Berita Belitung Timur
Harga Sawit Turun, Petani di Beltim Terpaksa Hemat Biaya Makan Keluarga
Anjloknya harga tandan buah segar kelapa sawit membuat petani swadaya di Belitung Timur kian tertekan. Di tengah harga pupuk yang..
Penulis: Kautsar Fakhri Nugraha | Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Sinar matahari pagi menembus celah-celah pelepah kelapa sawit di sebuah kebun seluas dua hektare di Dusun Gusong Lantai, Desa Tanjung Batu Itam, Kecamatan Simpang Pesak, Kabupaten Belitung Timur, Jumat (22/5/2026).
Di tengah hamparan kebun sawit miliknya, Tandi tampak menyeka keringat menggunakan kerah baju bolanya. Pemuda berusia 27 tahun itu berjalan perlahan menyusuri jalan setapak sambil menatap barisan pohon sawit yang telah ia tanam sejak 2020.
Bagi Tandi, kebun dua hektare tersebut menjadi tumpuan hidup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan masa depan keluarganya. Namun belakangan, harapan itu mulai memudar setelah harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kembali turun.
Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit swadaya di tingkat pabrik resmi dipotong sebesar Rp200 per kilogram. Di PT Sahabat Mewah dan Makmur (SMM) tempat sawitnya biasa terjual, harga merosot dari Rp3.550 menjadi Rp3.350 per kilogram.
"Beh Pak, gausah ditanya lagi bagaimananya. Pusing kepala," ujar Tandi.
Bagi Tandi, pemotongan itu berarti hilangnya ratusan ribu rupiah dari total pendapatan bersih yang sudah pas-pasan.
Tandi mulai menghitung kasar kalkulasi pendapatannya. Dari luasan kebun dua hektare, dalam sekali putaran panen yang dilakukan tiga hingga empat kali sebulan, ia rata-rata hanya mampu menghasilkan sekitar setengah ton atau 500 kilogram TBS.
Jika harga stabil di angka Rp3.550, ia bisa membawa pulang uang yang cukup berharga. Namun karena kondisi harga saat ini yang merosot, pendapatan kotornya langsung terpangkas drastis.
Beban hidup Tandi semakin berlipat ganda karena jatuhnya harga komoditas andalan ini tidak dibarengi dengan turunnya harga sarana produksi perkebunan, terutama pupuk kimia.
Tandi mengatakan harga pupuk nonsubsidi di wilayah Belitung Timur saat ini masih melambung tinggi dan kian mencekik. Untuk sekali siklus pemupukan rutin per bulan di lahan dua hektarenya, Tandi harus merogoh kocek yang tidak sedikit.
"Sekali pemupukan itu biayanya mendekati Rp3 juta sebulan Pak. Pupuk sekarang naik drastis sekali harganya, kok malah harga sawit yang makin turun," keluhnya.
Alih-alih mendapatkan keuntungan melimpah dari hasil keringat memanen sendiri, sisa uang penjualan sawitnya kini habis hanya untuk memutar modal pemeliharaan kebun agar pohonnya tidak rusak.
Dampak domino dari anjloknya harga sawit ini bahkan sudah merembet langsung meja makan rumahnya. Tandi mengaku terpaksa mengubah pola konsumsi harian keluarganya demi menghemat pengeluaran uang tunai.
"Kebutuhan keluarga terpaksa kami hemat-hemat betul sekarang. Istilahnya kami ini mengalami penurunan kelas. Misalkan biasa beli ikan yang harga Rp30 ribu per kilo, sekarang cari-cari dulu jenis lain yang harga Rp20 ribu," ucapnya.
Bagi bapak satu anak ini, tidak ada lagi ruang untuk memikirkan makanan mewah atau tabungan masa depan.
| Stok Sapi Lokal Beltim Naik 40 Persen, Peternak Mulai Mandiri, Ketergantungan Stok Luar Berkurang |
|
|---|
| Suhu di Makkah 43 Derajat Celcius, Jemaah Haji Asal Beltim Diminta Fokus Istirahat di Hotel |
|
|---|
| Remaja 15 Tahun yang Kabur dari Rumah Gegara HP Disita Ditemukan Sehat Walafiat |
|
|---|
| Camat Gantung: Polemik Batu Penyu Jadi Evaluasi bagi Seluruh Kades di Beltim |
|
|---|
| Kades Batu Penyu Sebut Uang Rp20 Juta untuk Perangkat Desa Bentuk Kompensasi Investor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/20260522-TBS-ANJLOK-Tandi-27-seorang-petani-kelapa-sawit-swadaya-saat-1.jpg)