Berita Pangkalpinang

Lantunkan Azan saat Pemakaman Hudarni Rani, Suara Yudha Bergetar, Terngiang Pesan Terakhir Sang Ayah

Dia menambahkan, ayahnya, Almarhum Hudarni Rani, merupakan sosok ayah yang terlalu baik, bukan hanya ke anak tetapi juga ke masyarakat.

Penulis: Riki Pratama | Editor: Novita
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
Anggota Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Babel membawa peti jenazah Almarhum Hudarni Rani usai disalatkan di Masjid Muhajirin Pangkalpinang, Sabtu (9/4/2022) siang. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Suara M Yudha Primadirani (38) terdengar bergetar saat melantunkan azan di liang lahat sang ayah, Hudarni Rani, saat proses pemakaman di Taman Makam Pahlawan Pawitralaya, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (9/4/2022).

Sesekali suaranya terdengar seperti tertahan, tak kuasa menaan tangis.

Ia berada di dalam liang lahat sang ayah bersama sejumlah petugas dari anggota Pol PP Provinsi Bangka Belitung yang membantu proses pemakaman.

Yudha mengatakan, sosok ayahnya, Almarhum Hudarni Rani, merupakan orang yang baik terhadap anak dan keluarganya.

Putra kedua almarhum Hudarni Rani, M Yudha Primadirani (memakai kopiah hitam), menatap makam ayahnya usai upacara pemakaman dan tabur bunga di Makam Pahlawan Pawitralaya, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (9/4/2022).
Putra kedua almarhum Hudarni Rani, M Yudha Primadirani (memakai kopiah hitam), menatap makam ayahnya usai upacara pemakaman dan tabur bunga di Makam Pahlawan Pawitralaya, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (9/4/2022). (Bangkapos.com/Riki Pratama)

"Kalau ayah sosoknya baik, sama anak cucu baik. Terus, bapak itu dapat dibilang bukan ingin langsung memberikan sesuatu. Tetapi itu harus melalui proses. Kita mau apa, kita harus menyiapkan kailnya. Istilahnya," tutur Yudha kepada Bangkapos.com usai pemakaman ayahnya, Sabtu (9/4/2022).

Dia menambahkan, ayahnya, Almarhum Hudarni Rani, merupakan sosok ayah yang terlalu baik, bukan hanya ke anak tetapi juga ke masyarakat.

"Terus bapak ini mungkin saya boleh katakan orang terlalu baik, apalagi ke masyarakat, bukan rahasia umum lagi," kata Yudha yang berdomisili dan bekerja di Bandung ini.

Selain itu, Yudha juga masih terngiang-ngiang dengan pesan yang tidak pernah ia duga merupakan pesan terakhirnya.

"Saya terakhir WhatsApp hari Kamis, satu hari sebelum bapak pergi. Pesan pribadinya ingin saya untuk melanjutkan kuliah S3. Lalu, pesan jaga kesehatn perhatian ke anak-anak. Tetapi saya tidak ada pikiran bahwa itu pesan terkahir ke saya," kata Yudha dengan mata berkaca-kaca dan memerah.

Yudha juga mengatakan, sosok ayahnya, tidak selalu mengeluhkan sakit yang sedang dialaminya selama masa hidupnya.

"Beliau tipe tidak mau merepotkan orang kalau sakit. Hanya keluarga yang tahu, jangan sampai kepikiran. Karena beliau merasa bisa dan yakin dapat mengatasinya. Terkait sesaknya yang kemarin memang berat membuat beliau down. Tetapi sebenarnya tidak pernah terjadi sebelumnya. Hanya kemarin beliau ada diabetes, sudah operasi dan tidak ada keluhan lagi," jelasnya.

Untuk diketahui, Hudarni Rani menghembuskan nafas terakhirnya, pada Jumat (8/4/2022) sore, di apartemennya di Jakarta, pukul 15.50 WIB, karena sakit asma,

Jenazah Hudarni Rani selanjutnya dibawa ke Pangkalpinang untuk dikebumikan pada Sabtu, (9/4/2022) siang, di Taman Makam Pahlawan Pawitralaya, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah.

Makamnya sejajar dengan almarhum Eko Maulana Ali Suroso.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved