Berita Belitung Timur

Dinkes Beltim Lakukan Beragam Upaya Cegah Stunting, Tim Kesmas Fokus 1000 Hari Pertama Kehidupan

Pada kasus stunting, Tim Kesmas Dinkes Belitung Timur memfokuskan pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Editor: Novita
Posbelitung.co/Vine Febriani
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Belitung Timur, Muhammad Ikhsan 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Timur melakukan berbagai upaya untuk mencegah stunting, sehingga setiap tahun terjadi penurunan angka stunting. Terdapat dua upaya yang dilakukan oleh Dinkes yakni, spesifik dan sensitif atau langsung dan tidak langsung.

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Belitung Timur, Muhammad Ikhsan, target yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia di Peraturan Presiden (Perpres) No 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, bahwa 2024 nanti angka stunting harus turun berkisar 14 persen.

"Secara langsung, kami sudah punya tim percepatan penurunan stunting. Kami juga sudah punya desa-desa yang menjadi fokus penanganan stunting. Upaya tidak langsungnya, kami sudah bekerja sama dengan beberapa OPD (Organisasi Perangkat Daerah, red) yang terlibat," jelasnya kepada Posbelitung.co, Kamis (29/9/2022).

Upaya intervensi sensitif terbagi menjadi empat jenis, yaitu penyediaan air minum dan sanitasi, pelayanan gizi dan kesehatan, peningkatan kesadaran pengasuhan dan gizi serta peningkatan akses pangan ber gizi.

Begitu juga dengan upaya intervensi gizi spesifik, merupakan kegiatan yang langsung mengatasi terjadinya stunting. Di antaranya seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, dan kesehatan lingkungan.

Pada kasus stunting, Tim Kesmas Dinkes Belitung Timur memfokuskan pada 1000 hari pertama kehidupan. Dampak stunting umumnya terjadi disebabkan kurangnya asupan nutrisi pada 1000 hari pertama anak. Hitungan 1000 hari di sini dimulai sejak janin sampai anak berusia 2 tahun.

Permasalahan stunting, terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun. Awal kehamilan sampai anak berusia dua tahun (periode 1000 hari pertama kehidupan) merupakan periode kritis terjadinya gangguan pertumbuhan, termasuk perawakan pendek.

Ikhsan juga mengatakan, stunting merupakan kondisi dimana anak memiliki tinggi badan yang lebih rendah daripada rata-rata tinggi badan anak-anak seusianya.

Kondisi stunting dapat dipastikan dengan membandingkan panjang badan/tinggi badan anak dengan standar baku grafik pertumbuhan dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO).

Apabila panjang badan/tinggi badan anak menurut umurnya berada di bawah garis merah atau hitam pada grafik tersebut, maka anak dikatakan mengalami stunting.

Ikhsan melanjutkan, bahwa persoalan stunting tidak hanya sekadar masalah tinggi badan yang tidak normal saja.

Menurut berbagai penelitian, masalah stunting juga berhubungan dengan berbagai dampak jangka pendek dan jangka panjang, di mana akhirnya dapat memengaruhi kualitas hidup mereka di masa dewasa.

Anak yang stunting terbukti lebih berisiko untuk mengalami keterlambatan perkembangan kapasitas belajar yang buruk, lebih rentan terhadap penyakit dan tingkat kecerdasan yang kurang.

"Nanti pas masa dewasa, anak yang mengalami stunting akan memiliki perawakan tubuh yang pendek, berisiko mengalami penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus, dan produktivitas kerja rendah, sehingga pendapatan ekonomi juga berkurang," jelasnya.

Tak hanya itu saja, kehamilan remaja juga merupakan satu dari faktor yang dapat menyebabkan stunting. Kehamilan remaja adalah kehamilan yang terjadi pada perempuan yang usianya kurang dari 20 tahun. ( Posbelitung.co/Vine Febriani)

Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved