Abu Sayyaf Berencana Menculik Petinju Manny Pacquiao

Kelompok Abu Sayyaf berencana menculik dan membunuh petinju asal negeri itu, Manny Packquiao.

gettyimages.ie
Manny Pacquiao 

POSBELITUNG.COM, MANILA - Presiden Filipina Benigno Aquino III , Rabu lalu mengatakan kelompok Abu Sayyaf berencana menculik dan membunuh petinju asal negeri itu, Manny Packquiao.

Sosok Manny Packquia, yang akrab dipanggil Packman, dikenal di Indonesia karena menjadi bintang iklan sebuah perusahaan jamu.

"Mereka diduga merencanakan aksi penculikan terhadap Manny Pacquiao atau anaknya. Begitu juga ada rencana melakukan aksi serupa terhadap adik saya, Kris, atau seorang di antara anak-anaknya," kata Aquino.

Menurutnya, kalau rencana itu berhasil, korban penculikan akan dipakai sebagai alat tawar menawar untuk pembebasan pimpinan kelompok Abu Sayyaf yang ditangkap militer Filipina. Adik kandung Presiden Aquino adalah seorang aktris terkenal.

Ia juga menyatakan Abu Sayyaf berniat meledakkan bom di Manila untuk mendapatkan pasokan dana dari kelompok ISIS di Timur Tengah. Namun rencana itu dapat digagalkan oleh militer Filipina.

Aquino menolak melakukan dialog dengan kelompok Abu Sayyaf.

"Kami selalu percaya terhadap kekuatan dialog dan keterlibatan positif tanpa senjata. Namun mereka memilih jalan kekerasan sehingga kami hanya bicara dengan mereka (kelompok Abu Sayyaf) menggunakan cara serupa," kata Aquino.

Dalam kesempatan itu Presiden Filipina mengungkapkan dirinya telah berkirim surat kepada keluaga John Ridsdel, untuk menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya.

Ridsdel diekskusi kelompok Abu Sayyaf Senin (25/4/2016) lalu karena pihak keluarga tidak memberikan yang tebusan 300 juta peso.

Penggal Kepala 

Pemenggalan kepala terhadap sandera asal Kanada, John Ridsdel, membuat militer Filipina meningkatkan operasi militer untuk menekan kelompok militan Abu Sayyaf.

Namun peningkatan operasi militer itu membuat sandera lain menjadi semakin ketakutan.

Wong Chie Ming, ayah sandera bernama Wong Teck Chi asal Malaysia, mengatakan sang anak menghubunginya pada Sabtu (23/4/2016) lalu.

Dikutip dari The Iquirer, Kamis (28/4/2016), Wong Teck Chi mengatakan dirinya dan sandera lain dalam situasi bahaya.

Mereka terus dipaksa berpindah-pindah tempat oleh kelompok penyandera, di tengah bombardemen yang dilakukan pasukan pemerintah menggunakan pesawat militer.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved