Video

Video: Dampak Konflik Iran, Popularitas Donald Trump Merosot Tajam

Posisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih terancam.

Penulis: Rusaidah | Editor: Rusaidah

POSBELITUNG.CO -- Posisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih terancam.

Eskalasi perang dengan Iran yang memicu lonjakan harga BBM dan kekacauan di Timur Tengah, hingga penghentian pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang menyebabkan huru--hara di bandara, membawa tingkat kepuasan publik terhadap Trump ke titik terendah sepanjang masa jabatannya.

Kondisi domestik ini dimanfaatkan oleh faksi oposisi untuk menyuarakan impeachment atau pemakzulan, menjelang Pemilihan Umum Paruh Waktu, yang dijadwalkan pada 3 November 2026.

Sejumlah kandidat dari Partai Demokrat, termasuk Christian Menefee, Wali Kota Daniel K. Biss, Senator Laura Fine, hingga aktivis Kat Abughazaleh, secara terang-terangan berkampanye dengan janji memakzulkan Trump.

Mereka menuding kebijakan luar negeri Trump terkait perang di Iran sebagai penyalahgunaan kekuasaan yang merugikan rakyat Amerika.

Trump menyadari risiko ini. Kepada rekan-rekan partainya, ia mengatakan kemenangan Partai Republik di Pemilu Paruh Waktu adalah harga mati.

Tak tinggal diam untuk mengamankan posisinya, Trump mengancam tidak akan menandatangani undang-undang apa pun kecuali Kongres meloloskan SAVE Act (Undang-Undang Identitas Pemilih) yang kontroversial.

Namun, langkah ini dijegal oleh Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, yang menyebut UU tersebut sebagai upaya penindasan pemilih.

(Posbelitung.co)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved