Ini Nuansa Magis dalam Tradisi Perang Ketupat di Tempilang Bangka Barat
Di tengah asap dupa yang terus mengepul, dua orang pemuda berpakaian pencak silat kemudian melakukan tarian Kedidi menggunakan golok dan tembung
Prosesi Perang Ketupat selanjutnya ditutup dengan menghayutkan miniatur perahu layar di laut Tempilang.
Tradisi perang ketupat yang digelar Minggu (29/5/2016) ini sendiri merupakan puncak acara sedekah ruah di empat desa di kecamatan Tempilang.
Untuk sedekah ruwah sendiri sudah dilakukan tanggal 15 Syakban lalu.
"Selesai perang ketupat ada hiburan selama dua hari di lapangan bola Tempilang dan besok di lokasi perang ketupat yang mendatangkan artis ibukota," ungkap Ketua RT Air lintang Muharidin.
Pada puncak acara sedekah Ruwah di Tempilang, Minggu (29/5/2016) ribuan warga dari pelosok pulau Bangka tampak terus berdatangan hingga siang hari ke Tempilang.
Kendati pihak kepolisian sudah memberlakukan jalan satu arah, kemacetan panjang tetap saja terjadi.
Sementara rumah-rumah penduduk di Tempilang tampak terbuka lebar lengkap dengan penganan khas lebaran guna menyambut tamu yang datang bertamu.
Kearifan Lokal Yang Harus Lestari
Bupati Bangka Barat Parhan Ali dalam sambutannya mengatakan tradisi Ruwahan Tempilang yang dikenal dengan Perang Ketupat adalah warisan tradisi yang dilakukan turun temurun.
"Kita harapkan muda mudinya agar dijaga budaya ini agar tidak hilang ditelan zaman. Perang ketupat merupakan kearifan lokal yang harus kita lestarikan untuk mendukung wisata Babar. Pariwisata merupakan unggulan dalam visi dan misi Babar," papar Parhan.
Ia berharap tradisi Perang Ketupat sebagai wisata budaya diharapkan akan mendatangkan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Pasalnya saat ini bukan hanya dikenal di Babel saja tapi secara nasional dan sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh kementrian pendidikan dan pariwisata pada tahun 2015 lalu.
"Tradisi ini pada tahun 2015 lalu sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda," ungkapnya.
Sementara Gubernur Babel Rustam Effendi mengatakan tradisi budaya seperti Perang Ketupat inilah yang senantiasa harus dilestarikan karena keunikannya tidak ada di daerah lain.
"Apa yang sudah kita miliki aset yang sudah kita punya supaya di lestarikan. Di tengah arus informasi membuat orang lupa akan budaya sendiri. Jangan sampai budaya kita tergerus dengan budaya asing yang merugikan kita. Daerah kita sedang menjadi perhatian dunia dengan keindahan alam budaya dan seninya," ungkap Rustam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/belitung/foto/bank/originals/tradisi-perang-ketupat_20160530_094142.jpg)