Perang Rusia dan Ukraina

Joe Biden Beri Kado Istimewa di Hari Kemerdekaan Ukraina, Kucurkan Rp44 Trilliun untuk Melawan Rusia

Tak ingin kehilangan moment memerangi Rusia, Amerika rela gelontorkan bantuan total Rp 44 trilliun untuk Ukraina melawan Rusia

Editor: Hendra
Ukrinform.net
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden dan Presiden Ukraina, Volodimir Zelensky 

POSBELITUNG.CO, --  Ukraina mendapatkan kado teristimewa pada 24 Agustus atau tepat pada perayaan Hari Kemerdekaanya.

Kado istmewa tersebut diberikan oleh Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.

Ia memberikan kado berupa bantuan militer sekitar Rp 44 Trilliun, tepat pada Rabu (24/8/2022).

Joe Biden sepertinya seolah tak ingin melewatkan moment memerangi Rusia dengan cara membantu Ukraina.

Dan yang istimewanya, kado istimewa itu juga diberikan bertepatan dengan 6 bulan Ukraina diinvasi Rusia.

Kado istimewa ini tentunya sangat dinanti-nantikan oleh Presiden Ukraina Volodimir Zelensky.

Pasalnya saat ini Ukraina sangat membutuhkan bantuan militer dari negara sekutunya itu untuk mengimbangi perang lawan Rusia.

Dalam sebuah pernyataan, Biden mengisyaratkan ketegasan komitmen AS untuk perjuangan Ukraina.

Dia mengatakan 2,98 miliar dolar AS untuk senjata dan peralatan lainnya bertujuan untuk memastikannya dapat terus mempertahankan diri dalam jangka panjang.

Dana baru akan digunakan untuk sistem pertahanan udara, artileri dan amunisi yang banyak dibutuhkan untuk sistem tersebut, serta radar dan sistem untuk melawan drone Rusia, kata Biden.

Mengucapkan selamat kepada Ukraina atas kemerdekaannya, yang dideklarasikan dari Uni Soviet pada tahun 1991, Biden mengatakan AS berkomitmen untuk mendukung rakyat Ukraina saat mereka melanjutkan perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan mereka.

"Hari ini bukan hanya perayaan masa lalu, tetapi juga penegasan bahwa Ukraina dengan bangga tetap, dan akan tetap, negara yang berdaulat dan merdeka," kata Biden, seperti dilansir CNA.

Biden juga memuji perlawanan Ukraina terhadap invasi, yang diluncurkan oleh Presiden Vladimir Putin pada 24 Februari setelah bertahun-tahun gagal mencoba untuk menegaskan kembali kendali Rusia atas negara yang tampak ke barat yang telah mendorong kuat untuk keanggotaan di NATO dan Uni Eropa.

Ribuan tentara di kedua sisi dan ribuan warga sipil tewas dalam pertempuran skala terbesar yang terlihat di Eropa sejak Perang Dunia II.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved