Breaking News:

Berita Belitung

Hitam Legam Arang Batok Kelapa yang Punya Potensi Bisnis Menggiurkan  

Hitam legamnya arang batok kelapa rupanya punya potensi bisnis yang menggiurkan. Dialah Adi, warga Tanjungpandan, Belitung yang melirik batok kelapa y

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Fery Laskari
posbelitung.co
Rumah produksi arang batok kelapa milik Adi di Tanjungpandan, Selasa (19/10/2021). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Hitam legamnya arang batok kelapa rupanya punya potensi bisnis yang menggiurkan. Dialah Adi, warga Tanjungpandan, Belitung yang melirik batok kelapa yang kerap dibuang begitu saja, lalu diolah agar menjadi arang. Tak hanya dijadikan untuk pembakaran, arang ini juga memiliki manfaat baik kesehatan sampai diolah untuk kebutuhan industri. 

Berprofesi sebagai event organizer (EO), Adi menjadi satu di antara pelaku usaha yang merasakan dampak pandemi. Tak putus semangat, ia pun mendapat ide untuk membuat arang batok kelapa berdasarkan saran seorang rekan. 

Mulailah pada 2020 lalu, dia mempelajari cara pembuatan arang, mecari informasi pemain batok kelapa lokal yang rupanya tak ada. 

"Langsung mencari batok di pasar, dikasih awalnya. Beli drum kecil, cari di YouTube, di situ eksperimen. Hari pertama jadi debu semua. Bakar lagi, coba lagi, kira-kira saat pembakaran merah semua, baranya ditutup daun pisang atau ditutup, asal tidak ada udara," ceritanya, Selasa (19/10/2021). 

Dari hasil arang yang berhasil dibuatnya itu, sampel dikirimkan ke temannya. Rupanya arang tersebut sudah dinilai baik, dari pertimbangan kadar air dan sebagainya. 

Dihari berikutnya, pria yang tinggal Jalan Murai, Tanjungpandan ini mengumpulkan bahan baku batok kelapa sebanyak-banyaknya dari pasar-pasar. Pertama kali mulai memproduksi, ia mengolah 230 kilogram bahan baku. 

"Ini sebenarnya memanfaatkan limbah agar jadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi," ucapnya.

Tak jarang kelapa yang terkumpul masih memiliki sabut, sehingga ia menyortir sekaligus membersihkan sabut yang besar. Selanjutnya batok-batok kelapa dibakar dalam drum. Butuh waktu seharian atau sekitar 10-12 jam untuk pembakaran.

Setelah menjadi arang, Adi tak menghentikan pembakaran dengan menyiramkan air. Namun arang berhenti terbakar dengan ditutup sehingga drum pembakaran menjadi hampa udara. Ini disebutnya dengan istilah mati hampa, agar memastikan arang tak memiliki kadar air tinggi. 

Arang batok kemudian disortir lagi untuk memisahkan abu dan sabut kelapa yang terbakar. Terakhir baru dikemas. Bahan baku dan hasil arang jadi, katanya, perbandingannya 4:1. Sehingga ketika ia membakar 400 kilogram batok, menghasilkan 100 kilogram arang. 

Halaman
12
Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved