Menparekraf Kunjungi Belitung
22 Objek Cagar Budaya Seputar Tanjungpandan Jadi Rute Belitong Heritage City Walk
Sebanyak 22 objek cagar budaya di Belitung dilewati oleh ribuan peserta Belitong Heritage City Walk Street Carnival yang dibuka oleh Menparekraf.
Penulis: Adelina Nurmalitasari | Editor: Novita
POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Sebanyak 22 objek cagar budaya di Belitung dilewati oleh ribuan peserta Belitong Heritage City Walk Street Carnival yang dibuka oleh Menparekraf Sandiaga Uno pada Minggu (3/9/2023).
Dimulai dari Gedung Nasional, para peserta melewati sejumlah titik cagar budaya, seperti dockyard atau galangan kapal, Rumah Asisten Residen, Kelenteng Hok Tek Che, dan lainnya.
Menelisik lebih jauh objek-objek diduga cagar budaya yang ada di seputar Tanjungpandan, Belitung, berikut informasi lebih lanjut mengenai beberapa objek diduga cagar budaya tersebut, yang dikutip dari dokumen pendataan cagar budaya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung.
1. Gedung Nasional
Gedung Nasional dibangun tahun 1953, merupakan satu dari tiga bangunan pemerintah yang dibangun pada masa awal terbentuknya Kabupaten Belitung.
Gedung lainnya adalah Karang Taruna dan Kantor DPRD yang lama.
Gedung ini menempati areal yang dulunya berupa tanah lapang bernama Padang Miring, karena kontur tanahnya yang miring dan berbatasan langsung dengan laut.
Pada tepi laut ini, dahulu perahu-perahu Suku Sawang bersandar untuk membeli perbekalan atau berteduh ketika musim barat.
Sejak awal areal ini telah menjadi area publik (lapangan/alun-alun) , dengan perkantoran Pemerintah Belanda tingkat Asisten Residen terhampar di sisi utara Padang Miring.
Di sisi paling timur lapangan ini, dahulu terdapat sebuah panggung tonil, sebagai hiburan rakyat masa itu.
Panggung sederhana inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Gedung Nasional sekarang dan fungsinya sebagai ruang publik terus berlangsung hingga kini.
Gedung Nasional menjadi satu-satunya objek yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten.
Sementara objek lainnya masih berstatus objek diduga cagar budaya yang masih menunggu proses penetapan.
2. Kelenteng Hok Tek Che
Kelenteng Hok Tek Che terletak di tengah pemukiman Cina di sisi timur muara Sungai Siburik, berseberangan dengan pelabuhan.
Bangunan ini relatif baik dan terpelihara dan masih dipergunakan untuk peribadatan penganut Kong Hu Cu.
Terdiri atas satu bangunan induk dengan arsitektur khas Cina dan dua bangunan pelengkap di sudut timur dan sudut barat halaman, serta pagar keliling.
Meja altar dan Toapekong terdapat di ruang utama tepat di depan pintu masuk.
Halaman yang luas di depan kelenteng merupakan areal untuk acara keagamaan seperti perayaan Konyen (Imlek), Sembayang Rebut, dan pertunjukan Barongsai .
Bangunan kelenteng yang sekarang merupakan perluasan dari bangunan kelenteng sebelumnya.
Kelenteng Hok tek Che berada di kawasan yang pada masa lalu disebut Pasar Bawah, di mana terdapat Pasar Ikan dan pertokoan Cina di sebelah timur muara Sungai Siburik.
Adanya komunitas Cina di lokasi sekitar kelenteng ini telah diketahui sejak tahun 1759.
Keberadaan pemukiman kecil ini juga sudah diketahui ketika Depati Rahat mulai bermukim di Tanjungpandan pada awal abad ke-19, namun pada waktu itu kelenteng mungkin belum berdiri.
Cikal bakal kelenteng Hok Tek Che diperkirakan terkait dengan eksistensi imigran Cina di Belitung sejak tahun 1853, yang dibawa Belanda untuk dipekerjakan sebagai kuli tambang di Belitung.
Kuli tambang yang disebut xinke sebagian besar adalah orang Hakka, sehingga kelenteng ini kemudian identik dengan orang Hakka. Dibangun pada tahun naga yakni 1868, bersamaan dengan dikembangkannya pasar kota oleh pemerintah Belanda dengan bantuan NV Billiton Mij.
Pada masa kemerdekaan, tempat peribadatan ini dikelola oleh Yayasan Hok Tek Che hingga sekarang.
3. Rumah Tuan Kuase
Tuan Kuase adalah istilah setempat untuk menyebut pimipinan tertinggi (Hoofdadministrateur) NV. Billiton Maatschappij/ NV. Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton (GMB) yang ditempatkan di Belitung.
Rumah ini dibangun pada tahun 1862 dan merupakan salah satu dari tiga bangunan permanen
pertama yang dibangun oleh NV Billiton Mij di KampongPandan (kawasan Tanjung Pendam sekarang).
Tuan Kuase yang pertama menempati rumah ini adalah F.W.H. von Hademann (1860-1865).
Pada periode PTT hingga UPT Belitung, rumah ini ditempati oleh pemimpin tertinggi di perusahaan tersebut.
Kini bekas rumah Tuan Kuase menjadi mess Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang disebut Mes Bougenville.
4. Jam Gede
Bangunan kantor pusat perusahaan timah Belitung yang lebih dikenal dengan nama Jam Gede, telah memainkan peran sangat penting sepanjang sejarah Pulau Belitung.
Diperkirakan telah berdiri sejak 1860-an, tidak lama setelah berdirinya NV Billiton
Maatschappij.
Dari kantor ini, dikendalikan segala aktivitas penambangan timah di seantero Pulau Belitung.
Dari tempat ini pula bermula titik nol kilometer untuk jalan-jalan utama yang menghubungkan Tanjungpandan dengan pusat-pusat penambangan yaitu Buding, Manggar, Gantung/Lenggang, serta Dendang, di Belitung Timur.
Tepat di depan Jam Gede terdapat Staanplaats dan KV Senang, serta pertokoan yang mengitarinya.
Pada masa ini KV Senang adalah sebuah kavling atau areal khusus untuk bersenangsenang, yang di dalamnya terdapat rumah bola (bilyar), warung kopi, serta penjual makanan.
Di tempat ini, ambtenar-ambtenar GMB melepas lelah pada jam-jam istirahat.
Tahun 1926, di depan jam Gede ditempatkan sebuah prasasti untuk mengenang para pionir Belanda yang merintis penambangan timah di Belitung.
Pada masa perang kemerdekaan, di Staanplaats, tepat di depan KV Senang, Belanda meletakkan mayat-mayat pejuang Belitung yang gugur pada kontak senjata tanggal 25 November 1945.
(Posbelitung.co/Adelina Nurmalitasari)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20230903-Gedung-Nasional-di-Tanjungpandan-Belitung.jpg)