Mengenal Hizbul Wathan, UKM di Unmuh Babel, Gerakan Kepanduan yang Menerapkan Nilai Islami
Hizbul Wathan merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung. Hizbul Wathan memiliki arti...
POSBELITUNG.CO -- Hizbul Wathan merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung.
Melansir dari ukmhw.umm.ac.id, Hizbul Wathan atau kerap disingkat HW memiliki arti pembela Tanah Air.
Hizbul Wathan adalah nama gerakan kepanduan dalam Muhammadiyah.
Gerakan ini didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan dengan nama semula Padvinder Muhammadiyah.
Namun hanya dalam waktu dua tahun, nama gerakan ini berubah menjadi Hizbul Wathan.
Ketua Hizbul Wathan Unmuh Babel, Lili (21), menjelaskan bahwa Hizbul Wathan didirikan dengan tujuan sebagai sarana pembentukan kader yang Islami.

"Kegiatan kami memang ada tujuannya," tutur Lili, saat dijumpai Posbelitung.co pada Jumat, (28/10/2022).
"Tujuannya membina dan mendidik peserta didik (kader) menjadi manusia dengan ke-Islaman yang sebenar-benarnya," sambung Lili.
Hal tersebut langsung diaplikasikan dan diterapkan melalui seragam dari para anggota Hizbul Wathan.
Di mana para anggota gerakan ini berpakaian dengan sopan sesuai aturan yang telah diterapkan berdasarkan nilai-nilai Islam.
Seragam dan atribut yg dikenakan tetap terlihat modis, sesuai selera anak muda, namun sarat akan norma agama.
"Dari kostum saja kami harus panjang," ujar Lili.
Sebagai gerakan asli dari organisasi Muhammadiyah, Hizbul Wathan ada di setiap jejang pendidikan.
Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi.
Penggolongan keanggotaan gerakan Hizbul Wathan menurut usia hanyalah untuk membedakan status sebagai peserta didik atau anggota dewasa (pembina).
Hizbul Wathan sudah banyak melahirkan kader hebat yang terlibat dalam beberapa event besar nasional.
Kontribusi gerakan mahasiswa ini tidak hanya sebatas hobi semata.
Lebih dari itu, Hizbul Wathan khususnya dari Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung ini sudah banyak berkiprah dan berkontribusi untuk Kota Pangkalpinang.
Mereka kerap terjun langsung ke lapangan guna berkotribusi bagi masyarakat dan lingkungan.
"Kami sering ikut kegiatan jambore daerah dan melakukan bersih-bersih sampah (World Cleanup Day)," urai Lili.
"Kami terjun bersih-bersih di sekitar kampus dulu, baru ke tempat lain, misal ke tempat wisata," tambahnya.
Salah satu anggota dari Hizbul Wathan Unmuh Babel, Fatih (22), menjelaskan apa yang mereka lakukan bukan tak beralasan.

Semua berdasarkan Kode Kehormatan Pandu Hizbul Wathan.
Kode kehormatan dalam Kepanduan Hizbul Wathan terdiri dari Undang-Undang dan Janji.
Yakni berupa seperangkat aturan atau ketentuan yang mengikat setiap anggota kelompok Hizbul Wathan dalam bermasyarakat atau bersosialisas.
Inilah yang digunakan sebagai panduan, tatanan, dan kendali prilaku para anggota yang sesuai (Islam) dan diterima oleh masyarakat.
"Kami rela berkorban dan siap berjasa, ada di undang-undang, itu patokan kami," kata Fatih.
"Kita sebagai mahasiswa pedoman kita Al-Quran da Hadist, turunan lagi kita harus siap menolong dan wajib berjasa, khususnya di UKM terlebih dahulu, baru ke yang lain," urai Fatih.
Sebaga informasi, gerakan Hizbul Wathan memiliki kegiatan yang dekat dengan alam, layaknya Gerakan Kepanduan Praja Muda Karana atau Gerakan Pramuka.
Pada dasarnya Hizbul Wathan dan Pramuka sebagai gerakan kepanduan adalah sama.
Tujuan dari kedua gerakan ini sama-sama ingin mendidik anak bangsa.
Namun kepanduan Hizbul Wathan lebih menekankan kepada kepanduan Islami.
Oleh karenanya gerakan ini menerapkan akidah Islam dalam setiap aspek kegiatan kepanduannya.
Para anggota Hizbul Wathan selalu dibekali dengan beragam pengetahuan untuk menunjang kepanduan mereka.
Fatih, salah satu anggotanya menceritakan, ia pernah terbang ke Palembang untuk mengikuti pelatihan kepanduan.
"Ke Palembang, pelatihan untuk menjadi pelatih athfal, anggota gerakan HW tinggat SD," kata Fatih.
Beberapa kegiatan atau latihan rutin dari gerakan Hizbul Wathan meliputi baris-berbaris, bermain tambur dan olahraga, kemudian ditambah dengan PPPK dan kerohanian.
(Posbelitung.co/Fitri Wahyuni)