Berita Belitung
PPKM Dicabut, Pariwisata dan Perhotelan Babel Dapat Angin Segar, Berharap Kunjungan Wisatawan Naik
Pencabutan PPKM ini disambut baik oleh berbagai kalangan. Tak terkecuali masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
POSBELITUNG.CO, BANGKA - Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah resmi dicabut pada akhir Desember 2022 lalu.
Keputusan ini diambil Presiden Joko Widodo dilandasi kajian-kajian sains, termasuk masukan dari para epidemiolog tentang imunitas masyarakat dan perkembangan virus Covid-19.
Pencabutan PPKM ini disambut baik oleh berbagai kalangan. Tak terkecuali masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Seperti halnya Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yoga Nursiwan, yang berharap dicabutnya PPKM berdampak baik untuk pariwisata di Belitung.
"Usai PPKM resmi dicabut, pariwisata di Belitung mendapatkan angin segar di bidang pariwisata yang kini makin menggeliat dilihat tingkat wisatawan terus berdatangan ke pulau Belitung," kata Yoga Nursiwan, Selasa (10/1/2023).
Yoga menjelaskan, kunjungan wisata yang datang ke Belitung, terus berdatangan menikmati sensasi berlibur baik bersama teman maupun keluarga.
"Banyak wisatawan berdatangan ke lokasi wisata mereka datang ke Pantai Tanjung Tinggi, Pantai Tanjung Kalayang dan Sekolah Replika Laskar Pelangi di Manggar. Hal ini membuat pariwisata di Belitung semakin menggeliat," lanjutnya.
Ia berharap, dengan meningkatnya kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara, bisa meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Pulau Belitung. Hal terpenting adalah perekonomiannya stabil.
Hal senada disampaikan Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Firmansyah Levi.
"Alhamdulillah ya, PPKM di Indonesia sudah usai dan kita sudah dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti sediakala. Setelah dua tahun ini kita selalu berhati-hati dan waspada dalam melakukan aktivitas akibat Covid19," kata Firmansyah.
Ia mengakui, selama PPKM diterapkan, banyak aktivitas dibatasi dan Work From Home (WFH).
"Sejak pandemi Covid-19, banyak kerja-kerja kita tidak maksimal, dan tahun ini kita maksimalkan guna meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat di Bangka Belitung," tambahnya.
Dia berharap, dengan pemberhentian PPKM, bisa menjadi awal yang baik di tahun 2023 dan lebih baik dalam mencari kesejahteraan dan peningkatan ekonomi masyarakat.
"Kita berharap dengan awal 2023 ini bisa menjadi peluang bagi para pelaku usaha di bidang apapun. Untuk lebih berkembang guna meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat di Babel," ucap Firmansyah.
Tetap Terapkan Prokes
Sementara itu, Polda Bangka Belitung mengingatkan kepada masyarakat di Bangka Belitung agar tetap menjalankan protokol kesehatan (prokes), terutama menggunakan masker, meskipun PPKM telah dicabut.
Kabid Humas Polda Bangka Belitung, Kombes Pol Maladi, mengatakan, dengan tidak berlakunya, masker diharapkan tetap digunakan di tempat-tempat tertentu.
"Karena sudah tidak diberlakukan lagi, diharapkan masyarakat tetap menggunakan masker di tempat keramaian umum atau tertutup," kata kata Maladi.
Ini dilakukan untuk menjaga diri sendiri dan lingkungan di sekitar dari penyebaran Covid-19.
"Ini untuk prokes diri sendiri dan lingkungan sekitar," ucapnya.
Sementara Kepala BPBD Provinsi Bangka Belitung, Mikron Antariksa, mengatakan, pencabutan PPKM diikuti dengan adanya aturan turunan, yakni Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 53 tahun 2022.
"Diteruskan dengan Instruksi Mendagri 53 Tahun 2022, memang sebenanrya yang dicabut itu adalah PPKM. Karena selama ini kegiatan masyarakat dibatasi, misalnya untuk aktivitas kantor, kegiatan pertemuan, keramaian yang dibatasi dan sekarang sudah dicabut," kata Mikron.
Dia menjelaskan, penyebaran Covid-19 selama ini bukan akibat keramaian. Tetapi berkembang varian baru Covid-19 yang menyebar di tengah warga.
"Kita juga sudah melakukan vaksinasi tingkat booster dan ini yang keempat untuk meningkatkan kekebalan komunitas. Karena saat ini telah 98 persen kekebalan komunitas sehingga keramaian sudah dibolehkan dan dicabut PPKM tersebut," ujarnya.
Sementara untuk status pandemi, kata Mikron, belum dicabut dan menjadi endemi karena menginduk kepada WHO, sehingga semua negara harus mengikutinya.
"Pandemi sendiri masih menginduk karena internasional, WHO belum mencabut menjadi endemi. Tetapi kita mempersiapkan masuk endemi, ada beberapa hal peran pemerintah yang dikurangi terhadap Covid-19. Selain itu, Tim Satgas Covid-19 juga belum dibubarkan, masih bertugas dimasa transisi dari pandemi ke endemi nantinya," terangnya.
Angin Segar buat Perhotelan
Keputusan pemerintah untuk mencabut PPKM pada 30 Desember 2022 menjadi angin segar bagi bisnis perhotelan.
Keputusan ini diambil Presiden Jokowi setelah melihat kasus harian Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir.
Santika Hotel Bangka menyambut baik pencabutan PPKM tersebut. Pihaknya pun berharap jumlah wisatawan ke Bangka terus meningkat seiring pencabutan PPKM, karena masyarakat tidak perlu khawatir saat bepergian.
"Kondisi bisnis perhotelan Santika saat ini sudah mulai meningkat jauh dibanding pandemi kemarin, dan pelaksanaan kegiatan pun mulai kembali normal," kata Public Relation Santika Hotel Bangka, Chintia Ayu kepada Bangkapos.com, Senin (9/1/2023).
Meski pelongaran kegiatan dan PPKM sudah dicabut, pihaknya tetap menerapkan protokol kesehatan yang berlaku, khususnya bagi para pegawai hotel.
Dikatakan Chintia, di momen hari libur pihaknya pun menawarkan promo Fantastic Weekend, yakni dengan harga Rp535.000 per satu malam, yang berlaku khusus Jumat - Minggu.
Pencabutan PPKM saat ini juga menjadi gairah baru bagi Novotel Hotel Bangka. Pihaknya pun berharap kondisi hotel ini segera pulih seperti sebelum Covid-19.
"Kondisi hotel masih belum begitu baik untuk Januari, beberapa instansi dan dinas juga belum memulai kegiatan. Tetapi jika dibanding Covid-19 kemarin, saat ini mulai membaik," sebut Director of sales Novotel Bangka, Sri Sufarni.
Ia menuturkan, hingga saat ini pihaknya masih tetap mengutamakan penerapan protokol kesehatan, baik bagi pegawai ataupun tamu yang berkunjung.
Bakal Berangsur Pulih
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung (UBB) Devi Valeriani menilai, kebijakan pencabutan PPKM disambut sukacita baik oleh masyarakat maupun para pelaku usaha.
Masyarakat, terutama siswa dan mahasiswa, saat ini sudah hampir 100 persen berkegiatan tatap muka, walaupun sebagian masih ada yang hybrid.
Menurutnya, kegiatan berwisata dan berlibur menjadi lebih leluasa dan maraknya sektor pariwisata berikut sektor pendukungnya terasa sangat kental.
"Secara kasat mata di Bangka Belitung, sektor pendukung pariwisata terutama kafe yang identik dengan tempat kuliner, utamanya kopi tumbuh menjamur. Memang sektor pariwisatalah yang sangat merasakan dampak dari pencabutan PPKM tersebut," kata Devi kepada Bangkapos.com, Selasa (10/1/2023).
Kata Devi, aktivitas ekonomi masyarakat diprediksi akan terus meningkat, terutama dalam perbelanjaan di sektor ritel, perdagangan besar, hingga perdagangan eceran.
"Namun segmen bisnis yang diperkirakan akan mengalami peningkatan tinggi di tahun 2023, di antaranya sektor pariwisata, restoran, perhotelan, hingga kafe. Berbagai sektor tersebut memang sudah menunjukkan pertumbuhan sejak awal kuartal III-2022," jelasnya.
Kemudian, lanjut Devi, digitalisasi setelah pencabutan PPKM tetap memberikan peran utama, karena digitalisasi saat ini mulai menjadi kebiasaan masyarakat. Seperti memesan tiket, berbelanja, dan sebagainya.
"Artinya, sektor digitalisasi, khususnya belanja online, tidak akan tergerus dengan pencabutan PPKM. Karena sejak awal diberlakukan PPKM, sudah menerapkan digitalisasi dalam berbagai aspek ekonomi hingga sekarang. Kondisi ini menggambarkan bahwa perekonomian Indonesia dan khususnya Bangka Belitung, akan terus tumbuh dengan pencabutan PPKM tersebut bahkan harapannya terungkit lebih tinggi lagi," bebernya.
Devi menyebut, mengingat Bangka Belitung merupakan daerah yang sedang mengembangkan sektor pariwisata, sehingga memiliki harapan yang besar akan pulih kembalinya sektor pariwisata.
Hal ini terlihat dari tingkat kunjungan wisatawan yang mengalami peningkatan hingga akhir tahun 2022.
Tingkat hunian hotel, tingkat kunjungan destinasi, volume penjualan oleh-oleh dan kuliner, serta yang paling terlihat melonjak adalah tingginya harga tiket pesawat seluruh maskapai penerbangan dari dan menuju Bangka Belitung.
Tingginya harga tiket pesawat dikarenakan supply dan demand yang tidak seimbang, di mana tingkat permintaan yang cenderung lebih tinggi dari tingkat penawaran, sehingga mekanisme pasar terbentuk.
Tingginya harga tiket pesawat tersebut, menurutnya, menjadi satu di antara pembentuk tingginya inflasi Bangka Belitung.
"Dengan pencabutan PPKM, pulihnya sektor pariwisata, maka sudah selayaknya jumlah penerbangan ke Bangka Belitung dan dari Bangka Belitung disesuaikan kembali seperti masa sebelum Covid 19," kata Devi.
"Dengan harapan aktivitas ekonomi semakin menggeliat, banyak tenaga kerja yang kembali bekerja, pengangguran menurun dan kemiskinan berkurang sehingga pertumbuhan ekonomi akan semakin menunjukkan angka yang meningkat," terangnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama/Sela Agustika/Andini Dwi Hasanah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20210824perpanjangan-ppkm.jpg)