Breaking News:

Human Interest Story

Sulitnya Dapatkan BBM, Guru Ini pun Mengeluh, Simak Kisahnya

Sulitnya menemukan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan pertalite membuat seorang guru kebingungan.

Penulis: Suharli | Editor: Fery Laskari
posbelitung.co
Herlan Guru SMK N 1 Kelapa Kampit, setiap hari mobilitas Tanjungpandan-Kelapa Kampit, Senin (13/9/2021) . (Posbelitung.co/Suharli) 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Sulitnya menemukan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan pertalite membuat seorang guru kebingungan.

Sudah 13 tahun setiap harinya Herlan yang berprofesi sebagai guru pulang pergi menempuh jarak 100 kilometer mengendarai sepeda motor.

Sejak Sabtu (11/9/2021) lalu, Warga Desa Aik Ketekok, Kecamatan Tanjungpandan, Belitung itu mencari BBM untuk mobilitasnya menuju tempat kerjanya di SMK N 1 Kelapa Kampit, Belitung Timur (Beltim).

"Biasanya si pakai pertalite, karena biasanya belum bongkar. Sekitar tiga minggu ini pakai pertamax, karena rute Tanjungpandan-Kelapa Kampit saya isi di SPBU Perawas, karena masih pandemi pagi sekitar Pukul 07.00 WIB biasanya sudah berangkat.  Kalau untuk premium sudah tidak pernah dapat lagi,makanya ke pertalite itu," ujar Herlan kepada Posbelitung.co, Senin (13/9/2021).

Hari ini pun dia melakukan aktifitas seperti biasanya untuk antre BBM, namun karena kali ini dia berangkat agak kesiangan setiba di SPBU melihat baru proses bongkar muat BBM, dia memilih untuk mecari BBM eceran di kios-kios yang ada di sepanjang jalan Tanjungpandan-Kelapa Kampit. Harapannya ketika itu bisa segera mengisi BBM sepeda motor di pinggir jalan.

"Ternyata di eceran sata terlusuri sampai Kelapa Kampit tidak ditemui satu pun ada di sepanjang jalan. Untungnya Sabtu (11/9/2021) lalu saya sempat ngisi di Tanjungpendam sekitar dua liter saya simpan. Semalam (12/9/2021) sempat ke pom Tanjungpendam tapi sudah habis, dua liter itu lah yang saya pakai sekarang," ujarnya.

Sesampai di sekolahnya dia masih merasa kebingungan mencari BBM kembali, karena untuk kembali ke Tanjungpandan dia harus mengisi kembali bahan bakar kendaraannya.  Apalagi dia menggunakan motor sport dan sudah tua CC yang lumayan besar sehingga konsumsi BBM pun cukup banyak.

"Karena saat melihat isi tanki motornya sudah berkurang, tadi saya sempat juga tanya ke rekan-rekan apa ada yang tahu kios yang jual bensin, tapi mereka juga kesulitan mencarinya," ujarnya.

Dia berharap ada penertiban untuk di SPBU yang untuk hak warga, seharusnya warga tidak kesulitan mendapatkan bahan bakar itu.

Dia pun tidak mempersalahkan pengerit kalau memang untuk dijual kembali eceran, karena menurutnya kalau tiba-tiba darurat kehabisan di jalan bisa beli eceran, selain itu masyarakat umumnya juga kebanyakan terbiasa membeli BBM eceran dari pada harus antre.

Tetapi bila sampai di kios yang jual eceran juga menghilang ini akan menjadi masalah terutama bagi yang memiliki mobilitas tinggi dengan kendaraan.

"Karena kalau saya mobilitas yang tinggi seperti ini otomatis kebutuhannya tinggi bila harus beli eceran di pinggir jalan butuh biaya yang tinggi, salah satu solusinya membeli di SPBU. Saya sendiri kebutuhan perhari kalau untuk pertalite Rp30.000 per hari pulang pergi," ujarnya. (Posbelitung.co/Suharli)

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved