Dua Sisi Dampak Penghentian Operasional Perusahaan Peleburan Timah di Beltim

Plt Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben ) Kabupaten Beltim Harli Agusta melihat dua sisi keputusan PT RBT untuk berhenti beroperasi.

Penulis: Dedi Qurniawan |
Posbelitung.com/Rusmiadi
Lubang bekas tambang timah di wilayah Belitung, dilihat dari atas pesawat 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Dedy Qurniawan

POSBELITUNG.COM, BELITUNG TIMUR - (Plt) Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben ) Kabupaten Beltim Harli Agusta melihat dua sisi keputusan PT RBT untuk berhenti beroperasi.

Pertama, pria yang kerap disapa Kecang itu menilai baik jika pertimbangan penutupan karena komitmen perusahaan menjaga lingkungan.

Namun menurut Harli, pasca adanya kabar ini, PT RBT harus menegaskan status keaktifan perusahaan mereka di daerah kepada pihak-pihak terkait.

"Kalau demi konservasi sih, itu sangat disambut dengan baik. Tapi kejelasan masalah IUP mereka harus benar-benar dibuat dalam pernyataan. Bahwa mereka tidak akan meneruskan produksi di IUP tersebut atau akan dijadikan area konservasi atau diserahkan ke daerah lagi,"ucap Kecang kepada posbelitung.com, Selasa (23/2/2016).

Namun, Kecang mengatakan di sisi lain, penghentian produksi PT RBT di Beltim akan mengakibatkan masalah lain. Satu di antaranya berakibat pada perekonomian masyarakat.

"Pengaruhnya masalah perekonomian masyarakat," katanya.

Kecang menyatakan belum mendapatkan konfirmasi apapun dari smelter (perusahaan peleburan timah) yang beroperasi di Kabupaten Belitung Timur dan berada dibawah bendera PT Refined Bangka Tin (RBT).

Konfirmasi yang dimaksud adalah terkait kabar berhentinya operasional PT RBT di Bangka Belitung.

PT Refined Bangka Tin diketahui memiliki smelter di wilayah Kabupaten Beltim. Menurut sepengetahun Harli pula, smelter tersebut masih produktif dan juga memiliki sejumlah luasan IUP di Beltim.

Kabar penghentian operasionalisasi PT RBT ini disampaikan langsung oleh bos Artha Graha Network Tomy Winata melalui rilis yang diberitakan Kantor Berita Antara dan dikutip bangkapos.com.

Alasan berhentinya operasionalisasi PT RBT di Babel adalah komitmen perusahaan untuk menjaga lingkungan.

Alasan lainnya adalah perusahaan mendukung kebijakan pemerintah dan Presiden Jokowi kepada Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk perubahan iklim (UNFCCC).

"Ini yang bisa saya sampaikan :RBT adalah bagian dari Artha Graha Network. Beberapa kali, laporan audit menyatakan bahwa tingkat ramah lingkungan disana tidak mencapai apa yang saya harapkan," kata Tomy sebagaimana dikutip bangkapos.com, Selasa (23/2/2016).

Sumber: Pos Belitung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved