Berita Belitung

Nelayan Belitung Belum Terima Bantuan Pascakenaikan Harga BBM , Berdampak pada Pengeluaran Modal

Pascakenaikan harga BBM, Forum Nelayan Baro belum menerima bantuan dalam bentuk apapun dari pemerintah.

Tayang:
Penulis: Dede Suhendar | Editor: Novita
Posbelitung.co/Dede Suhendar
Ketua Forum Nelayan Baro Erwin (kiri) bersama wakilnya, di dermaga nelayan Baro. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Kenaikan harga BBM jenis bio solar dari Rp5.250 menjadi Rp6.800 per liter turut dikeluhkan kaum nelayan.

Ketua Forum Nelayan Baro, Erwin, mengakui kenaikan BBM sangat berdampak terhadap pendapatan mereka terutama modal.

Sementara hasil tangkapan ikan sudah tak bisa diprediksi. Apalagi tangkapan mereka bukan konsumsi ekspor, tapi pasar lokal.

"Jadi kami sekarang simalakama juga, karena mau menaikkan harga ikan, kondisi ekonomi masyarakat juga kurang baik. Jadi kalau berdampak itu pasti," kata Erwin kepada Posbelitung.co pada Sabtu (24/9/2022).

Demi menyiasati kondisi tersebut, lanjutnya, khusus nelayan harian berencana menaikkan harga sewa perahu. Mengingat nelayan Baro sendiri memiliki ciri khas, yaitu adanya masyarakat yang menumpang untuk memancing.

"Rencananya ada kenaikan sedikit dari Rp35 ribu menjadi Rp50 ribu per orang. Masih terjangkau lah bagi masyarakat," ucapnya.

Pascakenaikan harga BBM, Forum Nelayan Baro belum menerima bantuan dalam bentuk apapun dari pemerintah.

Padahal, imbuhnya, mereka sangat berharap mendapat bantuan tersebut untuk meringankan beban sehari-hari.

"Kami mohon perhatian kepada pemda Belitung ini terutama setelah kenaikan harga BBM," kata Erwin.

Ia menjelaskan, Forum Nelayan Baro memang sudah lama terbentuk. Tetapi sekitar sembilan bulan lalu sudah legal dengan akta notaris. Sampai saat ini kelompok tersebut menaungi anggota 70 orang dengan ukuran kapal yang berbeda-beda.

"Alhamdulillah sekarang kami sudah legal tercatat di notaris dengan kepengurusan baru," ucapnya.

Selain Erwin, seorang nelayan Tanjung Kubu, Jaya, juga merasakan kondisi yang sama. Nelayan pemancing cumi itu merasa kenaikan harga BBM sangat berdampak bagi pendapatannya.

Ia menuturkan, semenjak harga BBM naik, terdapat selisih sekitar Rp33 ribu jika membeli solar per jeriken 20 liter Ditambah lagi, pertalite yang digunakan sebagai bahan bakar genset.

"Pasti berdampak karena modal turun bertambah. Sementara harga cumi tidak naik," tuturnya.

Jaya menuturkan, saat ini kondisi tangkapan terbilang menurun karena pengaruh cuaca. Tak jarang, dalam satu malam mereka hanya mendapat cumi satu sampai dua kilogram.

Jika diakumulasikan dengan harga cumi Rp80 ribu per kilogram, pendapatan hanya Rp160 ribu per malam.

"Itu untuk hitung-hitungan turun ke laut sekitar sini. Belum yang jauh, misalnya ke arah Membalong, itu biayanya lebih besar lagi," kata Jaya.

Ketika ditanya bantuan pemerintah, Jaya memang belum pernah mendapatkan dalam bentuk apapun.

Padahal dirinya sudah memiliki kartu nelayan, meskipun belum terdaftar di kelompok nelayan.

"Kalau bantuan, belum pernah dapat. Kalau pemerintah mau ngasih, Alhamdulillah. Tapi kalau tidak ada, kami tidak bisa memaksa juga," imbuhnya.

Ia menambahkan, pascakenaikan harga, penyaluran solar tetap lancar seperti biasanya. Khusus nelayan Tanjung Kubu biasanya membeli solar di APMS Desa Batu Itam.

"Suplai minyak masih lancar. Karena kami kalau cuman mancing dekat itu, sekali turun hanya 5-7 liter solar dan pertalite lima liter," kata Jaya.

Belum Ada Rencana

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Belitung, Firdaus Zamri, mengatakan, sampai saat ini belum ada rencana untuk pemberian bantuan bagi nelayan.

Selain berkenaan dengan anggaran, kondisi kenaikan harga BBM juga terjadi secara nasional.

Oleh sebab itu, pihaknya akan melakukan kajian dengan bidang teknis, terutama menghitung selisih dari harga BBM dengan harga jual ikan.

"Kalau bantuan memang belum ada. Tapi rencanannya besok kami akan bahas dengan bidang tangkap, hasilnya akan kami sampaikan," kata Firdaus kepada Posbelitung.co pada Minggu (25/9/2022). (Posbelitung.co/Dede Suhendar)

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved