Pos Belitung Hari Ini

Ekonomi Dunia Tahun Depan Diperkirakan Suram, Indonesia Diprediksi Lolos dari Resesi 2023

Chatib menyampaikan, solusi dari persoalan yang akan dihadapi Indonesia tahun depan hanyalah tidak terintegrasi pada global.

Editor: Novita
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi sebagai pusat roda perekonomian Indonesia terlihat di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (9/10/2022). 

POSBELITUNG.CO, JAKARTA - Kondisi ekonomi global pada 2023 mendatang diperkirakan tidak terlalu baik. Sejumlah negara diprediksi bakal mengalami resesi dan kesulitan keuangan. Namun perekonomian Indonesia diperkirakan akan mampu bertahan pada tahun depan.

Mantan Menteri Keuangan 2013-2014 Muhammad Chatib Basri menyampaikan kondisi perekonomian global tahun depan terlihat tidak baik. Dalam outlook International Monetary Fund (IMF), kata Chatib, seluruh negara di dunia akan mengalami minus pertumbuhan ekonomi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2023 semua negatif, kalau permintaan energinya turun maka ini yang dianggap sebagai resesi global," ucapnya dalam Market Outlook Bank Mandiri, Rabu (12/10/2022).

Chatib meyakini hal tersebut akan semakin berpengaruh pada naiknya suku bunga acuan di Amerika Serikat dan Jerman.

"Kalau kedua negara besar tersebut bunganya naik maka berpengaruh terhadap ekspor China dan ini yang membuat perekonomian global slow down," imbuhnya.

Dosen senior Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyebut Indonesia secara otomatis merasakan imbas, yakni turunnya harga ekspor komoditas sebagai penopang ekonomi selama ini. Artinya dari segi eksternal, neraca dagang RI dipastikan terpukul cukup dalam tahun depan.

"Growth ekonomi kita mau tidak mau kena, tapi pertanyaannya adalah seberapa dalam," ungkap Chatib.

Dia menyampaikan solusi dari persoalan yang akan dihadapi Indonesia tahun depan hanyalah tidak terintegrasi pada global. Negara yang ekspornya sangat tinggi di kawasan ASEAN yakni Singapura sebesar 200 persen. Sedangkan Indonesia cenderung aman karena hanya 25 persen ekspor terhadap PDB.

"Kalau kita bicara ekstrem hilangnya ekspor kita akan hanya hilang 25 persen dan Indonesia akan lebih baik dibandingkan negara lain yang export oriented," tutur Chatib.

Namun demikian, dampak buruknya ketika ekonomi global pulih Singapura akan melompat, Indonesia kembali tertinggal. Chatib memandang di sisi lain inflasi Indonesia di level produsen sudah sekitar di atas 9 persen, sementara di level konsumen itu 5 persen.

"Logikanya produsen kan tidak mungkin mau jual rugi, masa cost-nya lebih mahal dari harga jual, dalam hal ini Bank Indonesia pasti akan meningkatkan suku bunga untuk menghandle inflasi," jelas dia.

Ekonom CORE Indonesia, Piter Abdullah Redjalam, saat dihubungi mengatakan tidak melihat Indonesia sebagai calon pasiennya IMF. Perekonomian Indonesia diperkirakan mampu bertahan walaupun banyak negara mengalami resesi dan kesulitan keuangan tahun depan.

" Indonesia tidak memiliki beban utang yang besar dan sangat disiplin dalam hal utang sebagaimana telah diatur dalam UU," ucap Piter.

Menurut dia, defisit APBN selama ini terjaga dibawah tiga persen PDB sehingga total utang Indonesia tidak pernah mendekati 60 persen PDB.

Halaman
123
Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved