Breaking News:

Kebutuhan Cabai di Belitung 600 Ton Setahun, Destika Ungkap Penyebab Hasil Panen Lokal Tak Mencukupi

Selain mengandalkan hasil panen petani lokal, untuk pemenuhan konsumsi masyarakat, saat ini juga masih ada pasokan dari luar daerah.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung, Destika Efenly 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung, Destika Efenly, mengatakan, bahwa selama setahun, kebutuhan cabai di Pulau Belitung sekitar 600 ton.

Selain mengandalkan hasil panen petani lokal, untuk pemenuhan konsumsi masyarakat, saat ini juga masih ada pasokan dari luar daerah.

Ia menjelaskan, hasil panen cabai dari petani lokal sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan lantaran lahan pertanian cabai sekarang mencapai 300 hektare.

"Misalnya, satu hektare ada 10 ribu rumpun, kalau cabai keriting rata-rata 4 ons, satu hektare bisa empat ton. Kalau 10 hektare sudah 40 ton. Kalau 100 hektare 400 ton. Kalau Belitung hampir 300 hektare, tapi pengaturan pola tanam," jelasnya, Rabu (1/12/2021).

Dalam upaya mengatasi hal tersebut, berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bangka Belitung, pihaknya menginisiasi pembentukan asosiasi petani cabai.

Asosiasi petani cabai akan fokus mengurus cabai, berbeda dengan kelompok tani yang di dalamnya terdapat berbagai komoditas.

Melalui asosiasi cabai ini diharapkan bisa menghimpun petani cabai yang belum masuk dalam kelompok tani, serta bisa mengatur pola tanam untuk mengendalikan inflasi relatif stabil antara 3-5 persen.

Sementara itu, Bupati Belitung, Sahani Saleh, mengatakan memang perlu adanya intervensi terhadap komoditas yang cenderung menjadi penyebab inflasi seperti cabai.

Makanya, upaya meningkatkan ketahanan pangan komoditas tersebut perlu dilakukan secara bersama-sama, baik pemerintah, Bank Indonesia, maupun masyarakat.

"Cabai kebanyakan datang dari luar, antara biaya produksi dan transportasi lebih tinggi transportasi. Akhirnya ketika dijual di pasaran harganya melonjak, sehingga terjadi kenaikan harga," kata lelaki yang akrab disapa Sanem ini.

Selain itu, menurutnya, perhatian khusus juga perlu dilakukan pada ayam potong yang kenaikan harganya cenderung tidak stabil dibandingkan komoditas strategis lainnya. (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Sumber: Pos Belitung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved