Berita Bangka Tengah
Anggota DPRD Lebih Mudah Pindah Partai Dibandingkan Calon Bupati
Fenomena pindah partai politik seorang politisi lebih dominan terjadi pada kalangan calon anggota legislatif (caleg).
Penulis: Arya Bima Mahendra |
POSBELITUNG.CO, BANGKA -- Fenomena pindah partai politik seorang politisi lebih dominan terjadi pada kalangan calon anggota legislatif (caleg).
Sedangkan pada kalangan calon kepala daerah seperti calon gubernur, bupati/walikota, peluang untuk pindah partai tidak begitu dominan.
Hal itu diungkapkan oleh akademisi politik dari Universitas Bangka Belitung (UBB), Ariandi A Zulkarnaen.
Menurut dia, sosok seorang politisi yang kemudian masuk sebagai kepala daerah, cenderung adalah orang yang memiliki kemampuan, popularitas maupun elektabilitas yang kuat di dalam internal partai.
"Sehingga kita ketahui bahwa para kepala daerah memiliki posisi yang strategis dalam parpol tersebut," ungkap Ariandi, Sabtu (22/7/2023).
Kata dia, yang justru banyak terjadi pindah partai adalah pada kalangan caleg yang berada di ruang kepartaian, namun merasa tidak memiliki tempat dan nomor urut yang ideal.
Akan tetapi, pada kasus kepala daerah, biasanya politisi yang dimaksud sudah lebih dahulu dikenal sebagai elit partai.
"Tapi yang terjadi, di beberapa kota di luar Provinsi Babel, memang kita bisa lihat misalnya seperti sosok Anies Baswedan yang tanpa parpol tapi diusung oleh partai karena di internal partai kekurangan kader atau penyiapan kepemimpinan yang tidak cukup kuat," jelasnya.
Di lain sisi, Ariandi mejelaskan bahwa dalam mekanisme pemilu mengenal istilah market mechanism atau mekanisme pasar yang kemudian membuat sebuah pakem baru bahwa orang-orang yang akan menang adalah orang-orang yang memiliki elektabilitas dan popularitas yang baik.
Oleh karena itu, apabila politisi merasa memiliki popularitas sejak awal dan modal elektoral atau keterpilihan yang lebih, maka kemampuan yang ada dalam diri menjadi lebih penting dibanding memikirkan ideologi partai atau partai apa yang harus mendukung politisi tersebut.
"Padahal seharusnya, sistem politik kita harus mulai memiliki kemampuan yang baik dalam upaya membangun soliditas di dalam inter partai," terang Dosen Ilmu Politik di UBB ini.
Ariandi berujar, para politisi yang akhir-akhir ini pindah partai, potensinya hanya ingin menang saja atau pragmatis hanya ingin mendapatkan suara.
"Apakah itu benar-benar menjamin, kita bisa lihat persoalan-persoalan ini tidak mampu diurai. Karena ujung-ujungnya mereka yang pindah partai adalah mereka yang justru memiliki aspek leadership yang dipertanyakan," imbuhnya.
(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/2207-Ariandi-A-Zulkarnaen.jpg)