Wisata Belitung

Wisata Belitung: Maras Taun, Tradisi Belitung yang Melegenda di Era Modernisasi

Maras taun adalah upacara yang dilakukan petani sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas panen padi ladang.

Penulis: Fitri Wahyuni | Editor: Khamelia
posbelitung.co
Suasana tradisi Maras Taun di Desa Selat Nasik, Kecamatan Selat Nasik, Minggu (27/3/2022). (Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)   

POSBELITUNG.CO -- Di era modernisasi sepert sekarang ini, Belitung masih memelihara tradisi leluhurnya, yakni upacara maras tuan.

Maras taun adalah upacara yang dilakukan petani sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas panen padi ladang.

Upacara maras taun ini terkait erat dengan ladang berpindah yang dalam bahasa Belitungnya disebut ume.

Untuk berladang atau berume, seseorang selalu berhubungan dengan dukun kampong. Peran dukun kampong dalam berume sangat besar. Mulai dari menentukan tempat, sampai dengan berakhirnya panen padi.

Ucapan rasa syukur ini juga mereka sampaikan kepada dukun kampong, karena mereka menganggap peran dukun kampong sangat besar.

Mereka menghargai dukun kampong dengan cara memberi hasilnya dari ladang berupa beras baru. Besarnya pemberian setiap orang yang berladang tergantung pada hasil panen dan kesepakatan di antara mereka.

Sebagai rasa syukur lainnya, mereka juga mengadakan hiburan dengan cara mempertunjukkan kesenian daerah seperti lesong batang panjang, beripat beregong, campak darat, dll.

Asal Usul Tradisi Maras Taun

Tradisi maras taun berasal dari masyarakat Belitung yang menempati bagian pesisir atau pedalaman daratan yang hidup berelompok menempati wilayah pemukiman yang disebut Kubok dan Parong.

Penghuni Kubok merupakan komunitas kecil yang berasal dari sebuah keluarga, kemudian berkembang menjadi beberapa keluarga hingga membentuk perkampungan kecil yang disebut Kubok.

Sementara penghuni Parong merupakan komunitas keluarga yang tidak berasal dari satu keluarga, melainkan dari beberapa keluarga dengan jumlah yang lebih besar, hingga membentuk sebuah perkampungan.

Baik Parong maupun Kubok dipimpin seorang ketua adat yang dituakan, disebut kepala Parong dan kepala Kubok.

Dituakan artinya memiliki keahlian, seperti ilmu perdukunan. Karenanya mereka menjadi ketua kelompok, secara otomatis mereka juga merangkap menjadi dukun yang melindungi warganya, disebut dengan dukun kampong.

Pola ini terus mengalir hingga saat ini, setiap kampung harus tetap memiliki seorang dukun kampong, disamping adanya lurah atau kepala desa sebagai pimpinan politis adminisratifnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved