Video

Saidi Tunggu Kabar Cucu Hilang di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny

Saidi, seorang kakek berusia 67 tahun, masih menunggu dengan penuh harap kabar mengenai cucunya

Penulis: Ilham Pratama | Editor: Kamri

POSBELITUNG.CO - Saidi, seorang kakek berusia 67 tahun, masih menunggu dengan penuh harap kabar mengenai cucunya, Muhammad Adam Fidiansyah, santri Pondok Pesantren Al Khoziny, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

Adam hingga kini belum ditemukan setelah musala tiga lantai di ponpes itu runtuh pada Senin (29/9/2025).

Hingga hari kelima pencarian, Jumat (3/10/2025), Adam masih dinyatakan hilang.

Data sementara menyebutkan, dari 116 korban yang terdampak, 103 di antaranya selamat meski beberapa harus dirawat intensif, sedangkan 13 orang telah ditemukan meninggal dunia.

Di posko evakuasi, Saidi tak beranjak sejak hari pertama.

Ia terus menatap layar monitor yang menampilkan proses pencarian, berharap cucunya segera ditemukan.

Dengan suara lirih, ia mengaku hanya bertahan dengan rokok dan roti karena kehilangan nafsu makan.

“Sudah dari Senin di sini, nggak enak makan nasi.

Cucu saya belum ketemu,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Saidi mengenang pertemuan terakhir dengan Adam seminggu sebelum kejadian.

Cucunya sempat pulang untuk berobat lalu kembali ke pondok sebelum tragedi terjadi.

Adam, menurut Saidi, adalah cucu pertama yang penurut, pendiam, dan jarang menuntut.

Ia masih ingat pesan terakhir kepada Adam agar selalu berhati-hati dan menjadi anak sholeh.

Kini, Saidi hanya bisa menunggu, meski sesekali wajah cucunya hadir dalam mimpi seolah masih hidup.

“Saya seperti berhalusinasi, bayangan cucu masih ada.

Pulang ke rumah sebentar, tidak kuat, akhirnya balik lagi ke sini,” ujarnya.

Baca juga: Santri Asal Belitung Korban Runtuhnya Gedung Ponpes Al-Khoziny Dimakamkan

Tragedi ini juga merenggut nyawa Muhammad Mashudulhaq, santri asal Sampang, Madura.

Ia meninggal dunia tertimpa reruntuhan saat salat Ashar berjamaah dan dimakamkan di kampung halamannya pada Selasa (30/9/2025).

Sebelum wafat, Mashudulhaq sempat berpesan kepada keluarganya tentang rasa kasihan pada ibunya, yang kemudian dikenang sebagai ucapan terakhir.

Di sisi lain, kisah haru datang dari keluarga santri yang selamat, Alfatih Cakra Buana.

Ayahnya, Abdul Hanan, hanya bisa berdoa dan membaca sholawat selama proses evakuasi.

Doanya terkabul ketika Tim SAR memberi kabar bahwa Alfatih ditemukan selamat.

Hanan bersujud syukur, menangis, dan berterima kasih kepada para penyelamat.

Menurutnya, putranya selamat karena tertidur saat musibah terjadi sehingga tidak merasakan lapar atau takut meski tiga hari terjebak di bawah puing.

Alfatih hanya meminta minum setelah keluar dari reruntuhan, sebuah permintaan sederhana yang membuat ayahnya lega.

Kini, kisah sedih, kehilangan, sekaligus keajaiban mewarnai tragedi runtuhnya Ponpes Al Khoziny.

(*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Cerita Saidi Tunggu Kabar Cucu yang Hilang di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny, Ingat Pesannya ke Korban

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved