Kasihannya, Kancil Bangka Terancam Punah

Kancil Bangka sudah mulai sulit ditemukan. Jumlahnya sangat sedikit. Di alam liar, kancil sudah sangat jarang terlihat. Pupulasinya terancam punah.

Tayang:
Bangka Pos/Fery Laskari
Kancil Bangka 

Laporan Wartawan Bangka Pos Fery Laskari

POSBELITUNG.COM, BANGKA - Mungkin banyak orang yang tak tahu lagi istilah pelanduk, napo atau pergem. Padahal ini adalah nama-nama hewan lokal, yang dulu sering diburu oleh masyarakat pedalaman di Bangka Belitung. Binatang liar itu ditangkap untuk dijadikan sebagai sumber hewani, lauk-pauk keluarga atau dijual sebagai penghasilan tambahan.

Tapi kini, hewan-hewan ini sulit didapatkan. Kalau pun ada, populasinya terbatas di hutan-hutan tertentu saja. Jenis hewan itu mulai punah, sejak perambahan hutan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit dan penambang timah merajalela, beberapa tahun terakhir.

"Dulu gampang cari pelanduk (kancil) di hutan Puding Besar. Kalau pasang lapon (perangkap), sering dapat. Begitu juga napoh (kancil ukuran lebih besar), gampang dicari, begitu juga kijang," kata Cikmat (60), warga asal Kecamatan Puding Besar kepada Bangka Pos Group, Jumat (4/9).

Cikmat mengaku paham betul dengan bentuk-bentuk hewan lokal yang dimaksud, mulai dari ukuran badan hingga warna bulu serta kebiasaan hewan itu. Maklum, di masa mudanya, Cikmat sering berburu di hutan bersama masyarakat setempat. "Kalau pelandok alias kancil hidup di hutan atau di belukar. Ukuran badan agak kecil dibanding napoh. Warna bulu pelandok mirip warna kijang, colat agak orange. Sedangkan napoh adalah kancil ukuran sedikit lebih besar dari pelandok, bulunya agak kepoh (buram) hidup di lelap dan biasa sembunyi di bawa rungkap (semak) dekat rawa atau pinggiran sungai," katanya.

Selengkapnya baca edisi cetak BANGKA POS, Minggu (6/9/2015). 

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved