Perang Rusia dan Ukraina

Perdamaian Rusia dan Ukraina Sulit Tercapai, Demi Kepentingannya Amerika Tak Henti Berikan Bantuan

Amerika dan Sekutu dinilai egois tak mau Rusia dan Ukraina berdamai. Manfaatkan Ukraina kirim senjata canggih demi hancurkan Rusia

Editor: Hendra
(Yevgeny Silantyev/TASS)
Sebuah rumah di Kota Belgorod, Rusia hancur terkena hantaman rudal Ukraina, tampai sejumlah petugas layananan darurat mendatangi lokasi untuk melakukan evakuasi korban. 

POSBELITUNG.CO, -- Perdamaian antara Rusia dan Ukraina sepertinya akan sulit untuk dicapai.

Meskipun beberapa wilayah berhasil direbut oleh Rusia, Ukraina tak akan menyerah dan masih tetap melakukan perlawanan.

Bahkan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky terus meminta bantuan kepada negara Barat dan NATO.

Bantuan dari Amerika Serikat yang disebut-sebut sebagai sponsor utama bagi Ukraina terus mengirimkan persenjataan militernya.

Amerika Serikat juga tak ragu menggelontorkan dana besar kepada Ukraina hingga rela memberikan peralatan militer tercanggihnya.

Baca juga: Belarusia Gabung ke Rusia, Siap Perang Usai Tangkis Serangan Rudal Ukraina ke Fasilitar Militernya

Juru bicara kepresidenan Rusia Dmitry Peskov mengatakan Washington tidak mengizinkan Kiev untuk berpikir atau berbicara tentang perdamaian dengan Rusia.

"Sekarang adalah saat ketika negara-negara Barat bertaruh pada kelanjutan perang. Ini berarti momen berlanjut ketika negara-negara Barat, di bawah kepemimpinan Washington, tidak mengizinkan Ukraina untuk berpikir atau berbicara tentang perdamaian," kata Peskov dalam sebuah wawancara. dengan saluran TV Rossiya-1 dikutip TASS, Minggu (4/7/2022).

Pada saat yang sama, dia yakin bahwa cepat atau lambat akal sehat di Barat akan menang dan negosiasi di Ukraina akan dilanjutkan.

"Sekarang permintaan inisiatif untuk menenangkan situasi telah menurun. Tetapi kami tidak ragu bahwa cepat atau lambat akal sehat akan menang dan sekali lagi giliran negosiasi akan datang," tambah Peskov.

Dia juga mencatat bahwa sebelum proses negosiasi dilanjutkan, Ukraina harus "sekali lagi memahami kondisi Moskow".

"Setuju dengan mereka. Duduk di meja. Dan formalkan saja dokumen yang sudah disepakati dalam banyak hal," tutup Peskov.

Para pemimpin Eropa paling sering kekurangan kekuatan untuk dibimbing hanya oleh kepentingan negara mereka, mereka harus mengikuti Barat secara kolektif, kata juru bicara kepresidenan Rusia.

Baca juga: Jokowi Bertemu Vladimir Putin, Dunia Harus Damai, Bersedia Jembatani Perdamaian Rusia dan Ukraina,

“Para pemimpin Eropa, mereka masih memiliki negara sendiri dengan kepentingan mereka sendiri. Dan mereka sebenarnya dapat memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Kami melihat ini dengan sangat baik,” kata Peskov mengomentari perbedaan antara negara-negara di G20.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mengatakan bahwa 'Tirai Besi' baru sedang turun di antara Moskow dan Barat.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved