedisi (AliExpress), pembayaran digital (Ant Group-AliPay), produksi film ( Alibaba Pictures), hingga media (South China Morning Post).

Pada 2014, Alibaba melantai di bursa New York Stock Exchange (NYSE), AS, dengan kode BABA. Ketika itu, penawaran umum perdana Alibaba berhasil mengumpulkan dana senilai 25 miliar dollar AS.

Dengan nilai tersebut, IPO Alibaba disebut-sebut sebagai penawaran umum perdana terbesar sepanjang sejarah bursa NYSE.

IPO itu juga akhirnya menjadikan Ma sebagai salah satu miliarder dunia dan orang terkaya di China. Setelah IPO, perkiraan kekayaan Ma ditaksir mencapai 20,5 miliar dollar AS menurut Investopedia.

Menurut data di situs The Real Billionaires Forbes, kini Ma masih berada di posisi ke-25 sebagai orang paling tajir se-dunia, dengan total kekayaan bersih mencapai 48,9 miliar dollar AS (kira-kira Rp 713,5 triliun).

Sedangkan, nilai kapitalisasi Alibaba saat ini tercatat diangka 645,8 miliar dollar AS atau setara Rp 9.423 triliun, per 16 April 2021 menurut data di situs MacroTrends.

Kunci sukses Alibaba

Kesuksesan Ma mendirikan startup boleh dibilang tak berkaitan dengan kemampuan teknis ataupun kemampuan berbisnis.

"Saya tidak tahu apa-apa tentang teknologi, tentang marketing, bahkan hal-hal legal tentang perusahaan,” kata Ma pada konferensi Viva Tech di Paris, pada  Mei 2019 silam.

Lantas apa yang membuat Ma sukses? Membuat pelanggan dan pegawainya senang agaknya menjadi hal utama di balik kesuksesan Ma membangun Alibaba.

Setelah IPO pada 2014, pria berperawakan kecil itu secara terang-terangan menyebutkan bahwa pelanggan dan pegawai merupakan prioritasdalam menjalankan bisnis. "Kami percaya pelanggan nomor satu, karyawan nomor dua, pemegang saham nomor tiga," ungkap Ma.

Ketika menjalani bisnisnya, Ma juga sering meluangkan waktunya untuk membaca komplain yang ditujukan pada perusahaan. Dengan begitu, ia akan berpikir keras bagaimana bisa memberikan layanan yang lebih baik.

Ma juga berusaha menjadi visioner dengan memandang jauh ke depan. "Ketika kamu percaya pada masa depan, kamu akan mulai melakukannya," kata Ma.

Inilah yang ia bawa ketika memimpin Alibaba dan membuatnya sukses hingga seperti sekarang. Tak ketinggalan, rasa humor juga hal lain yang mendorong kesuksesan Ma dan Alibaba.

Ma bahkan dikenal sebagai pemimpin yang memiliki rasa humor yang tinggi. Ketika perusahaan pertama kali memperoleh keuntungan, Ma diketahui pernah memberi setiap pegawai Alibaba sekaleng mainan Silly String untuk merayakannya.

Ia juga pernah mendorong para pegawainya melakukan handstand saat istirahat untuk meningkatkan energi mereka. Pernah satu saat di acara ulang tahun Alibaba, Ma berpakaian seperti Michael Jackson dan tampil di depan puluhan ribu karyawan Alibaba.

Tak ketinggalan, Ma juga pernah membintangi film pendek Kung Fu berjudul Gong Shou Dao yang diproduksi oleh perusahaannya sendiri. Film ini turut dibintangi oleh pemeran papan atas China seperti Jet Li and Donnie Yen.

Di China, Ma sudah layaknya selebriti. Banyak orang akan menunggu kehadiran Ma untuk tampil atau berbicara di depan mereka.

Tak suka jadi orang kaya

Sejak IPO Alibaba menorehkan sejarah baru, Ma dikenal sebagai salah satu orang terkaya di China, bahkan di dunia. Namun, menurut Ma, menjadi orang kaya itu beban.

"Orang-orang bilang, "Jack, menjadi orang kaya itu bagus". Ya itu bagus, tapi bukan jadi orang terkaya di China," ungkap Ma.

Alasannya, menurut dia, dengan menjadi orang sukses, maka harapan yang dilekatkan orang-orang juga akan semakin tinggi. Ini membuat Ma jadi mengkhawatirkan banyak hal.

Belum lagi, sejak ia dilabeli sebagai orang kaya, ia merasa banyak orang yang mengelilingi dirinya karena termotivasi oleh uang.

Jack Ma sendiri menjabat sebagai CEO Alibaba Group hingga 2013. Kemudian ia menduduki posisi Chairman Alibaba hingga 2019.

Setelah pensiun dari Alibaba, pria berusia 56 tahun ini berencana fokus pada Jack Ma Foundation, sebuah badan amal yang didirikannya pada 2014.

Jack Ma Foundation ini didedikasikan untuk meningkatkan pendidikan, lingkungan, dan kesehatan masyarakat.

Ma juga mengungkapkan, dirinya ingin mengikuti jejak pendiri Microsoft dan sesama miliarder Bill Gates, yang telah berjanji untuk memberikan setidaknya setengah dari kekayaannya selama hidupnya.

Mendadak hilang

Kesuksesan Jack Ma mengembangkan bisnis Alibaba ternyata tidak membuat semua orang senang, terutama bagi pemerintahan komunis China yang memandang perusahaan tersebut sudah teralu besar dan dominan sehingga perlu diregulasi lebih ketat.

Anak perusahaan Alibaba yang bergerak di bidang fintech, Ant Group, mulai mengembangkan bisnisnya ke layanan peminjaman uang jangka pendek.

Pemerintah China menentang ekspansi ini dan meminta AliPay fokus pada bisnis pembayaran online saja. Pemerintah China juga dilaporkan sampai membentuk tim investigasi terkait dugaan praktik anti-monopoli yang dilakukan oleh Alibaba Group.

Ikuti terus informasi menarik lainnya tentang Profil Tokoh

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Profil Jack Ma, Pendiri Marketplace Alibaba yang Ternyata Gaptek", 

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved