Bobibos Bahan Bakar Jerami Buatan Muhammad Ikhlas Thamrin Segera Diproduksi di Timor Leste
Bobibos atau bahan bakar jerami yang dikembangkan Muhammad Ikhlas Thamrin cs akan mulai diproduksi pada Februari 2026.
Penulis: Dedi Qurniawan | Editor: Dedi Qurniawan
POSBELITUNG.CO - Bahan bakar original buatan Indonesia nih bos (Bobibos) alias bahan bakar dari jerami yang dikembangkan Muhammad Ikhlas Thamrin Cs dari Desa Jonggol, Bogor bakal diproduksi di Timor Leste.
Kedua belah pihak dikabarkan sudah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU).
Timor Leste disebut siap memberikan dukungan penuh terhadap energi alternatif ini.
Bobibos atau bahan bakar jerami yang dikembangkan Muhammad Ikhlas Thamrin cs akan mulai diproduksi pada Februari 2026.
Pembina Bobibos, Mulyadi mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah menyusun rencana aksi (action plan) bersama mitra di Timor Leste, mencakup kerangka waktu hingga kesiapan mesin produksi.
Pemerintah Timor Leste bahkan telah menyiapkan fasilitas pabrik serta lahan bahan baku seluas 25.000 hektare (ha).
"Target kami paling lambat Februari sudah produksi, tapi kami upayakan Januari sudah mulai. Produksi perdana akan diluncurkan langsung oleh pemerintah Timor Leste," ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (26/12/2025) dikutip dari Kontan.co.
Mulyadi yang juga Anggota Komisi XI DPR RI ini menjelaskan, pada tahap awal lahan seluas 5.700 ha telah disiapkan untuk memasok bahan baku.
Ekspansi ke luar negeri ini dilakukan lantaran regulasi di dalam negeri belum mengatur jerami sebagai bahan baku bioenergi dalam kebijakan transisi energi nasional.
Saat ini, kata dia, regulasi nasional baru mencakup bioenergi dari sawit, aren, dan tebu.
Oleh karena itu, Bobibos memilih untuk tidak melakukan distribusi massal di Indonesia guna menaati aturan uji ketahanan, sertifikasi, dan standar keselamatan yang berlaku.
"Kami kader partai pemerintah, kami harus memberi contoh ketaatan pada regulasi. Tidak mungkin kami produksi massal tanpa aturan yang jelas," tegasnya.
Kendati melangkah ke Timor Leste, Mulyadi menegaskan bahwa Bobibos siap kembali diproduksi secara besar-besaran di tanah air jika Presiden Prabowo Subianto memberikan mandat resmi dan didukung payung regulasi yang kuat. Menurutnya, potensi jerami di Indonesia sangat jumbo dengan luas sawah mencapai 11,3 juta ha.
"Kalau negara meminta, pasti kami siap. Indonesia bisa menghasilkan sekitar 20 miliar liter per tahun dari jerami. Itu sangat meringankan masyarakat," imbuhnya.
Mulyadi juga memastikan bahwa perkembangan Bobibos di Timor Leste sudah diketahui oleh Presiden Prabowo melalui jalur komunikasi partai.
Ia menyebut telah melaporkan hal ini secara berjenjang kepada Dewan Pembina partai hingga pimpinan DPR dan kementerian teknis terkait.
Sementara itu, terkait kerja sama dengan proyek Lembur Pakuan di Jawa Barat yang sempat ramai di media sosial, Mulyadi mengklarifikasi, Bobibos telah mengirimkan 42 toren. Menurutnya, keterlambatan realisasi di lapangan terjadi karena kesiapan lokasi dari pihak mitra yang belum rampung.
Lebih lanjut, Mulyadi menekankan, langkah ke Timor Leste melalui skema business to business (B2B) bukanlah bentuk meninggalkan Indonesia.
"Ini solusi energi untuk dunia. Kalau suatu saat Indonesia mengundang kami kembali dengan regulasi yang jelas, kami akan pulang dengan senang hati," pungkasnya.
Bobibos Siap Diuji 24 Jam
Sebelumnya Bobibos atau bahan bakar jerami temuan Muhammad Ikhlas Thamrin dinyatakan siap diujicoba menggunakan mobil 24 jam lalu mesinnya dibongkar.
Kesiapan ini disampaikan langsung oleh Muhammad Ikhlas Thamrin.
Dia menyatakan siap menjalani uji coba terbuka bersama media.
Ia bahkan menyebut pengujian bisa dilakukan menggunakan mobil baru hingga pembongkaran mesin setelah tes selesai.
Menurut Ikhlas, Bobibos tidak keberatan jika pengujian dilakukan secara ketat, terukur, dan melibatkan pihak independen.
“Silakan kalau ada yang mau uji. Kita siap. Mobilnya baru, dua unit, bensin dan diesel. Diuji 24 jam, habis itu mesin dibongkar,” ujar Ikhlas dikutip dari Kompas.com, Selasa (18/11/2025).
Ia menegaskan bahwa seluruh parameter pengujian dapat disepakati di awal agar hasilnya objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita transparan saja,” tambahnya.
Terkendala Regulasi
Meski menyatakan siap diuji, Ikhlas mengatakan Bobibos belum dapat dipasarkan karena masih menunggu regulasi dari Kementerian ESDM.
Bobibos, sebagai bahan bakar nabati berbasis jerami, tidak termasuk kategori Migas, melainkan Energi Baru Terbarukan (EBT).
“Belum ada parameter biogasologi di regulasi. Ini yang kita tunggu dari ESDM,” kata Ikhlas.
Ia menyebut proses regulasi bisa memakan dua tahun jika mengikuti alur normal, namun dapat dipercepat menjadi sekitar delapan bulan.
Ikhlas menjelaskan bahwa jerami dipilih karena jumlahnya berlimpah dan sering kali tidak dimanfaatkan.
Dari satu hektar sawah, kata dia, bisa dihasilkan sekitar 9 ton jerami, sementara yang dipakai untuk pakan hanya setengahnya.
“Sisanya sering dibakar. Dari proses kami, hasilnya justru bisa jadi pakan juga—untuk sapi, ayam, sampai ikan,” katanya.
Isu ini sejalan dengan pandangan Dedi Mulyadi (KDM) yang kerap mendorong pemanfaatan jerami sebagai sumber ekonomi baru bagi desa.
Dengan klaim performa yang cukup besar, kesiapan Bobibos menjalani uji coba terbuka menjadi langkah penting untuk membuktikan efektivitas bahan bakar berbasis jerami tersebut.
Namun, verifikasi ilmiah dan regulasi tetap menjadi tahap yang wajib dilalui sebelum dapat beredar secara komersial.
Ikhlas menegaskan, pihaknya terbuka kapan saja jika media ingin melakukan uji bersama.
“Kita siap ditantang,” ujarnya.
Pernyataan ini seolah ingin menjawab keraguan banyak pihak atas klaim Bobibos sebagai bahan bakar alternatif yang bahkan diklaim punya nilai oktan setara 98.
Dedi Mulyadi Teken MoU dengan Bobibos
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi diketahui telah resmi menandatangani nota kerjasama dengan penemu Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos (Bobibos), Muhammad Ikhlas Thamrin, di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Sabtu (15/11/2025) lalu.
Kerjasama tersebut bertujuan mengembangkan bahan bakar nabati berbasis jerami agar bisa masuk ke tahap produksi.
"Kita sudah tanda tangan MoU. MoU-nya sudah ditanda tangan antara saya dengan bosnya, Bobibos," ujar Dedi dalam rekaman video yang diterima Kompas.com, Sabtu (15/11/2025).
Mantan Bupati Purwakarta itu menjelaskan, produksi perdana bahan bakar nabati tersebut akan segera dilakukan dalam waktu dekat.
Rencananya akan dilakukan uji coba di lingkungan Lembur Pakuan terlebih dahulu.
"Nanti ke depannya adalah hal-hal yang bersifat teknisnya. Jadi minggu depan kita panen. Maka jeraminya akan segera dibuat produksi untuk bahan bakar nabati dan konsumsinya hanya untuk uji coba di lingkungan Lembur Pakuan dulu," katanya.
Menurut Dedi, penggunaan bahan bakar nabati selain ramah bagi lingkungan, diyakini juga dapat mengurangi beban subsidi pemerintah untuk penyediaan BBM.
Ia menargetkan, bila uji coba di Lembur Pakuan berjalan baik, ke depannya akan diterapkan di seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
"Minimal seluruh jajaran pemerintah Provinsi Jawa Barat ke depan menggunakan bahan bakar nabati sehingga APBD-nya efisien. APBD-nya efisien, subsidi negaranya terkurangi karena subsidi BBM sama tinggi," tuturnya.
Selain mengurangi beban subsidi energi, Dedi menilai inovasi ini berpotensi membawa dampak ekonomi bagi petani.
Limbah jerami yang selama ini tidak bernilai bisa menjadi komoditas baru. Sebab, menurutnya, petani nantinya tidak hanya menjual padi. Namun juga bisa menjual jerami.
Sosok Muhammad Ikhlas Thamrin yang Awalnya Buat Kompor Pulsa
Jauh sebelum dikenal sebagai penemu Bobibos bahan bakar jerami, Muhammad Ikhlas Thamrin sudah lebih dulu menciptakan kompor pulsa pada 2015.
Namun, nasib kompor pulsa yang Muhammad Ikhlas Thamrin cipitakan ini tak setenar Bobibos bahan bakar jerami.
Dikutip dari berbagai sumber, penemuan kompor pulsa itu bermula dari keresahannya yang mencari solusi untuk permasalahan energi.
Begitu lulus kuliah pada 2025, Muhammad Ikhlas Thamrin pun mulai mencari solusi.
Lalu pada 2007 Muhammad Ikhlas Thamrin memulai riset tentang energi bersama timnya.
Ia berpendapat energi di Indonesia berpotensi langka dan mahal karena belum memanfaatkan energi terbarukan terlebih yang saat ini digunakan belum ramah lingkungan.
Pada 2007, Muhammad Ikhlas Thamrin memulai riset tentang energi bersama timnya.
Delapan tahun kemudian atau pada 2015, ia mendirikan PT Baterai Freeneg Generasi.
Hasil dari riset yang dilakukannya melahirkan sebuah solusi energi berbasis pulsa berupa kompor dan motor.
Kala itu, patennya telah diuji oleh International Certificate Testing Technology (ICTT).
Kompor dan motor listrik tersebut akan dapat digunakan dengan baterai yang menganut sistem pulsa token.
Pengguna tidak perlu mencari stasiun pengisian listrik umum untuk mengisi daya jika baterai habis melainkan cukup mengisi pulsa token.
Muhammad Ikhlas Thamrin bermimpi membangun ekosistem listrik di Indonesia pada 2030.
Penelusuran Bangkapos.com, Muhammad Ikhlas Thamrin pernah membagikan postingan di Facebook soal kompor pulsa ini pada 12 Desember 2021.
Di postingan itu, Ikhlas Thamrin memperkenalkan Kompor Pulsa Freeneg yang diklaim-nya menjadi pengganti Tabung Gas dengan cukup membeli pulsa token di Omind,
Dia mengklaim temuan ini merupakan kompor Pulsa Pertama di dunia karya anak bangsa dan hanya bisa didapatkan di Koperasi Duta Omind Indonesia
Dia berharap hadirnya kompor pulsa Freeneg akan menjadi Solusi setiap rumah tangga.
Hanya saja, tak ada kabar lebih jauh bagaimana nasib temuan kompor pulsa ciptaan Ikhlas Thamrin ini.
Kini Muhammad Ikhlas Thamirn jadi sorotan setelah bersama timnya menemukan Bobibos yang merupakan akronim Bahan bakar Original Buatan Indonesia Bos sebagai bahan bakar jerami.
Dia dan timnya melakukan riset selama 10 tahun.
Bobios dibuat dari dari berbagai tanaman yang mudah tumbuh di banyak wilayah Indonesia, termasuk di lahan persawahan.
Dengan RON mendekati 98, Bobibos disebut bisa menempuh jarak lebih jauh dibandingkan bahan bakar solar konvensional saat ini.
10 tahun riset mandiri, Bobibos masih perlu lewati banyak pintu
Muhammad Ikhlas Thamrin menciptakan Bobibos dilatarbelakangi oleh keresahannya pada tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi impor.
Ia ingin membuktikan Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui ilmu pengetahuan dan riset mandiri.
Siapa sosok Muhammad Ikhlas Thamrin lebih jauh?
Muhammad Ikhlas Thamrin adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo angkatan 2001.
Selama kuliah, Muhammad Ikhlas Thamrin mengaku sangat sering mengikuti demonstrasi untuk mengkritisi sumber energi di Indonesia.
“Saya ingat betul pernah berdemo di Jakarta untuk menolak kenaikan harga BBM.
Namun, setelah lulus saya mulai berpikir apa yang dapat saya lakukan untuk memberi solusi perihal energi,” ujar Muhammad Ikhlas Thamrin dikutip dari situs resmi UNS, Rabu (12/11/2025).
Pada kesempatan lain, Ikhlas Thamrin menyebut diperlukan bahan baku jerami yang “kira-kira 9 ton untuk produksi Bobibos sebanyak sekitar 3.000 liter,
Jumlah bahan baku itu menurutnya setara dengan limbah dari satu hektar sawah padi.
Limbah batang kering tersebut kemudian diproses menggunakan mesin dan serum yang dikembangkan oleh timnya.
Ikhlas, yang juga menjabat sebagai CEO PT Inti Sinergi Formula, optimistis Bobibos bisa diproduksi di seluruh Indonesia, mengingat luasnya lahan padi nasional.
Ia bahkan menargetkan bahwa harga jual kedua varian bahan bakar tersebut dapat diseragamkan dan, dalam jangka panjang, berpotensi berada di bawah Rp 10.000 per liter.
Dukungan terhadap upaya ini datang pula dari Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, yang sempat mencoba performa Bobibos pada mesin traktor di Lembur Pakuan, Subang, dan menawarkan pasokan jerami dari 1.200 hektar sawah sebagai bahan baku.
Saat ini, produksi massal Bobibos masih menunggu izin pemerintah, sedangkan 3.000 liter produksi awal telah digunakan dalam uji coba terbatas di wilayah Jonggol.
Bobibos Secara Teori Memang Bisa Namun Ada Tapinya
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menilai bahwa secara teori jerami memang dapat dikonversi menjadi bahan bakar.
BRIN pun pernah melakukan riset serupa pada 2015–2016, meski masih skala laboratorium dan mengalami kendala teknis.
“Secara teori, jerami memang bisa dikonversi menjadi bahan bakar. Kami juga pernah meneliti pemanfaatannya menjadi etanol, tetapi tantangannya cukup besar, mulai dari rendemen yang rendah hingga kebutuhan teknologi pre-treatment yang masih mahal,” ujar Cuk.
“Setelah menjadi bahan bakar, produk tersebut juga harus memenuhi standar nasional maupun internasional dan diuji langsung di engine,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa BRIN siap mendampingi proses verifikasi dan validasi apabila data teknis yang lengkap dapat disampaikan.
Selain itu, klaim lain soal Bobibos yang juga menyita perhatian adalah pernyataan penemunya bahwa jerami dapat diolah menjadi bahan bakar untuk kendaraan bensin maupun diesel, dengan perbedaan hasil yang disebut bergantung pada “serum” khusus yang formulanya masih dirahasiakan.
Klaim ambisius itu kemudian memicu pertanyaan mengenai kelayakan teknologi yang digunakan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cuk Supriyadi Ali Nandar, memberikan penjelasan dari sisi ilmiah.
Cuk mengatakan bahwa penelitian terkait pemanfaatan jerami sebagai bahan baku energi memang memiliki dasar ilmiah tertentu.
BRIN sendiri saat ini tengah meneliti proses konversi biomassa menjadi biohidrokarbon, baik yang menyerupai bensin (gasoline) maupun solar (diesel).
“Di BRIN sedang melaksanakan riset terkait pemanfaatan biomasa menjadi biohidrokarbon, baik itu gasoline maupun diesel,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (19/11/2025).
Namun, ia menegaskan, tidak semua jalur konversi jerami siap diterapkan. Salah satu rute yang dikenal adalah mengolah jerami menjadi etanol melalui fermentasi, memanfaatkan mikroorganisme atau enzim. Tetapi tahapan ini panjang dan teknologinya belum matang untuk dikembangkan hingga tahap menghasilkan biohidrokarbon siap pakai.
“Jalur dari jerami dibuat etanol melalui fermentasi menuju biohidrokarbon belum kami pertimbangkan karena tahapan yang panjang dan kami menilai secara teknologi belum matang,” katanya.
Cuk menambahkan bahwa BRIN belum dapat memberikan penilaian lebih perinci mengenai metode yang diklaim Bobibos karena tidak ada informasi teknis yang disampaikan secara resmi.
“Karena kami belum jelas mengetahui secara pasti proses yang dipilih oleh Bobibos, maka kami belum dapat berkomentar lebih detail,” katanya. (Tribun Network/Kompas.com/ bangkapos.com/ Kontan)
| Jadwal Timnas Indonesia U19 Piala AFF U19 2024 Berikut Harga Tiket Indonesia Vs Filipina |
|
|---|
| Kalender Juli 2024 Lengkap Jadwal Timnas Indonesia U19 Piala AFF U19 2024, Cek Tanggal Laga Perdana |
|
|---|
| Jokowi Sebut Harga Beras Masih Murah Dibanding Brunei - Singapura, di Belitung Warga Beli Beras SPHP |
|
|---|
| 8 Kontainer Berisi 121 Ton Minyak Goreng Gagal Diselundupkan Ke Timor Leste |
|
|---|
| Timor Leste usai Pisah dari Indonesia, Kini Menyesal Gegara Kekayaan Alam Dikeruk Negara Lain? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20251227-Bobibos-Muhammad-Ikhlas-Thamrin-diproduksi-di-Timor-Leste.jpg)