Breaking News:

Berita Belitung

Produksi Sedotan Purun Ramah Lingkungan Buatan Tangan Ibu-ibu Belitung

Tanaman purun sebenarnya merupakan jenis tanaman alang-alang bernama latin Lepironia articulate. Di Belitung, tanaman ini juga banyak

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Khamelia
Pos Belitung/Disa Aryandi
Pengelolaan dan produksi sedotan purun Eco Straw, Rabu (13/10/2021) beralamatkan di Jalan Melati, Desa Dukung, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Proses produksi sedotan purun dikerjakan ibu-ibu. Dari proses memotong tanaman purun yang panjang menjadi seukuran sedotan normal yakni 25 sentimeter, sampai pada pengemasan, semuanya dikerjakan dari tangan-tangan terampil. Sampai jadilah, pengganti sedotan plastik, yakni sedotan purun yang lebih ramah lingkungan

Berkunjung ke rumah produksi purun eco straw di Desa Dukong, Tanjungpandan, Belitung, Rabu (13/10/2021), posbelitung.co menyaksikan langsung proses pembuatan sedotan purun.

Tanaman purun sebenarnya merupakan jenis tanaman alang-alang bernama latin Lepironia articulate. Di Belitung, tanaman ini juga banyak tumbuh di kolong eks tambang timah. 

Purun yang memanjang, diproses dimulai dipotong. Dalam satu batang purun, biasanya didapatkan 3-5 sedotan bergantung ukuran. Barulah dilanjutkan proses pembersihan buku-buku tanaman purun yang menyerupai bilah pada tanaman tebu. Karena tumbuh diarea rawa-rawa atau kolong, tanaman harus dibersihkan, sebelum dilanjutkan pada proses pengolahan berikutnya. 

Yana, satu di antara wanita yang mengolah sedotan purun menyebut proses pengolahan ini memakan waktu berhari-hari. Karena ada proses penjemuran yang memakan waktu sampai tiga hari. Tanaman purun yang hijau, kemudian dijemur sampai berwarna coklat. 

"Dalam sehari bisa produksi 4.000 sampai 5.000 sedotan. Biasanya dijual ke restoran dan hotel, ada juga pesanan yang masuk untuk dijadikan cinderamata," katanya. 

Rumah produksi purun tersebut biasanya menyediakan dua jenis sedotan, yang segar dan kering. Sedotan purun segar masih berwarna hijau dengan proses pengolahan yang lebih ringkas, namun tidak tahan lama, yakni sekitar dua hari saja.

Makanya, sedotan versi segar ini hanya dijual ketika ada acara tertentu seperti pameran. Sementara, produk sedotan purun kering yang telah melalui proses panjang bisa bertahan lebih lama yakni sampai satu tahun. 

Dalam pengolahannya, sedotan purun yang telah dikeringkan harus dioven kemudian disortir. Sedotan yang bergetah harus dibersihkan lagi, sementara yang pecah tidak bisa dikemas. Sedotan yang gagal pada proses sortir dapat diolah menjadi aneka kerajinan tangan, seperti tempat tisu, pigura, dan aneka hiasan rumah tergantung kreativitas masing-masing. 

Ditahap akhir, barulah sedotan purun dikemas dalam kotak berwarna hijau tua bertuliskan purun grass straw. Dalam satu kemasan ada 50 buah sedotan yang siap digunakan.

Yana menyebut, sejauh ini tidak ada kendala untuk mendapatkan bahan baku purun karena banyak tersedia. Ini saja, biasanya tanaman purun didapatkan dari warga dari Desa Dukong bahkan ada yang dari Belitung Timur.

"Kalau bahan baku masih banyak, paling kalau kendala musim hujan agak susah mengambil, kalau persiapan masih banyak," katanya. 

Sebelumnya, Sri Hartati, tim pengembang purun grass straw yang dibuat memang tidak menggunakan bahan kimia, aman bagi lingkungan, dan memberikan dampak sosial karena diolah secara home industry.

"Harapannya mendunia, karena kami ingin membantu dunia mengurangi limbah plastik. Hingga saat ini support pemerintah luar biasa bagi kami, memberikan motivasi, membantu promosi," ucapnya.

Sedotan purun ini juga ramah lingkungan. Setelah digunakan, bisa dibuant ke pot tanaman karena bisa terurai menjadi pupuk alami. (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari) 

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved