Rumah di Sleman Diteror Api Misterius 113 Kali, Warga Alami Kerugian Puluhan Juta dan Trauma

Fenomena api misterius di Sleman terus terjadi hingga 113 kali dan menyebabkan kerugian Rp50–60 juta. Warga mengalami tekanan psikologis

Tayang:
Penulis: M Zulkodri | Editor: M Zulkodri
Dok istimewa/(KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMA)
TEROR API MISTERIUS--Kejadian api muncul dan membakar kaos di dalam kamar rumah Mutfiana di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman pada 1 Juni 2026. Api yang membakar kaos langsung dipadamkan dengan menggunakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan). 

Selama lebih dari dua pekan, keluarga hidup dalam kondisi waspada tinggi.

Mereka harus berjaga hampir setiap hari karena api dapat muncul secara tiba-tiba di berbagai sudut rumah.

Meski dalam beberapa hari terakhir intensitas kemunculan api mulai menurun, kewaspadaan tetap dilakukan karena titik api masih sesekali muncul.

Pada Minggu (7/6/2026), misalnya, masih tercatat dua titik api yang membakar dapur belakang dan tumpukan kayu di halaman rumah.

Penelitian Libatkan Banyak Lembaga

Sejumlah lembaga telah diterjunkan untuk menyelidiki fenomena ini, termasuk UGM, UPN Veteran Yogyakarta, BPPTKG, BRIN, Tim Gegana Polda DIY, dan BPBD Sleman.

Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan adanya indikasi retakan bawah tanah berdasarkan hasil pemindaian georadar di lokasi kejadian.

Koordinator Peneliti Laboratorium Geofisika Eksplorasi UGM, Saptono Budi Samudro, menyebut terdapat pola retakan hingga kedalaman sekitar 15–20 meter.

Menurutnya, retakan tersebut berpotensi menjadi jalur migrasi gas dari bawah tanah ke permukaan, meski hal itu masih perlu dibuktikan lebih lanjut.

“Bisa jadi hanya retakan tapi belum tentu ada gasnya. Maka sumber gasnya harus ditemukan dulu,” jelasnya.

Masih Menunggu Kepastian Ilmiah

Meski sejumlah temuan awal telah diperoleh, penyebab pasti kemunculan api misterius ini masih dalam tahap penelitian lanjutan, termasuk rencana uji geolistrik dan pengeboran.

Sementara itu, keluarga berharap hasil penelitian segera menemukan titik terang agar kehidupan mereka dapat kembali normal tanpa teror api yang terus berulang.

“Kami hanya berharap teror ini segera berakhir,” tutup Mutfiana.(*)

Sumber: Kompas.com

 

Sumber: Pos Belitung
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved