Traveling
Wisata Budaya, Berikut Jenis Tarian Bangka Belitung, Unik dan Punya Sejarah
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) memiliki beragam jenis tarian khas daerah, berikut ulasannya:
POSBELITUNG.CO -- Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tak hanya terkenal karena keindahan wisata pantai serta lezatnya kuliner, namun ada hal terpendam lainnya yang patut anda ketahui.
Daerah ini juga punya wisata budaya. Di daerah ini terdapat berbagai jenis tarian khas loh.
Seperti dikutip pada Laman Kompas.com, Tarian Bangka Belitung pada zaman dahulu banyak digunakan sebagai hiburan pada saat musim panen maupun untuk mempererat hubungan antar kampung.
Saat ini, Tarian Bangka Belitung banyak dimanfaatkan sebagai penyambutan tamu, mengisi tradisi tahunan, maupun upacara adat.
Berikut ini beberapa tarian Bangka Belitung.
1. Tari Campak
Tari Campak berasal dari Bangka Belitung yang menggabarkan keceriaan bujang dan dayang Kepulauan Bangka Belitung. Tarian tersebut biasanya ditampilkan setelah panen atau sepulang dari ume (kebun).
Baca juga : Wisata Budaya Pulau Belitung, Punya Suku dan Ritual Unik, Langka dan Tetap Dipertahankan
Tari Campak juga digunakan sebagai hiburan berbagai kegiatan dalam menyambut tamu maupun pesta pernikahan di Bangka Belitung. Perkembangan tari Campak terjadi pada masa pendudukan bangsa Portugis di Bangka Belitung.
Hal tersebut terlihat dari ragam Tari Campak, yakni akordion dan pakaian penari perempuan yang lekat dengan gaya Eropa. Baca juga: 5 Daftar Nama Tarian Jambi, Apa Saja?
2. Tari Sepen
Tari Sepen adalah Tari Tradisional Belitung yang menggambarkan pergaulan di masyarakat Belitung. Gerakan tari Sepen mengandung unsur-unsur pencak silat.
Gerakan tersebut terlihat dominan pada kelincahan kaki dan tangan. Gerakan dasar tari Sepen adalah gerakan kaki, seperti melompat, menyilang dan menjinjit.
Ada juga gerakan tepuk tangan yang selaras musik pengiring. Para penari kerap melakukan variasi gerakan yang tampak indah namun tidak menghilangkan gerakan aslinya.
Baca juga : Wisata Pantai Belitung, Objek Pulau-pulau Kecil Kini Semakin Tebar Pesona
Fungsi tari Sepen adalah simbol pergaulan dan hiburan bagi masyarakat Belitung. Tari Sepen kerap muncul dalam acara syukuran, seperti perkawinan, tradisi adat maras taun, dan lain sebagainya.
Pertunjukan tari Sepen biasanya ditampilkan oleh penari beberapa penari laki-laki maupun perempuan secara berpasangan. Namun ada juga pertunjukan yang hanya menampilkan penampilan penari laki-laki saja atau perempuan saja.
3. Tari Serimbang
Tari Serimbang menggambarkan burung Cebuk yang memiliki daya pikat sehingga burung-burung lainnya tertarik untuk mengelilinginya.
Terutama saat, burung Cebuk berkicau dan mengepak-ngepakkan sayapnya, seperti sedang menari. Kepakan dan kelincahan burung Cebuk menjadi gerakan pokok Tari Serimbang.
Burung Cebuk adalah burung yang terdapat di daerah Tempilang, sebuah kecamatan di Kabupaten Bangka Barat.
Jenis Tarian, Jumlah Penari dan Gerakan Tari Serimbang diciptakan pada abad ke-17, yaitu sekitar Tahun 1670 hingga 1680 oleh masyarakat Tempilang.
Tari tersebut diciptakan sebagai penyambutan pahlawan di Kota Tempilang, yang pulang dari peperangan melawan Lanun.
Tari Serimbang kemudian dikembangkan oleh Abdurani Bin Abdullah, seniman daerah setempat, pada Tahun 1982. Pada perkembangannya, tari Serimbang banyak ditampilkan di Tempilang, Kelapa dan Sungailiat untuk mengisi acara budaya penyembutan tamu.
4. Tari Kedidi
Tari Kedidi melambangkan gerak-gerik burung Kedidi yang konon banyak terdapat di sepanjang Pantai Pulau Bangka.
Burung Kedidi sejenis burung yang senang berkelompok. Burung tersebut memiliki keunikan saat bermain dengan teman-temannya dan mencari makanan di tepi pantai.
Baca juga : Wisata Pantai di Bangka Belitung, Berikut Pilihannya
Tari Kedidi mengambil gerakan burung Kedidi yang banyak dijumpai penduduk saat membua ladang maupun menunggu musim panen. Pada malam hari sambil melepas lelah, masyarakat menghibur diri sambil bermain musik Dampus dan bedincak serta menari Kedidi.
5. Tari Chiat Ngiat Pan
Tari Chiat Ngiat Pan memiliki gerakan yang bermakna cerita tentang ritual Sembahyang Rebut. Setelah Sembahyang Rebut dilanjutkan lelang payung dan pembakaran Patung Dewi Ahirat Thai Se Ja.
Sembahyang rebut adalah festival yang dirayakan masyarakat Tionghoa di Desa Rebo, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka.
Perayaan festival dilakukan pada Tanggal 15 bulan 7 pada penanggalan kalender China.
Pembakaran tersebut sebagai tanda jika arwah yang sudah berada di akhirat akan kembali ke dunia. Chiat Ngiat Pan memiliki arti perayaan pertengahan bulan ke tujuh yang merupakan satu di antara tarian Bangka Belitung, khususnya masyarakat Tionghoa.
(Posbelitung.co/Kompas.com/warisanbudaya.kemdikbud.go.id/ belitung.tribunnews.com/jadesta.kemenparekraf.go.id)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Tarian Bangka Belitung, Ada yang Terinpirasi dari Burung di Pulau Bangka", Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2023/07/17/180952278/5-tarian-bangka-belitung-ada-yang-terinpirasi-dari-burung-di-pulau-bangka?page=all
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/pantai-menara_20180824_134525.jpg)