Angka Bebas Jentik di Kabupaten Belitung Baru 40 Persen, Dua Desa Ini Rawan Peningkatan Kasus DBD

Makanya, jentik di dua desa ini pernah menjadi diambil sampelnya oleh Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga untuk diteliti.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari
Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung, Joko Sarjono, saat ditemui pada Senin (13/12/2021). 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung, Joko Sarjono, mengatakan, satu di antara penyebab terjadinya kasus DBD)'>Demam Berdarah Dengue ( DBD) karena angka bebas jentik (ABJ) yang rendah.

Dalam program pengendalian DBD, ditargetkan 95 persen rumah masyarakat harus bebas jentik.

Artinya, dari 100 rumah, 95 rumah di antaranya harus terbebas dari jentik nyamuk.

"Sedangkan Belitung, 30-40 persen, baru 40 rumah yang bebas jentik, 60 lainnya ada jentik," kata Joko kepada Posbelitung.co, Senin (13/12/2021).

Menurutnya pula, di Kabupaten Belitung, Desa Air Saga dan Desa Air Seruk menjadi dua desa yang rawan peningkatan kasus DBD.

Lantaran kedua desa tersebut memiliki wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang banyak.

Makanya, jentik di dua desa ini pernah menjadi diambil sampelnya oleh Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga untuk diteliti.

"Kalau kasus meningkat 2019 karena wilayahnya luas, sehingga kelihatan berbeda dengan desa yang lain. Biasanya wilayah pantai, seperti Air Saga, rawan. Saya juga heran kenapa Air Seruk, karena jauh dari pantai, kalau Air Saga diakui pusat karena dekat pantai. Tapi pengalaman empirisnya seperti itu," jelasnya.

Sementara itu, Desa Juru Seberang pada 2019 silam, juga sempat menjadi perhatian akibat kasus DBD.

Menurutnya, jumlah kasus DBD di Desa Juru Seberang tidak begitu tinggi, namun menonjol karena permulaan kasus DBD dan angka kematian akibat DBD yang lebih tinggi dibandingkan desa lainnya.

Untuk penanggulangan DBD, menurut Joko, langkah jangka pendek yang bisa dilakukan masih fogging untuk membunuh nyamuk yang infektif.

Sebelum fogging, setiap ada kejadian kasus DBD, tim puskesmas harus melakukan penyelidikan epidemiologi (PE).

Ketika ditemukan 2-3 kasus dalam satu tempat, artinya sudah ada penyebaran lokal sehingga langkah fogging harus dilakukan.

Sementara jangka menengah agar populasi nyamuk turun atau berkurang, masyarakat harus melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Dalam mengatasi DBD ini, pihaknya juga sudah merancang membentuk kembali kader jumantik sebagai kepanjangan tangan puskesmas untuk bisa memonitor kondisi jentik di rumah penduduk. (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)

Sumber: PC Plus
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved