Berita Belitung
Kenaikan Harga BBM dan Sparepart, Assapel Minta Pemkab Belitung Tinjau Tarif Angkutan
Boy berharap Pemkab Belitung melalui dinas teknis bisa meninjau kembali ketetapan tarif angkutan yang sudah tujuh tahun tidak berubah.
Penulis: Dede Suhendar |
POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Para sopir truk pelabuhan yang tergabung dalam assosiasi sopir pelabuhan (Assapel) sangat terdampak akibat kenaikan BBM bersubsidi jenis bio solar.
Ketua Assapel, Suhar Iswandi mewakili ratusan rekannya sesama sopir menuturkan pasca harga bio solar naik dari Rp5.150 menjadi Rp6.800 perliter membuat pendapatan mereka turun drastis.
Ditambah harga sparepart maupun perlengkapan kendaraan yang sudah lama melambung tinggi.
Sementara tarif angkutan barang yang diatur dalam Keputusan Bupati Belitung Nomor 188.45/603/KEP/HUBKOMINFO/2014 tidak pernah berubah semenjak ditetapkan tahun 2014 tidak pernah mengalami penyesuaian.
"Kalau dampak sih jauh sekali yang dirasakan para sopir ini. Terutama ongkos, kalau kami narik ke Jangkang atau Kampit biasanya bisa menyisihkan Rp300 ribu sekarang tinggal Rp100 ribu lebih, itu belum dipotong biaya operasional lain," ujar pria yang akrab disapa Boy itu kepada posbelitung.co pada Selasa (13/9/2022).
Oleh sebab itu, Boy berharap Pemkab Belitung melalui dinas teknis bisa meninjau kembali ketetapan tarif angkutan yang sudah tujuh tahun tidak berubah.
Sementara harga BBM sudah naik ditambah sparepart yang kian mahal.
Ia menuturkan Assapel secara resmi sudah bersurat kepada Ketua DPRD Kabupaten Belitung untuk meminta audensi membahas tarif angkutan.
"Memang kami usulkan naik 35 persen dari kenaikan BBM 31 persen dan sparepart 51 persen. Tapi itu tergantung kesepakatan nanti angkanya berapa," ungkap Boy.
Ia menjelaskan jika dalam satu kali tarikan dengan rute daerah Jangkang, Kabupaten Beltim tarif dibayar sekitar Rp305 ribu.
Sementara kebutuhan solar minimal 16 liter dengan harga Rp108.800 ditambah ongkos sopir Rp60 ribu jika pemilik truk menggunakan jasa sopir.
Sisa uang Rp136.200 dimanfaatkan sopir untuk makan ditambah biaya sparepart rutin maupun tidak terduga.
"Kalau misalnya ban bocor sudah tambah lagi pengeluaran atau ganti oli. Sementara tarikan ini tidak setiap hari, jadi kami serba salah sekarang, mau narik rugi tidak narik tidak ada pemasukan," ungkapnya.
Boy menambahkan biaya sparepart yang paling terlihat kenaikannya terdapat pada ban truk.
Menurutnya pada tahun 2014 harga ban kualitas original Rp750 sedangkan saat ini sudah Rp1,5 juta.
Sementara jika tarikan rutin dengan jarak jauh, usai ban hanya bertahan sekitar empat bulan.
"Artinya kami harus nyisihkan Rp300 ribu perbulan hanya untuk ban. Belum ganti oli dan lainnya," kata Boy.
(posbelitung.co/dede s)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20220913-ketua-assapel-bersama-rekannya.jpg)