Lipsus GMT

Ini Pengaruh GMT Bagi Indonesia

GMT yang bisa disaksikan di sebagian wilayah Indonesia pada 9 Maret 2016 mendatang menjadi momentum untuk mendongkrak pariwisata Indonesia.

Ben Cooper
Gerhana Matahari total sebagai bagian dari gerhana Matahari hibrid pada Minggu (3/11/2013), diabadikan dari wilayah Atlantik. 

News Analisys
Francesca Nina
(Asdep Analisis Data Pasar Pariwisata Nusantara Kemenpar RI

GERHANA matahari total (GMT) yang bisa disaksikan di sebagian wilayah Indonesia pada 9 Maret 2016 mendatang menjadi momentum untuk mendongkrak pariwisata Indonesia.

Fenomena langka ini dapat disaksikan disejumlah kota seperti Palembang, Tanjungpandan, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Ternate serta Sofifi (ibukota Maluku Utara).

Seperti kita ketahui sektor pariwisata berkontribusi pada pendapatan domestik bruto (PDB) nasional pada tahun 2014 sebesar empat persen dengan pendapatan devisa Rp 120 triliun dan memperkerjakan tenaga kerja 1,8 juta orang.

Hingga 2014 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonsia 9 juta wisatawan dan perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) yang berkontribusi menumbuhkan perekonomian daerah sebanyak 250 juta wisatawan.

Target yang ditetapkan pemerintah hingga tahun 2019, kontribusi pada PDB nasional sebesar delapan persen, devisa Rp 240 triliun dan tenaga kerja 13 juta orang.

Kunjungan wisman ditarget 20 juta wisatawan dan perjalanan wisnus 275 juta wisatawan.

Berdasarkan data dari United Nation World Tourism Organization (UNWTO) kontribusi kunjungan wisman ke negara yang tergabung dalam ASEAN yang sebesar sebesar 93,1 juta wisatawan per tahun, Indonesia hanya kebagian 9,45 persen saja.

Maka, beberapa daerah di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku yang akan dilewati pusat GMT, akan dikelola dengan serius untuk meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia.

Satu studi kasus saat GMT yang terjadi di Australia tahun 2012 lalu.

Fenomena langka ini mendapat perhatian jutaan orang dari seluruh dunia, ribuan turis datang ke Quensland dengan estimasi pemerintah setempat ada sekitar 50 hingga 60 ribu wisatawan.

Tiga pesawat carteran khusus mengangkut 1.200 ilmuwan dari Jepang, enam kapal pesiar dengan ribuan wisatawan berlabuh di perairan Australia.

Sementara 500 orang mengamati gerhana menumpang balon udara panas.

Akomodasi fullbook mulai dari hotel bintang lima hingga tenda-tenda yang disediakan pemerintah setempat.

Untuk menjaring wisatawan pada GMT tahun 2016 ini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI mem-farmtrip-kan seorang astronom Prancis Xavier M Jubier untuk melakukan survei pengamatan GMT di Maluku Utara.

Sumber: Pos Belitung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved