Breaking News:

Berita Belitung Timur

Budidaya Jamur Tiram Belitung Perhari Panen 10 Kilogram, Suharno Temukan Formula yang Pas

Berawal dari cari solusi agar biaya produksi jamur tiram lebih murah dan efisien, Suharno Wongso Diharjo (69) malah menemukan formula bibit jamur

Penulis: Suharli | Editor: Khamelia
posbelitung/suharli
Budidaya jamur tiram milik Suharno (69) yang berlokasi di Desa Kacang Butor, tepatnya di dekat pintu masuk tempat wisata Gunung Tajam. Minggu (5/9/2021) 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Berawal dari cari solusi agar biaya produksi jamur tiram lebih murah dan efisien, Suharno Wongso Diharjo (69) malah menemukan formula bibit jamur tiram yang cocok untuk di Belitung.

Sejak tujuh tahun silam Suharno mulai menekuni budidaya jamur tiram di kediaman yang berlokasi di Desa Kacang Butor, tepatnya di dekat pintu masuk tempat wisata Gunung Tajam.

Pensiunan PT BHP itu mengaku awal tertarik budidaya jamur tiram saat dia sedang berkunjung ke Yogyakarta pada 2004 silam, namun dia merealisasikan untuk terjun ke budidaya jamur itu sekitar tahun 2015.

Dia mengatakan bila teringat saat awal-awal mencoba budidaya jamur tiram, ternyata tidak semudah dibayangkan, kalau melihat dari panduan budidayanya sudah benar namun setelah berjalan sekian bulan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

"Ternyata permasalahannya di suhu kelembaban, yang di buku panduan cocoknya mungkin di pulau Jawa, nah kalau di Belitung suhunya berbeda, makanya harus cari formula sendiri," ujarnya kepada posbelitung.co, Minggu (5/9/2021).

"Saya kemudian belajar membuat bibit dari ahli Biotrop, awal medianya kentang. Saat saya coba di Belitung ternyata gagalnya di atas 60 persen. Setelah saya tanya kenapa tidak bisa 100 persen, ternyata kualitas dari kentang. Karena mungkin sudah beberapa hari di luar daerah baru sampai ke sini jadi kualitasnya turun. Jadi saya coba buat bibit sendiri tapi di luar kentang saya coba media jagung baru lah ketemu formulanya," ujarnya.

Dia menjelaskan idealnya jamur juga tumbuh di atas ketinggian 500 Mdpl, sedangkan di Belitung rata-rata hanya ketinggian 400 Mdpl.

Setelah menemukan formula bibit jamur tiram dari media jagung tersebut, hingga saat  formula itu lah yang digunakannya untuk budidaya jamurnya.

Perkilogram jamur tiram, menurutnya dihargai Rp60.000 perkilogram, perhari dari tempat budidaya dia mampu mengumpulkan sebanyak 10 kilogram jamur tiram.

"Saya jual online, tapi ada juga yang beli datang langsung, penjualan masih di seputar pulau Belitung saja," ujarnya.

Hasil olahan jamur tiram, lanjutnya, masyarakat menggunakan untuk tambahan masakan Tekwan, risol jamur dan bahkan untuk krispi jamur.

"Rumah jamur ini sebenarnya awalnya perhari bisa memproduksi hingga 50 kilogram. Tapi karena sekarang tidak ada yang bantu produksi saya kurangi juga menjadi 10 kilogram. Karena saat produksi 50 kilogram perhari saya harus panen jamur tiramnya pagi, siang dan sore. Kalau sekarang tidak ada yang bantu jadinya lebih capek kerjanya," ujarnya.

Dia mengaku juga menjual bibit jamur tiram yang di produksinya sendiri, perbotol dihargainya 25 ribu. Dari satu botol itu dapat digunakan untuk 30 baglog jamur.

Dia mengatakan setiap dua tahun sekali harus ada putus siklus, karena bila tidak dilakukan, akan terlalu banyak bakteri di rumah jamur yang menyebabkan perkembangan jamur terhambat dan rentan terserang hama. (posbelitung.co/suharli)

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved