Bukan Pecat PPPK, Pengamat Sarankan Pemerintah Pangkas Biaya Dinas dan Rapat Daring
Menanggapi wacana pemangkasan jumlah PPPK demi menekan beban APBD, pengamat pendidikan Unila M Thoha B Sampurna Jaya angkat bicara
Penulis: Evan Saputra | Editor: Evan Saputra
POSBELITUNG.CO - Menanggapi wacana pemangkasan jumlah PPPK demi menekan beban APBD, pengamat pendidikan Universitas Lampung (Unila), M Thoha B Sampurna Jaya, angkat bicara.
Thoha menegaskan bahwa merumahkan PPPK di sektor krusial adalah langkah keliru dan meminta pemerintah melakukan efisiensi di sektor lain seperti perjalanan dinas.
Sebelumnya, wacana pemberhentian ribuan PPPK menuai polemik. Para PPPK cemas dengan wacana ini.
Mereka khawatir kembali menjadi honorer dengan gaji yang rendah.
Sebab semenjak diangkat menjadi PPPK mereka memiliki penghasilan sesuai UMR masing-masing.
Lalu mereka juga ditambah dengan sertifikasi.
Baca juga: Menkeu Purbaya Pangkas MBG Jadi 5 Hari demi Efisiensi, Daerah 3T Tetap Berjalan 6 Hari
Pemangkasan PPPK ini akibat daya tampung keungan yang tak memadai lagi.
Pengeluaran di sektor belanja rutin untuk PPPK terlalu berlebihan dan membuat beban keungan negara terlalu tinggi.
Beberapa daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kota Prabumulih disebut menghadapi keterbatasan APBD, terutama setelah adanya ketentuan belanja pegawai maksimal 30 persen sesuai Undang-undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (UU HKPD).
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan tenaga honorer dan PPPK, terutama terkait kemungkinan kontrak yang tidak diperpanjang.
Wacana tersebut juga memunculkan penolakan dan keresahan di berbagai daerah, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan yang selama ini banyak bergantung pada tenaga PPPK.
Pengamat pendidikan dari Universitas Lampung (Unila), M Thoha B Sampurna Jaya, menilai langkah tersebut bukan sekadar isu biasa, melainkan konsekuensi dari tekanan fiskal daerah yang semakin menyempit.
Menurut Thoha, wacana pemutusan kontrak PPPK muncul di tengah kondisi global yang memengaruhi kebijakan pemerintah pusat dan daerah.
Namun, jika benar-benar diterapkan, ia menilai kebijakan itu berpotensi menjadi catatan buruk bagi pemerintah.
Jadi itu semacam wacana dari pemerintah pusat terkait masalah krisis global. Tapi saya pikir kalau itu dilakukan, justru bisa menjadi preseden buruk bagi pemerintah,” kata Thoha, Minggu (29/3/2026).
Ia mengakui evaluasi terhadap PPPK setiap tahun memang memungkinkan dilakukan.
Namun, jika kebijakan yang diambil berujung pada merumahkan tenaga PPPK secara besar-besaran, hal itu dinilai sebagai langkah yang kurang tepat.
Menurutnya, sebagian besar PPPK saat ini justru berada di sektor yang sangat krusial, terutama pendidikan dan kesehatan.
Jika tenaga tersebut dirumahkan, dampaknya tidak hanya dirasakan pegawai, tetapi juga masyarakat luas.
“Apalagi sebagian besar PPPK ini membidangi pendidikan dan kesehatan. Kalau mereka dirumahkan, tentu ini menjadi catatan merah bagi pemerintah. Kita tidak boleh main-main dengan dunia pendidikan,” tegasnya.
Thoha juga menyoroti kemungkinan guru berstatus PPPK yang harus dirumahkan.
Ia menilai hal itu akan menjadi catatan buruk bagi pemerintah, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.
“Kalau guru PPPK dirumahkan, menurut saya itu menjadi catatan buruk. Pendidikan itu tidak bisa diperlakukan seperti sektor lain yang bisa dengan mudah dikurangi,” ujarnya.
Sebagai solusi, ia menilai pemerintah seharusnya mencari alternatif lain untuk menekan anggaran, tanpa harus mengorbankan tenaga PPPK.
Salah satunya melalui efisiensi belanja yang tidak berdampak langsung pada pelayanan publik.
“Pemerintah bisa melakukan evaluasi efisiensi, misalnya mengurangi perjalanan dinas, memperbanyak laporan secara online sehingga tidak banyak menggunakan ATK, dan rapat-rapat bisa dilakukan secara daring. Masih banyak solusi lain yang bisa dilakukan,” jelasnya
(Tribunnews/tribunlampung)
| Daftar Kendaraan Bebas Pajak Tahunan, Mobil Listrik Termasuk? Simak Aturan Terbarunya |
|
|---|
| Video: Selat Hormuz Memanas, AS Pakai Lumba-lumba Militer, Bersihkan Ranjau yang Nyamar Sebagai Batu |
|
|---|
| Video: Iran Simpan 11 Ton Uranium, Keberadaan Belum Pasti, Pemerintah AS Sempat Negoisasi |
|
|---|
| Biodata Mayjen TNI Purn Arnold yang Dilantik Diam-diam Jadi Dirjen SDA, Jejak Karier dari Kopassus |
|
|---|
| Video: Prediksi Donald Trump Melenceng, Mohammad Bagher Ghalibaf Balas Sindiran Tajam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20230915-CPNS-dan-PPPK-Ilustrasi-okers.jpg)