Perang Rusia dan Ukraina

Ukraina Porak Poranda Akibat Perang, Korban Bertambah Zelensky Mau Berdamai Tapi Tuduh Rusia Teroris

Zelensky menegaskan bahwa Ukraina mau berdamai asalkan Rusia mau menghentikan peperangan agar rakyatnya tak jadi korban lagi

Penulis: Hendra CC | Editor: Hendra
CNN/Gubernur Regional Luhansk Serhiy Hayday.
Aparat setempat membersihkan puing gedung sekolah Desa Bilohorivka, Luhansk, Ukraina yang hancur akibat bom 

POSBELITUNG.CO, JAKARTA -  Ukraina sudah porak poranda digempur pasukan militer Rusia.

Gedung-gedung hingga rumah hancur berantakan akibat perang Rusia dan Ukraina.

Kini Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menginginkan rakyatnya hidup damai lagi jauh dari peperangan.

Sementara itu proses perdamaian antara Ukraina dan Rusia diakuinya belum ada kemajuan secara substansial.

Zelensky mengatakan, selama tiga bulan, pesawat militer Rusia telah terbang di atas langit Ukraina.

Baca juga: Negara yang Memiliki Senjata Nuklir Terbanyak, Kalau Perang Ternyata Amerika Bukan Tandingan Rusia

Baca juga: Tergiur Istri Teman Berbusana Tipis, Pencuri Langsung Telanjang Bulat, Aksi Ketahuan Dikejar Warga

Baca juga: Zelensky Muak dengan Barat, Berani Lontarkan Kritik Pedas, Urusan dengan Rusia Dianggap Main-main

Tentara Rusia telah menghancurkan hampir 2000 institusi pendidikan di Ukraina.

Tentara Rusia juga menyerang tempat ibadah, seperti gereja, masjid, dan tempat-tempat keagamaan lainnya.

"Baru kemarin, Karkhiv, salah satu kota kami, memiliki 9 korban. Salah satunya adalah seorang anak kecil, ayahnya dipukul dan ibunya terluka parah. Inilah kenyataan yang kami hadapi sejak 24 Februari," ujarnya.

Zelenskyy menegaskan kembali keinginan Ukraina untuk bernegosiasi untuk mengakhiri krisis kemanusiaan dan hidup damai di tanah air mereka sendiri.

Namun ia mengecam tindakan Rusia yang menyatakan keinginan untuk berunding tetapi terus melakukan serangan.

Rusia pertama-tama menembak dan kemudian mereka mengatakan bahwa mereka siap untuk bernegosiasi. Beginilah aksi teroris," ujarnya.

Menurutnya, Rusia beralibi tidak ingin Ukraina masuk NATO dan memulai peperangan, selanjutnya mulai merebut tanah Ukraina.

Sebuah gambar selebaran yang diambil dan dirilis pada 4 April 2022 oleh layanan pers kepresidenan Ukraina menunjukkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kedua kiri) mengunjungi kota Bucha, barat laut ibukota Ukraina, Kyiv. - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada 3 April 2022 bahwa kepemimpinan Rusia bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil di Bucha, di luar Kyiv, di mana mayat-mayat ditemukan tergeletak di jalan setelah kota itu direbut kembali oleh tentara Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia menolak tuduhan pada hari yang sama dengan alasan bahwa pasukan Rusia meninggalkan Bucha pada 30 Maret sementara bukti pembunuhan disajikan empat hari kemudian. (Photo by UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE / AFP)
Sebuah gambar selebaran yang diambil dan dirilis pada 4 April 2022 oleh layanan pers kepresidenan Ukraina menunjukkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kedua kiri) mengunjungi kota Bucha, barat laut ibukota Ukraina, Kyiv. - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada 3 April 2022 bahwa kepemimpinan Rusia bertanggung jawab atas pembunuhan warga sipil di Bucha, di luar Kyiv, di mana mayat-mayat ditemukan tergeletak di jalan setelah kota itu direbut kembali oleh tentara Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia menolak tuduhan pada hari yang sama dengan alasan bahwa pasukan Rusia meninggalkan Bucha pada 30 Maret sementara bukti pembunuhan disajikan empat hari kemudian. (Photo by UKRAINIAN PRESIDENTIAL PRESS SERVICE / AFP) (AFP/STR)

Zelenskyy menyatakan apa yang dilakukan Rusia sebagaimana tindakan yang dilakukan teroris.

"Inilah yang dilakukan teroris selama ini. Ketika Rusia memutuskan untuk berhenti menjadi teroris dan mengakui kesalahan berdarah yang telah mereka lakukan, maka kami bersedia untuk bernegosiasi,” ujarnya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved