Leisure

Arkillaa Mangrove Lounge, Pesona Surga yang Hilang Dikelilingi Hutan Bakau di Belitung

Arkillaa Mangrove Lounge yang berada di Sungai Berang, Desa Bantan, Kabupaten Belitung, menawarkan pesona wisata yang menawan. Bangunan serba kayu ter

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Fery Laskari
posbelitung.co
Suasana alami bangunan Arkillaa Mangrove Lounge yang merupakan floating lounge di tengah muara sungai Desa Bantan, Kecamatan Membalong, Selasa (20/9/2022). (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari) 

POSBELITUNG.CO , BELITUNG - Arkillaa Mangrove Lounge yang berada di Sungai Berang, Desa Bantan, Kabupaten Belitung, menawarkan pesona wisata yang menawan. Bangunan serba kayu terapung di tengah muara sungai dan dikelilingi hutan bakau ini memang bak "surga yang hilang".

Hijaunya pepohonan bakau membuat pemandangan terasa adem dan tenang, cocok bagi wisatawan yang ingin bersantai dan menjauh dari rutinitas perkotaan. 

Objek wisata yang baru dibuka ini merupakan bar dan resto ini memang mengusung konsep yang simpel dan alami. Meski tempatnya tak begitu besar, namun banyak meja dan kursi tempat pengunjung duduk sembari menikmati makanan dan minuman. Di tengah-tengahnya terdapat bar sekaligus dapur tempat chef dan bartender menyiapkan pesanan.

Bangunan utama ini merupakan bangunan dua lantai, dimana lantai atasnya digunakan pula sebagai tempat duduk pengunjung. Dari atas bangunan dua lantai inilah terlihat sekeliling hutan bakau, serta lautan di barat daya Sungai Berang. 

Pemilik Arkillaa Mangrove Lounge, Dickson Lim semula memang berniat membangun resort bernama Arkillaa Lost Paradise. Sesuai namanya, surga yang hilang, lokasinya di Kecamatan Membalong ini memang masih asri dan lestari. 

"Kalau resort hanya monoton kamarnya saja tamu-tamu yang tinggal di situ pasti bosan, akhirnya kami juga memikirkan fasilitas lain yang unik, yang membuat tamu dan wisatawan yang datang tidak bosan, bisa merasa betah," cerita Dickson kepada Posbelitung.co, Senin (19/9/2022). 

"Maka mulailah merancang apa yang bisa menjadi atraksi menarik wisatawan, saya lihat di sini indah sekali. Waktu saya berkeliling dengan kapal yang saya sewa, saya lihat pemandangan indah sekali, cocok jika membuat wisatawan datang, betah, bisa selfie dan berfoto. Tapi tentu harus ada yang lebih menarik, akhirnya terbersit di pikiran saya, coba bikin kafe atau lounge yang terapung," imbuhnya. 

Ide membangun resort beserta kafe terapung itu sempat tertunda lantaran pandemi melanda. Meski belum mampu mewujudkan resort, menjelang pertemuan G20 lalu di Belitung, ia pun menargetkan pembangunan floating lounge atau lounge terapung dalam waktu 3 bulan.

Rencana tersebut rupanya rampung dalam waktu 2,5 bulan meski ukuran tak begitu besar, serta masih dalam penambahan di beberapa bagian, floating lounge impiannya pun terwujud. Bahkan, meski sempat disebut-sebut sebagai ide gila, mimpinya membangun tempat ini mendapat sambutan baik dari pengunjung yang datang. 

"Mudah-mudahan ini akan menjadi destinasi baru untuk orang Belitung  dan untuk wisatawan dari luar. Kalau memungkinkan saya akan mencari tempat lain lagi untuk membangun konsep yang sama, karena saya rasa ini mendapat sambutan antusias dari pengunjung. Sehingga sebagai pemrakarsa dan yang memberikan ide, saya senang karena ide ini bisa dinikmati orang banyak," katanya.

Halaman
12
Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved