Timah Masih Jadi Komoditas Dominan dalam Mendongkrak Laju Pertumbuhan Ekonomi di Bangka Belitung.

Berdasarkan negara tujuan, Singapura masih menjadi negara tujuan utama ekspor timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penulis: Cici Nasya Nita | Editor: Novita
Tangkapan layar Bangkapos.com
Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analsis Statistik Badan Pusat Statistik Bangka Belitung, Oktarizal saat menyampaikan kondisi pertumbuhan ekonomi Babel triwulan IV 2021 via live streaming. 

POSBELITUNG.CO, BANGKA - Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Belitung mencatat ekonomi Bangka Belitung pada triwulan IV 2021 dibanding triwulan IV-2020 secara tahunan atau year on year (yoy) tumbuh sebesar 6,32 persen.

Timah masih menjadi komoditas dominan dalam mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi di Bangka Belitung.

Kontribusi ekspor timah sendiri menurut data hingga Desember 2021, mengalami kenaikan 152,38 persen

Berdasarkan negara tujuan, Singapura masih menjadi negara tujuan utama ekspor timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sekitar 21,36 persen ekspor timah pada Januari-Desember 2021 dikirim ke Negeri Singa ini.

Kabid Neraca Wilayah dan Analsis Statistik Badan Pusat Statistik Bangka Belitung, Oktarizal, membeberkan kenaikan ekpor timah yang berkontribusi bagi laju pertumbuhan ekonomi Babel.

"Tingginya laju pertumbuhan komponen ekspor barang dan jasa ini, didorong oleh kenaikan ekspor komoditas logam timah yang harganya juga sedang tinggi karena pengaruh tingginya permintaan di pasar global," kata Oktarizal saat dikonfirmasi Bangkapos.com, Senin (7/2/2022).

Bahkan dikarenakan harga timah yang seksi saat ini membuat warga ada yang tergiur beralih ke sektor ini.

"Pekerjaan lainnya ditinggalkan demi nyari timah," sebutnya.

Selain timah, dia juga membeberkan ada komoditas lain seperti lada dan CPO yang harganya naik yang memicu membaiknya ekonomi Bangka Belitung.

"Komponen ekspor memang memiliki kinerja sangat baik sejak awal tahun 2021 dengan menguatnya harga-harga komoditas unggulan seperti timah, lada dan Crude Palm Oil (CPO). Hal ini didukung oleh mulai pulihnya perekonomian di tingkat global dari pandemi Covid-19. Penguatan harga komoditas unggulan ini juga berdampak pada meningkatnya pendapatan masyarakat yang secara langsung meningkatkan daya beli," jelasnya.

Picu Inflasi

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bangka Belitung (Babel), Budi Widihartanto, beberapa waktu lalu menyatakan naiknya harga timah menjadi satu diantara pemicu terjadi inflasi.

"Inflasi pada Januari 2022 juga masih dipengaruhi oleh peningkatan daya beli masyarakat seiring dengan peningkatan harga komoditas unggulan di Bangka Belitung terutama timah dan Crude Palm Oil (CPO)," jelas Budi.

Berdasarkan data terbaru, Bangka Belitung pada Januari 2022 mengalami inflasi 0,97 persen (month to month/mtm atau 3,60 persen (yoy).

"Inflasi pada Januari 2022 didorong oleh meningkatnya beberapa komoditas bahan makanan seperti beras, bahan bakar rumah tangga, telur ayam ras, cabai rawit, bawang merah, nasi dengan lauk, dan beberapa jenis ikan (cumi-cumi, ikan selar, dan ikan dencis)," jelasnya.

Bank Indonesia menyatakan bahwa dalam meningkatkan efektifitas pengendalian inflasi tahun 2022 serta mencermati perkembangan Covid-19 dan upaya pencegahan penyebarannya.

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memonitor perkembangan harga dan stok bahan pokok strategis, mempererat koordinasi antar lembaga dan stakeholders terkait.

"Serta mengedepankan pemenuhan pasokan dari dalam wilayah maupun melalui kerja sama antar daerah sehingga inflasi tahun 2022 dapat terjaga pada rentang 3±1 persen," tambahnya. (Bangkapos.com/Cici Nasya Nita)

Sumber: Bangka Pos
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved