Berita Belitung
Masalah SDM Masih Jadi Tantangan Pariwisata Belitung
Dino Leonandri mengatakan bahwa objek pariwisata Belitung menarik dan jarak Belitung dari Jakarta dekat.
Penulis: Adelina Nurmalitasari |
POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Research Head of International Hotel General Manager Association (IHGMA) Dino Leonandri mengatakan bahwa objek pariwisata Belitung menarik dan jarak Belitung dari Jakarta dekat.
Namun pariwisatanya berjalan lambat karena sejumlah permasalahan. Satu diantaranya karena sumber daya manusia (SDM).
"Ada SMK Negeri 1 Sijuk, tapi tidak serta merta tenaga kerja bisa masuk industri. Ternyata problem-nya guru belum pernah bekerja di industri. Ibaratnya orang yang tidak pernah berenang, mengajarkan berenang, hanya ngasih teori saja," ungkap selepas Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pariwisata Belitung Pasca Pandemi, Kemana Melangkah yang berlangsung di Fairfield by Marriott Belitung, Senin (6/6/2022).
Asosiasi tersebut lalu mewadahi para guru SMK pariwisata untuk magang di industri perhotelan agar punya visi yang sama dalam mendidik para siswa.
Namun, lanjut Dino, langkah tersebut masih kurang. Makanya kurikulum di sekolah disesuaikan agar standar lulusan sekolah pariwisata sesuai dengan standar industri yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
"Lulusan mau dibawa ke mana? Hanya sebagian kuliah, sebagian enterpreneur, sementara bekerja di industri, kalau belum ada tambahan akan begini terus," imbuhnya.
Baca juga: Laskar Pelangi Dinilai Tak Relavan Lagi, Citra Pariwisata Belitung Perlu Branding Baru yang Kekinian
Baca juga: Usai Abadikan Perjalanan Saat Pulang Melaut, Dua Pemancing Tewas Tersambar Petir Tewas, Tiga Selamat
Diskusi bersama para pelaku industri pariwisata, akademisi, perwakilan bandara, media, pihak sekolah dan pejabat pemerintahan berkaitan pariwisata tersebut membedah permasalahan pariwisata Belitung. Baik permasalahan dari regulasi, sarana prasarana penunjang, dan pola pikir masyarakat.
Dino menjelaskan, mulai April-Mei ini kondisi bisnis pariwisata Belitung mulai membaik dibandingkan beberapa waktu lalu saat pandemi belum terkendali.
Hanya saja kondisi ini menimbulkan keresahan seberapa lama bertahan.
Permasalahan lain misalnya ketika menghadapi G20 September mendatang, dari sisi perhotelan tidak siap secara keseluruhan.
''Kamar suite seluruh hotel di Belitung hanya ada 8 kamar, sedangkan untuk G20 butuh 20 kamar suite. Berarti hotel perlu ada yang mengubah, Sheraton yang mengubah," ungkapnya.
FGD tersebut juga menggandeng akademisi dari Binus University.
Head of Corporate Strategy and Agility, Area of Knowledge Inquiry in Doctor of Research in Management (DRM) program Binus University Mohammad Hamsal mengungkapkan bahwa bicara pariwisata sebenarnya bicara strategi daya saing.
Baca juga: Buron Selama Dua Tahun, Pelaku Perompakan di Bangka Selatan Ditangkap Dit Polairud Polda Babel
"Orang datang karena unik, jadi bukan berkompetisi menjadi yang terbaik tapi menjadi yang terunik. Karena unik itulah orang datang ke Belitung. Saya lihat banyak keunikannya termasuk posisi strategis," katanya.
"Jangan menonjolkan yang sudah ada di tempat lain, justru yang belum ada, yang beda, itu yang ditonjolkan. Apa keunggulan atau keunikan dari Belitung. Kalau menonjolkan apa yang dimiliki Lombok, Labuan Bajo, Anambas, makanya destinasi harus tampil beda," lanjut Hamsal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20220606-fgd-1.jpg)