Breaking News:

Berita Belitung

BNPB Belitung Timur Gelar Sosialisasi Mitigasi Non Struktural di SLB Negeri Tanjungpandan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Belitung Timur, melakukan sosialisasi mengenai mitigasi non struktural di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Penulis: vine febriani | Editor: nurhayati
Dok/SLB Tanjungpandan
SLB Tanjungpandan Belitung 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Belitung Timur melakukan sosialisasi mengenai mitigasi non struktural di Sekolah Luar Biasa (SLB)  Negeri Tanjungpadan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (14/9/2022).

Perwakilan BNPB Belitung Timur, Yuliana, menilai mitigasi non struktural ini efektif untuk diimplementasikan di lingkungan SLB Negeri Tanjungpadan.

Mengingat SLB tidak seperti sekolah pada umumnya, akan banyak sekali mitigasi-mitigasi yang harus disesuaikan dengan warga SLB ini. 

Menurut Yuliana, sekolah aman bencana itu merupakan, sekolah yang menerapkan standar sarana dan prasarana, serta budaya yang mampu melindungu warga sekolah dan lingkungan disekitarnya dari bahaya bencana.

Dengan itu, penerapan mitigasi non struktural yang diterapkan terdiri dari beberapa point yaitu, pembentukan destana, sosialisasi partisipasi rutin di sekolah, lomba mewarnai tema kebencanaan untuk anak-anak, pembentukan SPAB, penelitian daerah rawan bencana oleh ahli dari instansi pemerintah maupun NGO.

"Mari kita sama-sama dukung SLB Negeri Tanjungpadan ini menuju sehat, aman, dan ramah difabel," ajak Yuliana, 

Kepala sekolah SLB Negeri Tanjungpandan, Rhama Duniati, mengatakan, kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat  karena jika terjadi kebakaran mereka bisa mengatasinya.

Pasalnya selama ini dia khawatir jika terjadi kebakaran, sedangkan mereka belum dibekali oleh mitigasi bencana.

"Kami punya bengkel las, takutnya di belakang sana tiba-tiba terjadi kebakaran, kami kalang kabut, apalagi siswa kami," ungkapnya.

Menurutnya, mitigasi non struktural ini  dianggap penting oleh SPAB SLB ini, karena siswa (termasuk berkebutuhan khusus) merupakan anggota masyarakat yang rentan terhadap bencana, dan komunitas sekolah khususnya siswa merupakan agen sekaligus komunikator yang menyebarluaskan tentang pendidikan bencana kepada lingkungannya.

Tidak hanya itu saja, siswa merupakan aset pembangunan dan masa depan bangsa sehingga dilindungi dari berbagai macam bencana, serta 30 hingga 35 persen waktu anak dalam sehari dihabiskan di sekolah.

( Posbelitung.co/Vine Febriani)

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved