Akibat Tambang Ilegal 3000 Hektar Lahan di Babel Kritis, PT Timah Rugi Rp2,5 Triliun Tiap Tahun

PT Timah rugi Rp2,5 triliun per tahun, 3000 hektar lahan kritis, smelter diminta melaporkan sumber penambangan timahnya

Editor: Hendra
POS BELITUNG/DISA ARYANDI
Lahan kritis bekas lokasi tambang yang berada di wilayah Kecamatan Gantung, Belitung yang terpantau dari helikopter BNPB saat pemantaun lokasi banjir, Kamis (20/7/2017) 

POSBELITUNG.CO, JAKARTA,  --  Tata kelola pertambangan timah di Bangka Belitung saat ini dinilai belum ideal.

Hal ini terlihat dari maraknya aktifitas tambang ilegal di Bangka Belitung hingga menyebabkan kerusakan hutan yang sangat parah.

Dalam webinar BRiNST - Seminar Hybrid “Timah Indonesia dan Penguasaan Negara”, Jumat (22/7/2022) Direktur Jenderal Mineral dan Batubara pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Ridwan Djamaluddin mengatakan akibat aktifitas penambangan ilegal ini terdata ada 3.000 hektar lahan di Bangka Belitung mengalami rusak kondisi kritis.

Tak hanya mengakibatkan ribuan hektar lahan di Bangka Belitung kritis, aktifitas tambang ilegal juga telah membuat PT Timah yang merupakan perusahaan BUMN mengalami kerugian Rp 2,5 trilliun per tahun.

“Setiap tahun itu PT Timah rugi Rp 2,5 triliun akibat kegiatan ilegal. Kita juga mencermati seberapa luas dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh kegiatan ilegal ini. Kami mencatat 3.000 ha lahan kritis yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan timah ilegal,” kata Ridwan.

PJ Gubernur Bangka Belitung ini juga mengatakan bahwa dalam rapat dengan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan akan melakukan audit terhadap tata kelola PT Timah.

Dari pertemuan tersebut, juga telah ada surat edaran per 1 Juli 2022 kepada semua smelter melaporkan sumber timahnya.

“Artinya ini adalah bentuk yang ingin kita wujudkan dalam waktu dekat, dimana semua smelter melaporkan sumber penambangan timahnya. Kami juga berencana membuat sistem informasi batu bara dan mineral (Simbara) yang juga diusulkan untuk timah, agar mempertanggungjawabkan dari mana timahnya berasal,” jelasnya.

Kedepannya, ia berharap penambang-penambang ilegal bisa beralih untuk menjadi penambang legal.

Sementara disisi lain timah merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan oleh dunia dalam jangka panjang.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved