Kabar Selebritis

Ingin Buat Film Perjuangan Munir, Hanung Bramantyo Alami Hal Ini, Sebut Keadilan Susah Ditegakan

Hanung Bramantyo sempat ingin membuat film tentang kematian Munir, namun gagal karena ia mendapatkan telepon dari pensiunan tentara.

Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: Hendra
tribunnews.com
Hanung Bramantyo, Munir 

POSBELITUNG.CO -- September 2004, Munir Said Thalib, S.H., seorang aktivis Hak Asasi Manusia Indonesia mati dibunuh di dalam pesawat dengan cara diracun.

Munir saat itu tengah melakukan penerbangan dari Jakarta ke Belanda, dengan tujuan melanjutkan pendidikannya ke Amsterdam, Belanda.

Munir adalah seorang aktivis yang gigih memperjuangkan keadilan dan kebenaran pada masa orde baru.

Keberpihakan Munir selalu kepada kaum buruh, aktivis mahasiswa, pemuda, serta kelompok masyarakat lain yang mengalami penindasan.

Profesinya sebagai pekerja bantuan hukum di LBH (Lembaga Badan Hukum) membuat Munir terjun langsung dalam serangkaian aksi untuk menyuarakan ketimpangan dan ketidakadilan di Indonesia.

Namun naasnya, Munir harus meregang nyawa dengan cara yang cukup tragis lantaran meminum racun jenis arsenik di dalam pesawat dengan nomor penerbangan GA-974.

Dilansir dari Kompas.com, sebelum menghembuskan nafas terakhir, Munir sempat mengeluhkan sakit perut usai meminum jus jeruk.

Menurut kesaksian, setelah pesawat lepas landas dari transitnya di Bandara Changi, Munir sempat beberapa kali ke toilet dan terlihat seperti orang sakit.

Dia mendapat pertolongan dari penumpang lain yang berprofesi sebagai dokter.

Munir pun dipindahkan ke sebelah bangku dokter dan mendapat perawatan.

Tak lama, Munir dinyatakan meninggal dunia pada ketinggian 40.000 kaki di atas tanah Rumania, tepatnya dua jam sebelum mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda.

Diberitakan dari harian Kompas, 19 Maret 2005, setengah tahun setelah kasus tersebut, tim penyidik Mabes Polri menetapkan pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto sebagai tersangka.

Tidak hanya itu, terdapat pula beberapa nama yang ikut terlibat dan dihukum berdasarkan putusan pengadilan, yakni Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Indra Setiawan, dan Sekretaris Chief Pilot Airbus 330 PT Garuda Indonesia, Rohainil Aini.

Kasus kematian aktivis Munir ini mampu menorehkan sejarah panjang yang kelam di Tanah Air.

Meski sederet nama telah ditetapkan sebagai tersangka, namun hingga saat ini dalang atau otak dari pembunuhan tersebut belum juga terungkap.

Menarik, hal inilah yang sempat membuat seorang sutradara, Hanung Bramantyo, sempat berkeinginan untuk membuat film yang menceritakan kisah tentang kematian Munir.

Hal ini diungkapkan sang sutradara melalui akun Instagram pribadinya, @hanungbramantyo.

Tangkapan layar dari unggahan Hanung Bramantyo terkait keinginannya membuat film tentang kasus kematian Munir
Tangkapan layar dari unggahan Hanung Bramantyo terkait keinginannya membuat film tentang kasus kematian Munir (Instagram @hanungbramantyo)

"Tanggal 7 Sept 2004, lelaki pejuang HAM ini dibunuh. Sampai hari ini dalangnya tidak tertangkap," tulis Hanung Bramantyo di akun Instagramnya.

"Pernah suatu hari saya diminta membuat filmnya. Tanpa ragu saya menyatakan bersedia," sambungnya.

Namun siapa sangka, niat Hanung Bramantyo untuk membuatkan film tentang kematian Munir diketahui oleh orang yang ia sebut sebagai pensiunan tentara.

Orang tersebut menghubungi Hanung Bramantyo, mengaku sebagai fans, dan ingin bertemu dengan sang sutradara.

"Paginya, saya ditelf orang tak dikenal yang dengan sopan meminta saya untuk berjumpa. Katanya ngefans sama saya dan pengen kenalan. Setelah saya selidiki ternyata si penelphone seorang pensiunan tentara," ungkap Hanung.

Hal ini tentu membuat Hanung Bramantyo seakan tersentil dan mulai timbul ada perasaan yang tidak enak.

Oleh karenanya, sang sutradara mengurungkan niatnya tersebut, lantaran tidak ingin ada sesuatu hal buruk terjadi pada dirinya.

"Hati saya langsung mak jleb. Perasaan saya gak enak. Mulai saat itu, saya memutuskan untuk mengurungkan niat membuat film tentang Munir, daripada nasib saya seperti sang Brigadir," tulis Hanung.

Menelisik banyak kasus dan fenomena yang ada saat ini, Hanung Bramantyo nampak sindir soal keadilan yang ia sebut sulit ditegakan jika menyangkut aparat.

"Pelakunya sudah tertangkap, tapi dalangnya masih bebas. Siapa dia? Yang jelas orang kuat. Mungkin Aswatama," kata Hanung melalui tulisannya.

"Melihat tragedi Duren Tiga, saya jadi paham kalau keadilan sulit ditegakkan jika menyentuh aparat," sindir sang sutradara.

Tak lupa, dalam unggahannya tersebut, Hanung Bramantyo memanjatkan doa terbaik untuk almarhum Munir.

"Buat cak Munir, saya titipkan doa. Semoga keadilan segera tiba buat sampean. Agar keluarga yang ditinggalkan tenang. Alfatehah …," tutup Hanung.

(Posbelitung.co/Fitri Wahyuni)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved