Februari Sampai 29 Hari di Tahun Kabisat, Inilah Rahasia dan Sejarah Tahun Kabisat

Tahun kabisat adalah upaya manusia menyelaraskan waktu dengan perputaran bumi dan banyak hari istimewa maupun sejarah di tahun kabisat.

Februari Sampai 29 Hari di Tahun Kabisat, Inilah Rahasia dan Sejarah Tahun Kabisat
net
Ilustrasi jam 

POSBELITUNG.COM - Tahun kabisat adalah upaya manusia menyelaraskan waktu dengan perputaran bumi dan banyak hari istimewa maupun sejarah di tahun kabisat.

Seperti dikutip dari wikipedia.org, menyebutkan tanggal 29 Februari adalah hari ekstra yang ditambahkan pada akhir bulan Februari pada setiap tahun kabisat, yang merupakan hari ke-60 pada tahun kabisat dalam kalender Gregorian.

Tanggal ini hanya ada pada tahun yang angkanya habis dibagi 4 seperti 1972, 1976, 1980, 1984, 1988, 1992, 1996, 2000, 2004, 2008, 2012, 2016 serta pada tahun abad (kelipatan 100) yang angkanya habis dibagi 400 seperti 1600 dan 2000.

Tahun 1800 dan 1900 bukan tahun kabisat karena walaupun angkanya habis dibagi 4 namun merupakan tahun abad yang tidak habis dibagi 400.

Sebuah hukum di Inggris tahun 1256 menghitung tanggal 29 Februari (leap day) dan 28 Februari sebagai satu hari. Sehingga orang yang lahir di tanggal 29 Februari di Inggris dan Wales secara legal mencapai umur 18 atau 21 tahun pada tanggal 28 Februari.

Rahasia dan sejarah yang terjadi di tahun kabisat, hingga membuat bulan Februari mendapat kehormatan, seperti dikutip dari dw.com diantaranya meliputi

Orbit Bumi
Sistem penanggalan Syamsiah mengandalkan orbit Bumi terhadap Matahari sebagai acuan waktu. Namun karena Bumi membutuhkan 365 hari 5 jam 48 menit 45 detik untuk memutari bintang induknya, maka setiap empat tahun penanggalan Syamsiah akan kekuarang satu hari penuh. Sebab itulah dibuat tahun Kabisat untuk menyesuaikan dengan perputaran Bumi.


Mesir Kuno
Hari tambahan pada kalender tahunan pertama kali diperkenalkan oleh kebudayaan Mesir kuno. Pada tahun 238 sebelum Masehi, Ptolemaios II memerintahkan penambahan hari setiap empat tahun sekali untuk menghindari pergeseran musim. Namun petani Mesir menolak perubahan tersebut karena mereka telah terbiasa mengacu pada musim tani sebagai sistem penanggalan.

Halaman
12
Editor: rusmiadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved