Pemeran Jatuh Saat Drama, Kisah Heroik Perjuangan Rakyat Belitung Tampil Dalam Panggung Drama

Aksi heroik para pejuang menghadapi tentara Belanda yang terjadi di Jeramba Aik Seruk 77 tahun lalu dipentaskan apik di lokasi yang sama.

Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: M Ismunadi
Istimewa/Dok YouTube BEM21
Tangkapan layar momen pentas film drama Laskar Rakyat di Tugu Perjuangan Air Seruk, Jumat (25/11/2022) malam. 

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Tangan pejuang memegang erat ujung kayu yang mengikat bendera, melambaikan sang merah putih dari puncak tangga panggung.

Aksinya lalu terhenti saat tentara Belanda melepaskan tembakan.

DUARR! Suara tembakan memekak, tubuh pejuang terkulai jatuh dari puncak tangga ke dasar panggung. 

Adegan jatuh dari puncak tangga ini menjadi momen epik yang menjadi prolog pentas drama perjuangan Rakyat Belitung, Jumat (25/11/2022) malam.

Aksi heroik para pejuang menghadapi tentara Belanda yang terjadi di Jeramba Aik Seruk 77 tahun lalu dipentaskan apik di lokasi yang sama dengan perjuangan tersebut berlangsung, Jeramba Aik Seruk.

Para penonton bak dibawa mengunjungi kisah masa lalu dalam pentas film drama garapan Sanggar Jeramba.

Drama ini diadaptasi dari kisah nyata perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Belitung dalam buku Sejarah Perjuangan Rakyat Belitung karya Abdul Hadi Adjin dan kawan-kawan. 

Pentas para pemuda Desa Aik Seruk ini mengisahkan gerakan para pejuang yang tergabung dalam Laskar Rakyat menghadapi para penjajah.

Adegan klimaks pertempuran di Jeramba Aik Seruk yang menewaskan para pejuang membuat penonton berdebar.

Adegan ini disusul momen haru saat pemeran Lettu Mad Daud yang menjadi pimpinan Laskar Rakyat menggugah para pejuang lainnya setelah perang yang menewaskan rekannya. 

"Sedare-sedare, ndak ade perang tanpa korban. Perang kite hari ini pun mengorbankan banyak nyawe. Kitu jual Belanda. Artie hari ini kite dak menang, dan dak juak kala. Tapi satu hal yang aku yakin, generasi-generasi penerus kite dak kan kala. Anak cucu kite pasti akan menang dalam hidupnye," ucap pemeran Mad Daud. 

"Tapi perangnye generasi penerus kite bukanlah perang dengan senjate bambu runcing atau pun senapang. Tapi perangnye anak cucu kite adalah perang dengan senjate ati nurani, kejujuran, dan akhlak mulia, untuk ngelawan muso yang dak same dengan kite ari ini," tambahnya. 

Pentas film drama yang juga disaksikan para pejabat daerah Belitung ini tak berhenti saat momen pertempuran.

Kisah perjuangan ini berlanjut dengan pasukan Belanda yang membawa jenazah para pejuang ke Tanjungpandan.

Halaman
12
Sumber: Pos Belitung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved