Ikan Asin Rebus Belitung, Tembus Pasar Kalimantan

Wilayah perairan laut Belitung menyimpan kekayaan sumber daya melimpah.

Tayang:
Penulis: Dede Suhendar |
Pos Belitung/Dede Suhendar
Dua orang tengah menjemur ikan rebus asin milik Nasrudin, Minggu (27/12/2015). 

Laporan Wartawan Pos Belitung Dede Suhendar

POSBELITUNG.COM, BELITUNG - Wilayah perairan laut Belitung menyimpan kekayaan sumber daya melimpah. Jika diolah serius, maka akan menghasilkan nilai rupiah.

Ikan asin rebus merupakan salah satu olahan ikan laut yang mampu menembus pasar luar Belitung, seperti Pontianak dan Lampung. Bahkan produk ini memanfaatkan ikan kecil (ruca) seperti Tamban (Lampak), Laisi dan Teri.

Nasrudin seorang warga yang tinggal di Jalan Pak Tahau, Desa Air Saga sudah bergelut di bisnis ini sejak 10 tahun lalu. Pria kelahiran Makasar tersebut paham betul tahap yang harus ditempuh agar menghasilkan ikan asin rebus bermutu.

"Memang pasarannya di daerah Kalimantan. Mereka sangat suka ikan rebus asin, berapa pun kita kirim tetap ada penampungnya,," ujarnya saat ditemui posbelitung.com, Minggu (27/12/2015).

Harga jual ikan rebus asin Lampak dibandrol Rp 27 ribu perkilo, lalu Laisi Rp 25 ribu sedangkan Teri Rp 45 ribu perkilonya.

Ia menambahkan perbandingan susut berat ikan juga harus diperhitungkan. Misalnya 100 kilo Lampak akan menjadi sekitar 30 kilo, sedangkan Teri, akan lebih banyak susut, dari 100 kilo basah menjadi 20 kilo ikan rebus asin.

Ia menjelaskan proses pengolahan ikan rebus dimulai dari perendaman ikan dengan garam kasar. Lalu rendaman tersebut dibiarkan beberapa menit, agar larutan garam meresap ke dalam daging ikan.

Kemudian ikan direbus menggunakan air laut. Kata Nasrudin, ikan akan hancur jika proses perebusan menggunakan air tawar.

"Kuncinya diperebusan, tidak boleh terlalu masak dan juga tidak boleh mentah. Kalau terlalu masak biasanya hancur, tapi kalau mentah ikannya busuk," ungkapnya.

Setelah selesai direbus, ikan ditiriskan di atas penjemuran atau landrang. Butuh lahan yang luas untuk lokasi penjemuran. Apalagi ikan yang diproduksi dalam jumlah besar.

Lalu, jika ikan mulai dingin, dilanjutkan dengan proses penjemuran. Pada saat dijemur, ikan tidak boleh menumpuk, karena akan memprengaruhi tingkat kekeringan.

"Pada penjemuran ini kita harus selalu standby. Karena kalau hujan harus segera ditutup atau diangkat. Resiko ikan busuk lebih besar jika terkena air tawar," ujarnya.

Selang waktu yang dibutuhkan hingga ikan kering, menurut Nasrudin tergantung cuaca. Jika panas terik, butuh waktu sekitar dua hari. Lalu ikan harus segera di packing menggunkan kantong plastik, agar kualitas ikan tidak berkurang.

"Biasanya kirim pakai kapal, gabung dengan yang lain. Karena sekarang sudah banyak yang bisnis ikan rebus," katanya. (N1)

Selengkapnya baca edisi cetak POS BELITUNG Senin (28/12/2015). 

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved