Breaking News:

Berita Belitung

Tanjung Kelayang Kehilangan Pemasukan Rp1,5 Juta per Satu Wisatawan,Tambah Atraksi dan Variasi  

Rata-rata wisatawan yang datang ke Tanjung Kelayang, Belitung menyediakan uang sekitar Rp3,9 juta. Tapi ternyata uang yang dibelanjakan untuk makan, o

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Fery Laskari
IST/dok pribadi Lubis
Aktifitas perahu pariwisata Tanjung Kelayang melayani wisatawan sebelum wabah virus Covid-19 melanda Belitung. Foto diambil beberapa waktu lalu. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Rata-rata wisatawan yang datang ke Tanjung Kelayang, Belitung menyediakan uang sekitar Rp3,9 juta. Tapi ternyata uang yang dibelanjakan untuk makan, oleh-oleh hanya Rp2, 4 juta. Hal ini disampaikan Ketua Tim Peneliti Universitas Sahid Ninin Gusdini saat mengadakan diseminasi pengembangan potensi wisata terintegrasi dan berkelanjutan di Hotel Grand Hatika, Senin (25/10/2021). 

"Dari hasil riset kami, secara rata-rata, memang ada yang di bawah atau di atas, secara rata-rata wisatawan menyediakan uangnya ke Tanjung Kelayang sekitar Rp3,9 juta tapi dari hasil survei kami juga ternyata uang yang mereka belanjakan saat makan, belanja oleh-oleh, ternyata hanya sekitar Rp2,4 juta," katanya.

"Uang yang hampir Rp4 juta hanya dihabiskan sekitar Rp2,5 juta, ada Rp1,5 juta yang dibawa ke tempat asalnya. Padahal tadinya dalam frame mereka (wisatawan) habis pada saat berwisata,"katanya. 

Ninin menyebut, seandainya pariwisata bisa mengembangkan lagi dalam atraksi, bukan hanya destinasi tapi variasi kuliner, oleh-oleh, sehingga biaya yang dialokasikan terserap dimasyarakat. Sehingga ketika wisatawan membeli oleh-oleh dan kuliner, masyarakat untung.

Diversifikasi pariwisata perlu dilakukan sehingga wisatawan tidak hanya selesai berwisata dalam 1-2 hari saja, tapi minimal tiga hari. Karena semakin lama berada di satu tempat tentu akan membelanjakan uang semakin banyak.

"Heritage ada yang bisa dijual, kuliner luar biasa, tinggal diintegrasikan untuk mengembangkan potensi. Alternatif strateginya perlu ada diversifikasi produk, sehingga wisatawan bisa stay lebih lama," tambahnya. 

"Riset yang kami lakukan ini di kawasan Tanjung Kelayang, tapi secara detail analisis yang kami lakukan secara keseluruhan di Belitung," jelasnya.

Dia menyatakan, meskipun pariwisata menjadi sektor yang paling terdampak dari Pandemi Covid-19, namun tidak menurunkan pandangan positif dari media terhadap pariwisata Belitung, khususnya Tanjung Kelayang. Secara aktual memang kondisi pariwisata sedang terdampak, namun secara image sebenarnya pariwisata Belitung tidak tidur. 

Sehingga ini menjadi kans besar bagi pariwisata Belitung untuk bisa take off meraih tujuan yang dirancang saat sebelum pandemi. Gambaran persepsi media memberikan spektrum yang menggembirakan di antara kegelisahan bidang pariwisata setelah menghadapi fase Covid-19, tinggal bagaimana agar bangkit merealisasikan semangat tersebut. 

Dari hasil analisis, lanjutnya, ada tiga strategi besar yang perlu diprioritaskan. Pertama merancang icon branding, karena kalau brand sudah terkenal, orang ada fanatisme sehingga memudahkan penetrasi bagi masyarakat yang perlu dikembangkan.

Kedua, refocusing strategi marketing, menyesuaikan dengan segmen yang ingin disasar, bisa segmen backpacker atau menengah ke atas, maupun menyasar semua segmen, maka perlu dielaborasi dari potensi wisatawan yang akan datang. Ketiga, optimalisasi infrastruktur terkait minat wisatawan.(Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari) 
 

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved