Kasus DBD di Kabupaten Belitung Naik Turun, Rawan Diderita Anak-anak Sampai Usia 14 Tahun
Tingkat kefatalan dalam penanganan DBD bisa dicegah dengan segera membawa penderita ke fasilitas layanan kesehatan (fasyankes).
Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Hingga Nocvember 2021, di Kabupaten Belitung terdapat 136 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung, kasus DBD selama 2021 cenderung fluktuatif, dengan kasus terbanyak terjadi pada Oktober, yakni 24 kasus.
Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung, Joko Sarjono, mengatakan, peningkatan kasus DBD biasanya terjadi pada September-Maret karena meningkatnya curah hujan.
"Puncaknya pada Desember-Januari, kasusnya tetap ada tapi fluktuatif. KLB (kejadian luar biasa) DBD terakhir 2019, KLB berikutnya menurut hasil analisis pola epidemiologi DBD pada 2023," kata Joko kepada Posbelitung.co, Senin (13/12/2021).
"Kalau KLB September langsung naik kasusnya. Mudah-mudahan jangan sampai terjadi, tapi polanya tiap kabupaten berbeda, karena berkaitan curah hujan," ucap dia.
Menurut Joko, DBD sebenarnya bisa terjadi pada semua usia, namun cenderung rawan terjadi pada anak-anak sampai usia 14 tahun. Karena berkaitan perilaku dan dari segi stamina berbeda dengan dewasa.
Tingkat kefatalan dalam penanganan DBD bisa dicegah dengan segera membawa penderita ke fasilitas layanan kesehatan (fasyankes).
Menurutnya, ketika anak demam tanpa ada faktor infeksi lain atau radang tenggorokan serta memasuki masa DBD, maka perlu segera diperiksa.
"Ketika demam, diberi obat penurun panas, tidak bisa turun. Itu bisa DBD atau tifus. Apalagi mulai September, itu masuk musimnya," katanya.
Selanjutnya, kontrol dari orang tua perlu dalam memberantas sarang nyamuk (PSN).
Dalam pencegahan DBD, Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung, mulai September, Puskesmas mengimbau dan mengajak masyarakat melakukan PSN dan membagikan bubuk abate.
"Ada air yang tidak bisa dibuang, misalnya tandon air untuk minum, itu bisa diberikan Bactivec, itu diberi saat melakukan PSN," imbuhnya.
Menjaga kebersihan lingkungan masih menjadi faktor utama untuk pencegahan DBD. Karena nyamuk vektor DBD bisa dikendalikan dengan membersihkan genangan air bersih, seperti pada dispenser atau bak-bak penyimpanan air.
Selain itu, pada 2022 ini pihaknya juga telah mengusulkan pengadaan mesin fogging di puskesmas untuk mempermudah penanggulangan kasus.
"Karena DBD sudah menyebar ke mana-mana. Dulunya hanya di Tanjungpandan, sekarang sudah di Selat Nasik. Kalau Puskesmas Selat Nasik tidak punya mesin fogging. Kalau racun harus dari kami, termasuk desa yang punya mesin fogging, kami bina. Racun mereka tidak boleh beli, ambil di Dinkes agar sama, kalau bervariasi, nanti menimbulkan resistensi," jelas Joko. (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)