Lawan Covid19

Cara Mudah Mengetahui Berita Hoaks atau Bukan

Kementerian Kominfo menyampaikan kepada seluruh masyarakat bagaimana cara mengidentifikasi suatu berita atau kabar itu adalah hoaks atau bukan.

Editor: Fitriadi
Surya
Hoaks unggahan viral pencegahan virus corona 

POSBELITUNG.CO, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menemukan 1.971 isu seputar Covid-19.

Konten-konten hoaks tersebut ditemukan pada 5.065 unggahan di media sosial.

Konten-konten hoaks tersebut paling banyak ditemukan di Facebook dibanding media sosial lainnya. 

Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), Dedy Permadi memastikan pemerintah terus berupaya meminimalisir dan melawan penyebaran hoaks terutama terkait pandemi Covid-19.

Kementerian Kominfo, kata Dedy, menyampaikan kepada seluruh masyarakat bagaimana cara mengidentifikasi suatu berita atau kabar itu adalah hoaks atau bukan.

Hal itu disampaikan Dedy saat siaran pers Menolak Hoaks Covid-19 yang disiarkan kanal YouTube Kemkominfo TV, Kamis (4/11/2021).

"Pertama, berhati-hati jika membaca judul berita yang provokatif dan clickbait atau mendorong kita untuk membukanya jadi harus dicurigai dulu dari judulnya. Jika judulnya meragukan jangan disebarluaskan," kata Dedy.

Baca juga: Inilah Aturan Ketat Pelaku Perjalanan Jika Ingin Bepergian ke Indonesia

Baca juga: Vanessa dan Sang Suami Tewas usai Kecelakaan Maut, Sopir Mengaku Kelelahan

Baca juga: Jenazah Vanessa Angel dan Bibi Andriansyah Tiba Subuh, Pagi ini Dimakamkan di Taman Makam Malaka

Kedua, kata Dedy, cermati alamat situs yang menjadi sumber pemberitaan terkadang banyak situs-situs berita palsu atau tidak jelas yang memuat hoaks.

Sehingga lebih baik kita membaca berita dari situs berita yang kredibel dan terpercaya.

"Ketiga memeriksa sumber pernyataan cek lagi siapa yang memberikan statement atau pernyataan. Apakah orang dari pemerintahan lembaga kredibel para ahli atau bukan," ucap Dedy.

Kemudian, keempat, mengikuti pemberitaan dan media sosial institusi resmi dan kredibel bisa milik pemerintah atau kantor berita atau para ahli yang tentu bisa dipercaya oleh masyarakat.

Kelima mendiskreditkan gambar, foto dan video untuk diperiksa lagi melalui mesin pencari.

"Biasanya akan terlihat tifikasi dari mana asal gambar atau video tersebut," tambahnya.

Dedy pun mengingatkan bahwa media sosial menjadi sarana penyebaran hoaks yang sangat masif.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved