Dialog Ruang Kita

Ketika Bupati Belitung Bicara Soal BBM

Antrean panjang yang terjadi di SPBU Kabupaten Belitung membuat masyarakat mengeluhkan sulitnya mendapat bahan bakar.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Fery Laskari
posbelitung.co
Bupati Belitung Sahani Saleh saat berbincang dengan host Dialog Ruang Kita Disa Aryandi, Rabu (27/4/2022). (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari) 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Persoalan bahan bakar minyak (BBM) telah menjadi isu hangat sekitar tiga pekan terakhir. Antrean panjang yang terjadi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) membuat masyarakat mengeluhkan sulitnya mendapat bahan bakar. Ditambah kios-kios yang biasanya menjual BBM pun kosong. Kalau pun ada, harganya jauh melebihi normal. Tak hanya BBM, kenaikan harga sejumlah komoditas menjelang hari raya turut mendapat sorotan. 


Lebih jauh membahas hal tersebut, Posbelitung.co secara khusus telah mewawancarai Bupati Belitung Sahani Saleh ( Sanem) pada Program Dialog Ruang Kita di Laman Facebook Pos Belitung, Rabu (27/4/2022). Berikut kutipan wawancaranya:


T: Bagaimana bapak melihat kondisi kesulitan BBM yang terjadi saat ini? 


J: Sebetulnya kita sudah kenal baik dengan pengelola Jobber, mereka sudah berkomunikasi tapi nampaknya mereka mengalami kesulitan juga. Kita sudah konfirmasi sejak 2021 dapat informasi bahwa bensin akan diganti pertalite dan pertamax akan naik harga. Termasuk pertalite tidak pakai subsidi sudah pakai istilah penugasan, tapi masih ada subsidi dari pemerintah.


Karena ini kita mungkin bicara secara nasional, panjang ceritanya kenapa beralih pertalite, kemudian kenapa adanya pertashop dibangun di desa, tidak terlepas arahnya ke depan tidak ada lagi BBM subsidi.


Sebagai informasi, subsidi BBM per tahun ini tidak kurang Rp350 triliun dari APBN, banyak terserap untuk itu. Mereka (pengelola jober) sama-sama berupaya menambah kuota, tapi kondisi riil di lapangan, pertama mereka untuk sekarang untuk mendapatkan transportasi tongkang ke Belitung hanya bisa berisi 1.500 ton. Kalau lebih dari itu mereka tidak bisa masuk, harus nunggu air pasang. Oleh sebab itulah ada satu kapal yang bolak balik untuk distribusi Palembang-Belitung. Sedangkan kebutuhan Belitung dan Belitung Timur itu 550 ton per hari. 


Akar permasalahannya di situ dan sampai sekarang kita sudah upaya mengajak pihak pertamina membangun depo di Tanjungbatu, tapi sampai sekarang belum ada realisasi. Pernah saya sampaikan, selagi ini tidak ada upaya lain dari Pertamina, justru makin tahun akan makin bermasalah karena alur kapal per tahun tidak kurang dari 21 sentimeter sedimentasinya, sekarang sudah 2,1 meter. Sehingga kalau air surut, kapal tidak bisa berlabuh.


T: Kondisi sulitnya BBM ini sudah terjadi sekitar tiga minggu. Sekarang kehidupan masyarakat hanya fokus BBM. Bagaimana tanggapan bapak terkait hal ini? 


J: Jauh-jauh hari sudah disampaikan, biasanya sulit BBM ini terjadi saat musim angin barat dan menjelang Idulfitri. Saat musim barat kemarin, angin tidak terlalu kencang, sehingga aman aman. Musim ini (menjelang Idulfitri) ritme penyaluran BBM tidak berubah, cuman pemakaian di sini meningkat.


Kita bicara lebih jauh bahwa tahun ini fokus perbaikan ekonomi dari dampak Covid-19. Momen lebaran akan ada pergerakan dari faktor penunjang bahan bakar. Dulu aktivitas wisata tiarap, mobilisasi terbatas, sehingga penggunaan BBM sedikit dan tercukupi. Adanya pergerakan ekonomi harusnya ditambah, nah itu tidak ada penambahan dari Pertamina.


T: Apakah maksudnya survei kebutuhan BPH Migas untuk penetapan kuota saat masa Covid-19 tidak relevan dengan kondisi sekarang? 


J: Saya sampaikan ke pusat, ketika mengembalikan perekonomian, mau tidak mau faktor penunjangnya adalah bahan bakar, makanya penambahan harus ada suplai dimana-mana dari pihak pertamina. Faktanya 24 provinsi di Indonesia mengalami kondisi yang sama, karena tidak diantisipasi. Itulah orang pusat tidak mau mendengarkan kami di daerah, kami sudah tahu ritmenya, apalagi saya sudah berpengalaman bertahun-tahun menghadapi kondisi ini. Adanya pergerakan ekonomi seperti ini efeknya rakyat tahunya di bawah ini Bupati, tapi kami sudah berupaya menyampaikan ke pusat.


T: Berdasarkan informasi yang kami terima, BPH Migas sudah merekomendasikan penambahan kuota dari 5 ribu kiloliter menjadi 49 ribu kiloliter. Benarkah informasi tersebut? 


J: Memang ada rencana itu. Sebetulnya sudah sesuai dari hasil survei kebutuhan, bahkan sudah ada dari hasil survei ada bansi (penambahan), tapi realisasinya belum berjalan.

Halaman
1234
Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved