Wisata Belitung

Wisata Belitung: Mengenal Beripat Beregong, Kesenian Cambuk Rotan Khas Belitung, Adu Kejantanan Pria

Tradisi beripat beregong diperkirakan muncul pada zaman Kerajaan Badau yang berada di Desa Mentigi, dulunya hidup seorang gadis yang sangat cantik.

Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: Tedja Pramana
Posbelitung.co
Kesenian Beripat, mempertandingan dua orang saling memukul memakai rotan, di pantai Nyiur Melambai. Jumat, (6/7/2018) 

POSBELITUNG.CO - Melansir dari dispar.belitung.go.id, beripat beregong merupakan jenis olahraga bela diri dengan menggunakan senjata rotan bagi sepasang pemain.

Masing masing pemain kemudian mengandalkan keahlian menangkis dan memukul lawan dengan sabetan rotan, untuk dapat menentukan yang kalah dan yang menang, dapat diketahui melalui jumlah luka di tubuh pemain.

Kendati demikian, pada akhir pertunjukan tidak memunculkan rasa dendam satu dengan yang lainnya.

Pertunjukan beripat dimulai dengan bunyi-bunyian dari peralatan musik beregong yang dimainkan secara serentak.

Kesenian rakyat beripat beregong tidak hanya digelar semalam saja, terkadang dapat digelar hingga tujuh hari tujuh malam.

Tergantung kondisi dari kemampuan ekonomi dan minat penyelenggaranya, karena pelaksanaan kesenian ini dapat menelan biaya yang relatif besar.

Mengutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, beripat beregong ini biasanya dapat ditemui saat pelaksanaan tradisi tahunan Marastaun di Belitung.

Tradisi beripat beregong dimainkan dengan cara yang tidak mudah, dibutuhkan persiapan yang banyak dan juga biaya yang tidak sedikit, mulai dari selamatan sampai pembangunan rumah tinggi sekitar 6 hingga 7 meter.

Tempat ini nantinya akan digunakan bagi para penabuh alat musik.

Dalam menaikkan alat musik ke rumah tinggi tidak boleh dilakukan sembarangan, karena harus dipimpin ketua adat atau ahli waris pemilik gong.

Tradisi ini juga harus dihadiri oleh para petinggi adat, juru pisah, dan pencatat jumlah pukulan.

Setelah semuanya siap, barulah pria-pria yang ingin mencoba memainkan beripat beregong menemui sang tetua untuk ditanya asal rumah.

Pasalnya, para pria yang akan bertanding tidak boleh berasal dari kampung yang sama, bila dukun sudah menyetujui mereka bertanding, maka para lelaki tersebut bisa langsung menuju arena.

Selain itu yang tidak kalah penting harus dilakukan sebelum memulai duel adalah memeriksa rotan yang akan digunakan.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved