Ceramah Budaya Angkat Kisah Keruncong Stambul Fajar
Musik keroncong dibawa oleh Portugis ke Batavia, tepatnya Kemayoran, Kampung Tugu, ketika di abad XVII dominasi mereka tergantikan oleh Belanda.
Penulis: Adelina Nurmalitasari |
POSBELITUNG.CO--Keruncong Stambul Fajar (KSF) pimpinan Suherman atau Jabink, merupakan satu di antara kesenian yang dianggap oleh mayoritas masyarakat Pulau Belitung sebagai kesenian tradisi. Lalu hal ini pun dipertegas oleh laporan pemerintah daerah melalui dinas terkait dalam beberapa catatan dan laporannya, dengan pengertian yang sama. Setelah pengertian tersebut mengakar dalam masyarakat, dalam program Seniman Mengajar 2018, Ketua Dewan Kesenian Belitung (DKB) Iqbal H. Saputra pun menelusuri kebenarannya.
“Iya, saya mengajukan proposal ke Kemendikbud untuk menelusuri jejak sejarah di baliknya. Hasil yang saya temukan di lapangan selama riset 36 hari, agak berlainan. Menurut apa yang saya dapatkan, nama Stambul Fajar sebenarnya sebuah nama kelompok musik keruncong, bukan nama bentuk kesenian yang ada di Pulau Mendanau, kecamatan Selat Nasik, Pulau Belitong," ujarnya dalam rilis yang diterima posbelitung.co, Senin (17/6/2019).
Ia menambahkan bentuk keroncong memiliki akar yang sama secara nasional. Menurut Iqbal, KSF hari ini menjadi salah satu bentuk kesenian dan berakar dari jenis kesenian yang sama dengan keroncong secara nasional.
Portugis memberi pengaruh seni budaya, dampak dari aktivitas pelayaran, perdagangan, hingga penaklukkan yang terjadi di Indonesia. Berawal dari penaklukkan Malaka pada 1511, kemudian melakukan perjalanan ke Maluku untuk memburu rempah-rempah.
Ketika dominasi Portugis terganggu oleh VOC (Belanda) pada abad XVII, mereka dipaksa bergeser dari Indonesia Timur menuju Jawa, Batavia. Hal ini menjadi penting bagi musik keroncong, karena disepakati oleh beberapa pengamat dan peneliti keroncong sebagai tonggak lahirnya musik tersebut. Catatan mutakhir tentang ini, kata Iqbal, bisa dibaca dalam buku Prof Victor Ganap, Kerontjong Toegoe, yang kaya akan informasi dan rujukan ilmiahnya.
Musik keroncong dibawa oleh Portugis ke Batavia, tepatnya Kemayoran, Kampung Tugu, ketika di abad XVII dominasi mereka tergantikan oleh Belanda. Dari sini kemudian musik keroncong berkembang ke daerah-daerah lainnya di Jawa, seperti Semarang, Yogyakarta, Solo, dan daerah-daerah lainnya.
Penyebaran ini kemudian diikuti oleh penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan atas kreativitas para senimannya masing-masing, yang tidak melepaskan idiom pentingnya, yaitu instrumen yang saat ini dikenal Cak dan Cuk. Idiom inilah yang kemudian menjadi titik penting sebagai Jejak Sejarah yang diteliti Iqbal.
“Saya menemukan banyak bukti sejarah selama riset dan residensi di Mendanau. Misalnya, berdirinya artifak peninggalan Belanda, berupa Mercusuar yang dibangun 1883 di Tanjong Lancor ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) yang jalurnya sudah tua, artifak pemakanan-pemakanan kuna yang tersebar di beberapa titik, serta masuknya radio di sana," jelasnya.
"Kemudian yang tak kalah penting, masuknya para nelayan dari Kepulauan Seribu yang kini tinggal dan menetap, serta menikah dengan orang asli Gual. Dari mereka, sejarah demi sejarah bisa saya hubungkan dengan data kepustakaan tentang keroncong dan Asia Tenggara," imbuh Iqbal.
Perjalanan musik tersebut diyakininya berawal dari tempat yang sama. Meskipun di Pulau Mendanau nama tersebut berubah penyebutan menjadi keruncong, tapi simbol sejarah yang melingkupinya berangkat dari satu titik. Bagi Kelompok Keruncong Stambul Fajar Pengekar Campo, tentu saja ini menjadi penting.
“Selain di Gual, Selat juga ada kelompok keroncongnya, pimpinan Kik Bahani. Karena itu, Iqbal meminta khusus agar Irwansyah, alumnus Etnomusikologi ISI Yogya, yang juga menjadikan Keruncong Stambul sebagai kajian skripsinya, harus turut serta, mewakili kawan-kawan Selat. Jadi, selain Kik Mat Alak, Irwan merupakan permintaan khusus saya untuk diikutkan," kata dia.
Kisah Keruncong Stambul Fajar ini pun akan menjadi satu di antara berbagai hal menarik yang akan disampaikan Iqbal saat menggelar ceramah budaya di Pusat Studi Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada (PSKKH-UGM) Rabu (19/6/2019) mendatang. Bahkan kelompok kesenian dari Desa Suak Gual, Kecamatan Selat Nasik, Belitung ini pun turut diboyongnya sebagai tamu di acara tersebut.
“Kami berkomitmen, sejak Februari 2019, sesaat setelah terpilih (sebagai ketua DKB, red) dan kemudian kami para seniman melingkar merumuskan keadaan. Semua sepakat, untuk DKB periode kali ini harus mampu membawa seni-budaya Belitong bertarung lebih jauh, nasional dan internasional," kata dia.
"Juni ini jadi momen yang pas untuk mewujudkan komitmen tersebut, ketika saya diundang oleh Prof Faruk Ceramah Budaya di PKKH-UGM. Kami juga bersyukur, Pemerintah Daerah memberi bantuan terkait akomodasi perjalanan dan kepulangan mereka," tutur Iqbal.
(Pos Belitung/Adelina Nurmalitasari)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/pamflet-ceramah-budaya.jpg)