Wisata Bangka Belitung

Wisata Bangka Belitung: Sejarah Orang China Banyak di Bangka, Bermula dari Pertambangan Timah

Timah ditemukan di Pulau Bangka saat pulau kecil ini berada di bawah Kesultanan Palembang, dan tenaga kerja yang dianggap berpengalaman adalah.

Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: Khamelia
Tribun
Wisata Bangka Belitung : Sejarah Orang China Banyak di Bangka, Bermula dari Pertambangan Timah 

POSBELITUNG.CO -- Sebagai daerah penghasil timah terbesar di Indonesia, tak heran jika pulau Bangka Belitung pada zaman dulu menjadi tempat yang banyak disinggahi.

Timah ditemukan di Pulau Bangka saat pulau kecil ini berada di bawah Kesultanan Palembang, dan tenaga kerja yang dianggap berpengalaman dalam hal ini adalah orang Tionghoa.

Salah satu kelompok Tionghoa Han terbesar di Republik Rakyat Tiongkok, suku Kèjiā, dianggap terkenal memiliki keahlian di bidang pertambangan.

Sebagian besar kuli timah tersebut berasal dari satu kampung halaman, seperti para pekerja marjinal di Jakarta saat ini, saat mereka pulang kampung dan kembali ke Bangka, mereka mengajak kawan dan sanak saudaranya datang.

Melansir dari Bangkapos.com, sejarawan dan budayawan Bangka Belitung penerima anugerah kebudayaan bernama Akhmad Elvian mengatakan orang China tersebut sengaja didatangkan ke Pulau Bangka.

Elvian menjelaskan, mereka didatangkan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam diperintah Sultan Mahmud Badarudin I Jayo Wikramo (memerintah pada 1724-1757 Masehi) dan masa Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo (memerintah pada 1757-1776 Masehi).

"Sultan mendatangkan pekerja-pekerja China untuk menambang timah guna meningkatkan produksi timah di pulau Bangka," kata Elvian kepada Bangkapos.com, Kamis (27/1/2022) silam.

"Pekerja tambang dari China didatangkan oleh sultan Palembang, mengingat penduduk pribumi Bangka terutama orang darat lebih terkonsentrasi pada kehidupan berladang atau berume, serta orang laut dengan kehidupan di laut, pulau-pulau kecil dan di pesisir pantai," tambahnya.

Menurut Elvian, sejak masa Sultan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo mulailah berdatangan orang-orang China dari Siam, Malaka, Malaysia, dan dari Cina Selatan ke Pulau Bangka.

Kebanyakan mereka berasal dari suku Hakka (Kèjiā) dan Hokkian (Hoklo) dari Provinsi Guang Xi.

Karena keahlian dari orang-orang China di bidang pertambangan timah, maka produksi timah dari pulau Bangka kemudian terus meningkat.

Pada Tahun 1740 produksi timah dari Pulau Bangka mencapai sekitar 25.000 pikul, harga 1(satu) pikul dibeli Sultan Palembang Darussalam dengan harga sekitar 6 hingga 8 ringgit.

Hal tersebut berlangsung terus hingga abad ke-20, dengan seizin penguasa Kesultanan Palembang dan Kerajaan-kerajaan Melayu,

seperti Lingga dan Johor yang silih berganti menanamkan pengaruh di Bangka-Belitung, masyarakat Tionghoa pun membangun permukiman di Bangka.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved