Berita Belitung

Petani Sawit Belitung Mengeluh Sawit Tidak Laku, Ada yang Panen 25 Ton Hanya Bisa Disimpan di Kebun

Pada kelompok ini, ada sekitar 800 orang lebih petani yang bergantung hidup dari hasil panen buah sawit.

Penulis: Disa Aryandi | Editor: Novita
Posbelitung.co/Disa Aryandi
Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Belitung, Mahdar 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Petani sawit di Kabupaten Belitung mengeluhkan hasil buah sawit tidak laku alias tidak dibeli oleh perusahaan. Kondisi tersebut sudah terjadi sejak dua pekan belakangan.

Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Belitung, Mahdar, mengatakan, kondisi tidak lakunya buah sawit sekarang ini sangat dirasakan oleh petani sawit.

Terutama bagi petani yang memiliki luas lahan antara tiga hektare hingga lima hektare.

Pada kelompok ini, ada sekitar 800 orang lebih petani yang bergantung hidup dari hasil panen buah sawit.

"Perusahaan tidak menerima buah petani, alasannya kemarin setelah kami sounding, karena ada larangan ekspor CPO dari pemerintah pusat. Ya dampaknya begini," kata Mahdar didampingi petani sawit dari sejumlah kecamatan di Belitung kepada Posbelitung.co, Selasa (10/5/2022).

Ia bersama rekan petani lainnya sudah berkomunikasi dan bertanya secara langsung kepada pihak perusahaan, karena tidak menerima penjualan buah sawit dari petani.

Alasan perusahaan karena Crude Palm Oil (CPO) belum bisa dikirim dan harga beli buah sawit hingga sekarang belum jelas. Terakhir, harga jual Tandan Buah Segar (TBS) sawit Rp 3.617 per kilogram.

"Itu harga terakhir di tiga minggu lalu. Kami sudah mengadu hal ini tadi ke DPRD agar bisa ditindaklanjuti. Tentunya nanti akan ada pertemuan dengan masyarakat," jelasnya.

Kata dia, sebelum perusahaan memutuskan tidak membeli buah sawit dari petani, tidak sedikit petani sudah memanen buah sawit tersebut.

Ada yang sudah panen belasan ton hingga 25 ton. Namun buah tersebut sekarang hanya bisa disimpan di kebun petani dan lambat laun akan membusuk.

"Itu kejadiannya sebelum Idulfitri. Sudah dipanen 25 ton, terus dibawa ke perusahaan, tapi perusahan tidak menerima dan buah sawitnya dikembalikan," bebernya.

Menurut dia, petani tidak bisa menjual buah sawit ke perusahaan secara total baru kali ini terjadi. Biasanya, jika mendekati Idulfitri penjualan buah sawit dibatasi.

"Ini bukan hanya petani di Belitung saja, semua petani sawit di Pulau Belitung. Otomatis dengan kondisi ini, semua petani sawit menjerit. Kami, intinya, buah sawit bisa terjual, dan harganya disesuaikan," kata Mahdar. ( Posbelitung.co/Disa Aryandi)

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved